SURAT GEMBALA Surat Gembala
AKHIRNYA ADALAH KEMENANGAN
25 November 2018

Saudaraku,
Di dunia yang sudah rusak dan bumi yang terkutuk ini manusia yang hidup di dalamnya akan selalu diperhadapkan dengan kesukaran-kesukaran. Kesukaran hidup manusia bisa berasal dari diri sendiri atau orang lain. Kesukaran yang dosebabkan oleh diri sendiri yaitu kesukaran hidup karena kesalahan kita. Kesukaran yang disebabkan karena orang lain yaitu karena kejahatan orang lain terhadap kita, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keduanya merupakan kesukaran yang harus ditanggulangi dan pada umumnya kita mengharapkan penyelesaian dengan segera. Setiap kita pasti mengalami persoalan-persoalan yang membuat hidup terasa sukar. Pada saaat seperti itu kita menantikan pertolongan Tuhan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita menunggu dan mengalami pertolongan Tuhan.

Dalam Alkitab kita dapat menemukan seringkali Tuhan berkata: Jangan takut. Kata ini merupakan jaminan bagi kita, bahwa Tuhan: (1). Membela kita (2). Di pihak kita (3). Tuhan menyertai kita. Ini adalah jaminan yang dapat dipercayai. Dengan demikian seharusnya kita dapat menikmati hidup dengan keteduhan dan ketenangan. Dalam hal ini kita dapat memahami mengapa Paulus berkata: Bersukacitalah kamu senantiasa. Perintah untuk bersukacita senantiasa memberi indikasi bahwa dalam segala keadaan kita mampu menjaga hati untuk tidak menjadi cemas. Namun kenyataan yang kita hadapi adalah ketakutan dan kecemasan disebabkan oleh berbagai masalah hidup yang tidak kita temukan jalan keluarnya. Kadang kita menjadi lemah dan putus asa. Untuk ini kita belajar bagaimana menunggu waktu Tuhan dan mengalami pertolongan-Nya.

Saudaraku,
Ada beberapa sikap hati yang harus kita miliki:
Pertama, berani menunggu waktu Tuhan. “Menunggu” merupakan pekerjaan yang sulit, yaitu menunggu lolos dari sebuah persoalan hidup. Pada umumnya kita memiliki kecenderungan mendesak Tuhan untuk “segera menolong”. Godaan untuk mendesak atau kadang memaksa Tuhan ini hampir dimiliki setiap orang. Tetapi sebagai orang percaya yang berpikir dewasa kita harus percaya bahwa Tuhan memiliki “waktu” atau saat bertindak. Di sini dibutuhkan keberanian atau kadang digunakan kata “kesabaran” menunggu waktu Tuhan. Menunggu waktu Tuhan merupakan pergumulan latihan untuk percaya. Bahwa Tuhan adalah Tuhan yang tepat waktu. Kesalahan Saul sehingga ia ditolak menjadi raja adalah karena ia tidak berani menunggu waktu Tuhan menolongnya (1Sam 13:8).

Menunggu waktu Tuhan adalah sebuah “seni iman”. Dalam Ratapan 3:22-26 ditegaskan bahwa Tuhan memiliki kasih setiap hari yang tidak berkesudahan. Kita harus belajar dengan diam menanti pertolongan Tuhan (to wait quietly). Sementara dalam persoalan kita tidak gelisah seolah-olah persoalan tersebut akan membinasakan kita. Kita harus percaya pertolongan Tuhan datang pada waktunya. Seni menunggu pertolongan Tuhan ini juga dimiliki Pemazmur dalam kesaksiannya dalam Mazmur 73:21-24. Pada akhirnya Tuhan pasti memberi pertolongan, walaupun keadaan kita anggap sudah tidak tertolong (Yoh 11:1-6; 17-21; 32). Kalau saudara menantikan pertolongan Tuhan pasti tidak akan dipermalukan (Mzm. 25:3).

Saudaraku,
Kedua, dalam hal ini kita harus menaruh pertolongan hanya dari Tuhan. Kalaupun Tuhan membuka jalan, maka bukan sarana itu itu sumbernya. Sumbernya adalah Tuhan. Dalam hal ini jangan mempertimbangkan sesuatu sebagai sumber pertolongan (Mzm. 124:8). Walaupun di depan mata kita ada orang-orang tertentu yang kita anggap sebagai sumber, kita harus memandang Tuhan dan menganggap hanya Tuhan sumber pertolongan kita. Menaruh harapan hanya kepada Tuhan merupakan rahasia melihat pertolongan Tuhan (Rat. 4:17). Dengan pertolongan yang datang dari Tuhan, Bapa hendak memperkenalkan Diri-Nya kepada umat agar terbangun keintiman.

Ketiga, percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang sangat peduli terhadap kita. Kepedulian ini lebih dari kepedulian seorang ibu terhadap anak bayinya (Yes. 49:14-15). Kasih seorang ibu yang demikian kepada anaknya sukar dipahami sebenarnya, apalagi kasih Bapa kepada kita. Oleh sebab itu kita harus berani menguatkan percaya kita ini bahwa Tuhan itu baik. Kalau kita merasa jauh dari Tuhan dan tidak melihat uluran tangan-Nya, pasti ada sesuatu yang salah. Hal paling dominan yang membuat kita tidak mengalami pertolongan Tuhan adalah karena dosa kita (Yes. 59). Oleh sebab itu kalau kita hendak mengalami pertolongan Tuhan, kita harus mau berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Salam dan doa,
Erastus Sabdono