SURAT GEMBALA Surat Gembala
AIR MATA DI KIRBAT TUHAN
04 November 2018

Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (Mzm. 56:9).

Saudaraku,
Apa yang Tuhan ajarkan kepada kita melalui ayat Firman Tuhan tersebut? Pelajaran pertama, Tuhan memedulikan kita. Kalimat “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung” maksudnya adalah bahwa Tuhan turut merasakan apa yang kita alami. Dalam terjemahan bahasa lain diterjemahkan: You know how trouble I am. Adalah salah kalau kita beranggapan Tuhan tidak memedulikan kita. Ia sungguh mau merasakan apa yang kita rasakan. Dalam New International Version dikatakan: record my lament. Dalam surat Petrus, Tuhan berkata bahwa Ia memedulikan kita (1Ptr. 5:7).

Cara kita berdoa menunjukkan sedalam apa kepercayaan kita kepada-Nya. Jangan seperti murid-murid Tuhan yang dengan kasar berkata: Tuhan tidak pedulikah kalau kita binasa? (Mrk. 4:38). Tuhan tidak akan membiarkan kita binasa. Tuhan Yesus menjadi manusia agar Ia turut merasakan apa yang kita rasakan, sehingga Ia dapat mengerti keadaan kita dengan sempurna.

Pelajaran kedua yang Tuhan mau ajarkan adalah bahwa Tuhan mencatat kesusahan kita. Kalimat “air mataku Kau taruh dalam kirbat-Mu” dalam Alkitab lain tertulis: You have kept a record; sedangkan dalam terjemahan Alkitab New International Version: List my tears on your scroll. Tuhan mencatat kepedihan kita dalam buku, sama dengan dalam kirbat (tempat menyimpan minum). Tuhan memiliki kirbat, yang dalam terjemahan bahasa lain diterjemahkan sebagai “catatan”. Apa sebenarnya yang dimaksud di sini?

Saudaraku,
Kita harus memahami bahwa Mazmur 56 mengungkapkan doa dan seruan Daud tatkala ia berada dalam pelarian. Ia tidak lagi memiliki tempat berpijak. Di negara sendiri diburu oleh Saul, di negara musuh diburu oleh musuh. Syair ini berisi doa Daud tatkala ia ditangkap di Gat. Daud mengalami penderitaan itu bukan karena kesalahannya sendiri, tetapi karena pengorbanannya bagi Kerajaan Yahweh. Sejak Daud mempertaruhkan diri melawan Goliat dan menaklukkannya, ia dimusuhi Saul. Seharusnya Saul berterima kasih, tetapi balasannya adalah sebaliknya, yaitu berupa ancaman maut bagi Daud. Tetapi Daud menerima sengsara tersebut sebagai pengabdiannya kepada Tuhan. Jadi sengsara Daud bukan karena kesalahannya. Air matanya bukanlah air mata buaya atau air mata yang mengalir dari kesalahannya sendiri.

Sejatinya, telah banyak air mata yang tertumpah bukan karena Tuhan dan untuk Tuhan, tetapi untuk dunia. Sekarang saatnya kita menumpahkan air mata bagi Tuhan. Sengsara seperti inilah yang dicatat oleh Tuhan. Air mata seperti inilah yang disimpan di kirbat Tuhan. Inilah air mata yang berharga di hadapan Tuhan. Orang-orang yang berlelah bagi Tuhan ini akan menerima penghargaan dan kemuliian dari Tuhan. Perlu dipertanyakan: apakah kita memiliki air mata yang tersimpan di kirbat Tuhan? Penderitaan seperti ini adalah karunia (Flp. 1:29; 1Ptr. 2:20).

Saudaraku,
Hendaknya kita bersama-sama dengan Tuhan -bukan hanya untuk menikmati kuasa dan mukjizat-Nya semata-mata- tetapi juga turut menikmati penderitaan bagi kepentingan Kerajaan Bapa. Inilah yang diingini Paulus, bahwa ia mau serupa dengan Tuhan dalam penderitaan-Nya (Flp. 3:10). Orang yang berlelah bagi Tuhan akan memperoleh penghiburan abadi. Maka Tuhan berkata: Berhentilah dari kelelahanmu (Why. 14:13). Kita telah banyak berlelah untuk dunia, tetapi kita tidak berlelah untuk Tuhan. Saatnya sekarang kita berlelah bagi Tuhan. Menumpahkan peluh dan air mata kita bagi kepentingan Tuhan.

Dalam suratnya Paulus berkata bahwa telah tersedia baginya mahkota kehidupan (2Tim. 4:6-8). Kalau kita mau minum cawan yang juga diminum oleh Tuhan, kita pasti akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Mrk. 10:39). Ingat, tidak ada kemulian tanpa cawan penderitaan, no gain without pain, no crown without cross. Dalam kitab Roma tertulis bahwa kita yang menderita bersama-sama dengan Tuhan juga dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan pula (Rm. 8:17).

Salam dan doa,
Erastus Sabdono