SURAT GEMBALA Surat Gembala
Agenda Hidup
03 November 2019

Saudaraku,

Kekristenan yang sejati sebenarnya sudah sulit mendapatkan tempat di dunia kita hari ini. Semakin belajar dan mengerti kebenaran yang murni, kita akan menemukan hal ini, yaitu bahwa Kekristenan yang sejati nyaris tidak memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern.

Di Injil Lukas 14:25-33, Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang yang berduyun-duyun mengikut Dia. Hal itu dikemukakan oleh Tuhan Yesus untuk menunjukkan betapa sukarnya mengikut Yesus. Kemudian ditutup dengan pernyataan di ayat 33 “Barangsiapa mengikut Aku, ia harus melepaskan dirinya dari segala miliknya. Orang yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Kekristenan yang dikenakan sebagian besar orang Kristen, sebenarnya bukan atau belum standar Kekristenan yang sejati.

Berani mengikut Tuhan Yesus berarti harus hanya memiliki satu agenda hidup; dan agenda itu adalah menjadi anak-anak Allah. Kita mungkin merasa sudah menjadi anak-anak Allah. Tapi apa bukti/ciri bahwa kita adalah anak-anak Allah? Anak-anak Allah itu bukan hanya sebutan, tetapi harus menjadi keberadaan, dan itu sukar sekali. Sebab Tuhan berkata, “banyak orang yang berusaha, tapi tidak masuk”. Jelas Tuhan mengatakan, “ini jalan sempit; banyak yang dipanggil, sedikit yang terpilih”. Menjadi anak-anak Allah itu berarti berkeberadaan seperti Allah, Bapanya.

Bagi orang-orang yang mau menjadi anak-anak Allah, Petrus menuliskannya dalam 1 Petrus 1:16-18, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Jika kamu memanggil Allah sebagai Bapa, Dia yang tidak memandang muka menghakimi setiap orang berdasarkan perbuatannya. Hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia. Karena kamu telah dibeli dari cara hidupmu yang sia-sia”.

Saudaraku,

Tentu keberadaan seseorang sebagai anak Allah akan sangat dapat ditangkap melalui setiap kata yang diucapkan, setiap goresan pesan yang ditulisnya, setiap kata dan gambar yang dimasukkannya di medsos, reaksinya ketika menghadapi fitnahan dlsb. Hal-hal tersebut jelas menunjukkan, orang ini anak Allah atau anak dunia.

Jadi kalau Saudara tidak mau mengikuti standar yang Tuhan Yesus tunjukkan, Saudara bukan orang Kristen yang sejati, tapi Kristen palsu. Semua kegiatan hidup kita bukanlah tujuan, tapi sarana bagaimana kita berkeberadaan dan bertumbuh menjadi anak-anak Allah. Model atau contoh dari Anak Allah yang sempurna adalah Yesus, Tuhan kita. Maka Tuhan mengatakan di Injil Matius 7:21-23, “Bukan orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan… Tuhan…’ yang akan masuk Kerajaan Surga, tapi yang melakukan kehendak Bapa”, artinya yang hidup seperti Yesus; yang melakukan kehendak Bapa.

Sejatinya, yang harus menjadi satu-satunya agenda dalam mengisi dan memaknai hidup ini adalah berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Jadi jangan mengisi dan memaknai hidup Saudara dengan hal-hal yang bersifat fana. Tentu kita harus sekolah, kuliah, berumah tangga, berkarir, dst. Tapi semua itu bukan tujuan, semua itu hanyalah sarana guna mencapai tujuan satu-satunya tersebut.

Namun, pikiran sesat manusia pada umumnya menjadikan itu sebagai tujuan. Bahkan berurusan dengan Tuhan pun hanya untuk mendapatkan berkat dalam urusan duniawi tersebut. Maka Gereja harus menjadi ladang perjuangan untuk mengubah manusia; dari manusia berdosa menjadi manusia yang berkualifikasi sebagai anak-anak Allah.

Sekarang kita sudah harus mulai siuman, bahwa ternyata Kekristenan yang kita warisi hanya sebuah tradisi gereja. Hidup sewajarnya seperti orang lain hidup, hari Minggu ke gereja, tetapi kualitas hidup kita belum berkualitas anak-anak Allah yang contoh teladannya adalah Yesus. Dan kita tidak memperkarakannya dengan serius. Padahal, itu yang menghambat kedewasaan kita. Maka firman Tuhan mengatakan, “tanggalkan beban dan dosa yang begitu merintangi kita untuk masuk perlombaan” (Ibr. 12). Jadi yang menghambat kita mencapai kekudusan adalah beban dan dosa. Beban artinya kesenangan-kesenangan hidup, apa pun bentuk dan sarananya. Dosa adalah kesenangan-kesenangan dalam daging yang tidak sesuai dengan kesucian Allah.

Saudaraku,

Sekarang kita mengerti kebenaran bahwa kita ditebus oleh Tuhan Yesus menjadi milik-Nya, hidup untuk satu agenda; bagaimana kita menjadi anak-anak Allah yang menyenangkan hati-Nya. Dan jika proses ini berlangsung, nanti kita pasti mengambil bagian untuk menolong orang lain dalam mengalami proses yang sama, supaya mengalami perubahan seperti yang kita alami.

Saudara masih berkesempatan berubah, masih bisa. Jangan sampai sudah di ujung maut, dengan usia yang suntuk masih tidak mau mengerti bahwa akan mati; sementara itu keadaannya belum seperti yang Allah kehendaki. Namun, kalau kita hidup hari ini, jangan berpikir seakan-akan kita masih punya waktu panjang untuk berubah. Kita harus berpikir seakan-akan kita sudah ada di depan kematian. Jangan terganjal oleh beban; keterikatan dengan dunia. Kita masih bisa menikmati hidup, tetapi kita tidak akan terikat dengan perkara-perkara dunia dan dosa.

Kita bisa berkenan di hadapan Allah setiap saat. Kalau kita masih salah, mari sadari dan akui, lalu minta ampun. Tetapi permintaan ampun kita itu harus merupakan komitmen tidak melakukan lagi. Jadi kalau kita minta ampun kepada Tuhan, kita bukan hanya fokus kepada kesalahan itu saja, tapi fokus pada potensi yang masih ada, yang memungkinkan kita berbuat dosa; kita akui keadaan itu dan jangan beri kesempatan untuk berbuat dosa lagi. Kita mempunyai kemampuan, sebab Tuhan tidak mungkin memberi cobaan yang melampaui kekuatan kita.

Kekristenan tidak lagi hanya menjadi bagian hidup kita, tetapi seluruh hidup kita. Dunia kita semakin tidak jelas; apa yang mau kita harapkan dari dunia ini? Kita jalani saja kehidupan untuk mempersiapkan diri masuk kehidupan yang akan datang. Kita harus punya komitmen untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela. Tidak mungkin Tuhan menempatkan kita di keadaan tidak berkenan. Tuhan pasti memberikan kita keadaan di mana kita bisa berkenan. Tuhan pasti menunjukkan bagian-bagian mana dalam hidup kita yang salah dan harus diperbaiki. Tidak mungkin Tuhan menyembunyikan kesalahan kita. Jadi perjuangan hidup kita tiap hari, yang harus kita pandang paling sukar dan utamakan adalah mengalami perubahan kodrat.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono