SURAT GEMBALA Surat Gembala
ALFA dan OMEGA
02 December 2018

Saudaraku,

Ucapan Tuhan bahwa Dia yang awal dan akhir dalam teks aslinya secara hurufiah menggunakan huruf awal dan akhir abjad Yunani klasik (arkhe dan telos). Kemudian ditegaskan bahwa Ia adalah yang awal dan yang akhir, pengulangan di Wahyu 1:8. Apa artinya? Maksudnya bisa 2 kemungkinan, yaitu:
Pertama, dengan perkataan itu Tuhan Yesus hendak menegaskan bahwa Ia adalah Penguasa langit dan bumi. Ia berkuasa atas sejarah dunia, oleh sebab itu Ia berkuasa mendatangkan pembaharuan (Why. 1:8 Ia Mahakuasa). Dalam Wahyu 21:5 Ia berkata: Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru. Tentu “baru” di sini baru yang positif, baru yang lebih baik. Bila kita mengamati kisah-kisah Natal, dapat kita temukan bahwa setiap individu yang berjumpa dengan Yesus pasti mengalami pembaharuan. Inilah berkat Natal itu. Gembala di Efrata yang menjumpai bayi Yesus memperoleh sukacita (Luk. 2:20, mereka bersukacita). Orang Majus dari Timur setelah berjumpa dengan Yesus mereka memilih jalan lain.

“Jalan lain” ini memang harafiah, tetapi di balik yang harafiah ini ada fakta rohani dimana mereka tidak lagi mendengar suara Herodes dan kompromi. Mereka tidak lagi melihat bintang sebagai tanda dan petunjuk kehidupan, tetapi mereka dapat menemukan suatu akses berkomunikasi dengan Allah yang hidup. Benar apa yang dikatakan oleh Paulus dalam 2 Korintus 5:17, di dalam Dia menjadi ciptaan yang baru. Pembaharuan diawali dalam hidup individu atau pribadi, selanjutnya pembaruan secara fisik akan terjadi pada waktu kedatangan-Nya yang kedua nanti (Why. 1:8). Berbahagialah orang yang telah mengalami pembaharuan, maka ia akan memperoleh kemuliaan bersama dengan Dia. Ia yang berjanji setia, tidak akan berubah.

Saudaraku,

Kedua, dengan perkataan tersebut (bahwa Ia adalah yang awal dan yang akhir, Alfa dan Omega) Tuhan menunjukkan bahwa Ia adalah sumber dan tujuan kehidupan. Dalam Wahyu 21:6, Ia berkata: Bahwa Ia adalah Mata Air Kehidupan. Itulah sebabnya Yesus berkata: Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku (Yoh. 7:37). Di palungan hina itulah manusia menemukan sumber dan tujuan kehidupan. Jadi jika seseorang telah bertemu dengan Juruselamat, maka hidupnya pasti berbeda, pasti berubah. Ini terjadi dalam kehidupan orang yang sungguh-sungguh menerima dan menyambut berkat Natal dengan benar. Mengapa dikatakan demikian? Sebab ternyata banyak orang yang tidak menyambut berkat Natal dengan benar. Perhatikan apa yang dikatakan para Malaikat di Lukas 2:14, manusia yang berkenan kepada-Nya. Tidak semua orang berkenan kepada-Nya. Tentu tidak kebetulan kalau ternyata dari banyak kelompok dan pihak yang mendengar berita Natal hanya sekelompok kecil yang bertemu Mesias. Sementara para ahli Taurat yang menunjuk kota Bethlehem sebagai kota kelahiran Mesias, semua penduduk Yerusalem yang gempar, Herodes dan semua isi istana, mereka tidak bertemu dengan Sang Bayi. Kita harus memperhatikan berbagai ciri khusus atau karakter kelompok yang menerima berkat natal, yaitu gembala dan orang Majus.

Sikap yang harus dimiliki adalah merasa sungguh-sungguh membutuhkan-Nya. Di dalam Lukas 2:15-16 dikatakan bahwa begitu Malaikat memberikan berita, mereka lantas cepat-cepat menuju Bethlehem. Mereka menuju Bethlehem karena Bayi itu, bukan motif lain. Orang Majus memiliki komitmen yang kuat untuk bertemu dengan bayi Yesus. Memahami benar bahwa bintang itu menunjuk Raja orang Yahudi yang lahir, mereka membayar biaya perjalanan dengan menempuh bahaya perjalanan, tetap tidak tersandung oleh sikap Herodes; ahli Taurat dan penduduk Yerusalem, tetap menyembah anak itu sekalipun anak itu secara lahiriah tidak menunjukkan atribut seorang Raja.