SURAT GEMBALA Surat Gembala
Agen Iblis
28 October 2018

Saudaraku,
Hamba-hamba Tuhan yang terjebak dalam fenomena alam roh yang salah akan memberikan doktrin-doktrin atau pengajaran wahyu dari alam roh kepada jemaat yang menganggap bahwa segala sesuatu yang supranatural pasti berasal dari Tuhan. Sehingga terjadi percampuran antara pendapat pribadi dan pengajaran roh-roh jahat. Akibat dari penyesatan ini dapat dijelaskan sebagai berikut, hal ini juga menunjukkan ciri-ciri penyesatan yang ada:

Pertama, fungsi pikiran atau rasio kurang diperhatikan, bahkan diabaikan sama sekali. Pikiran dianggap ancaman terhadap wahyu Tuhan atau kebenaran Tuhan. Pikiran kadang dianggap sebagai alat Iblis untuk membodohi anak Tuhan yang harus menerima segala sesuatu dengan “percaya saja”. Dalam hal ini pengertian “percaya saja” harus dijelaskan secara benar. Percaya kepada Tuhan bukan berarti mengabaikan pikiran manusia.

Biasanya kelompok ini anti Sekolah Tinggi Teologi. Tetapi setelah disadari bahwa gelar dapat membangkitkan kepercayaan jemaat, maka banyak orang yang tadinya anti STT, sekarang mencari gelar tersebut. Tidak sedikit mereka yang mendapat gelar dari perguruan tinggi yang tidak bermutu. Ada pula yang mendapat gelar sarjana teologia “setengah membeli”, artinya asal-asalan belajar lalu diwisuda. Oleh karena dasar nalarnya tidak teguh, maka mereka masih saja berpikir mistis dengan subyektivitas yang tinggi, walaupun menyandang gelar kesarjanaan teologi. Dari hal ini nampak ketidakjujuran mereka.

Kedua, hati nurani menjadi tidak dewasa sebab tidak mendengar kebenaran Firman Tuhan yang murni. Orang yang hati nuraninya tidak dewasa, akal sehatnya menjadi rusak. Akal sehatnya digantikan dengan slogan “percaya saja”. Oleh karena pikiran sehatnya tidak difungsikan, maka ia tidak mampu lagi mengenali apakah seorang hamba Tuhan benar-benar hamba Tuhan atau hamba setan. Kekaguman terhadap fenomena “ajaib” yang dilakukan seorang “tokoh” telah membutakan mata banyak orang sehingga tidak mengenali “sang tokoh” yang sebenarnya agen Iblis. Jemaat mengagumi “sang tokoh” bagai Allah sendiri, menggantungkan hidup dan persoalannya kepadanya. Sebagai akibatnya pula, jemaat tidak bertumbuh dewasa dan tidak mampu berhubungan atau berperkara dengan Tuhan secara pribadi. Sebagai contoh adalah pengikut-pengikut David Koresh. Mereka begitu setia kepada David Koresh walau tokoh ini dalam berbagai tindakannya melanggar prinsip kasih yang diajarkan Alkitab. Hati-hati dengan David Koresh lainnya.

Ketiga, oleh sebab peran pikiran diabaikan maka mereka tidak melakukan “analisa teks Alkitab secara bertanggung jawab”. Memang ayat-ayat Alkitab dikutip dan dijalin sambung menyambung seolah-olah saling mendukung dan melengkapi, tetapi sebenarnya hal itu dilakukan hanya untuk mendukung idenya, bukan kebenaran Allah. Jangan lupa bahwa untuk menjatuhkan Tuhan Yesus, Iblis juga mengutip ayat Alkitab. Ayat-ayat dipakai menyimpang dari konteksnya atau terlepas dari konteksnya. Tentu aspek historis, latar belakang, teks asli atau bahasa asli tidak perlu mereka pertimbangkan atau perhatikan. Teologia atau pengajaran semacam itu hanyalah “omong kosong” yang kalau dianalisa -atau mereka harus mempertanggungjawabkan secara teologis dengan melakukan diskusi- maka mereka tidak akan bisa mempertanggungjawabkannya.

Dalam khotbah monolog tidak membuka peluang jemaat bertanya, sehingga penyesatan terselubung aman terpelihara dari waktu ke waktu. Sisi lain jemaat yang tidak dilengkapi dengan kebenaran Alkitab, yaitu mereka yang pengetahuannya tentang ajaran Alkitab terbatas, menjadi mangsa dan terperangkap ke dalam jaring penyesatan.

Saudaraku,
Oleh sebab itu langkah yang harus dimiliki jemaat sebagai upaya terhindar dari penyesatan adalah: Pertama, tidak mudah menerima sesuatu yang diajarkan oleh seseorang. Harus senantiasa mewaspadai adanya pemalsuan pekerjaan Allah dan segala tipuannya yang sangat cerdik. Kedua, membiasakan aktif menggunakan pikiran yang sehat oleh pimpinan Roh Kudus untuk membedakan Roh. Pikiran yang bekerja dengan normal merupakan potensi untuk bisa bekerja sama dengan Roh Tuhan guna mampu membedakan roh. Untuk mencerdaskan roh dan hati nurani maka seseorang perlu belajar Firman Tuhan dengan benar. Ketiga, terus menerus dengan tekun belajar kebenaran Firman Tuhan untuk mampu membedakan pengajaran yang benar dan yang salah. Sehingga memiliki kecerdasan roh.