SURAT GEMBALA Surat Gembala
07 October 2018

Saudaraku,
Kalau kita memiliki hati yang jujur dan tulus, kita dapat menangkap kesederhanaan penulis Injil dalam melukiskan apa yang mereka pernah lihat, dengar dan alami sendiri. Injil akan menjadi tulisan sangat sederhana yang tidak bermakna jika dibaca tanpa pimpinan Roh Kudus dan tanpa hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Kita harus menerima setiap pernyataan Tuhan Yesus seharafiah mungkin, demi menangkap makna orisinal dari pernyataan Tuhan tersebut. Seharifiah mungkin bukan berarti selalu harafiah tanpa mempertimbangkan konteks tulisan. Setiap pernyataan Tuhan harus dikaitkan dengan situasi hidup masyarakat Israel pada waktu itu. Dengan demikian kita juga dapat menangkap betapa radikalnya ajaran Tuhan Yesus terhadap Yudaisme yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan bertolak belakang dengan pola hidup bangsa-bangsa kafir di luar Israel pada waktu itu.

Menghadapi agama Yahudi atau Yudaisme serta dunia sekuler di luar Yudaisme pada waktu itu, apa yang diajarkan Tuhan Yesus seperti pelanduk melawan singa; seperti pancuran air kecil melawan jeram besar. Tetapi faktanya sungguh ajaib, pada akhirnya apa yang diajarkan Tuhan Yesus tidak mati, bahkan berubah menjadi jeram besar yang bisa melampaui agama Yahudi dan dunia kekafiran. Sebagai buahnya, lahir orang-orang hebat pada zamannya yang menampilkan kehidupan yang menjadi surat yang terbuka. Merekalah sesungguhnya yang pantas disebut Kristen, karena hidup mereka seperti Kristus, Gurunya.

Saudaraku,
Betapa murahnya sebutan Kristen hari ini, sebab semua orang yang pergi ke gereja, berani menyandang kata Kristen dengan mudahnya. Kemegahan Injil telah digantikan dengan ajaran Injil yang kelihatannya eksklusif tetapi telah kehilangan nafas atau jiwa Injil yang sejati. Injil telah kehilangan pesonanya karena dianggap sejajar dengan agama-agama di dunia ini dan pengikutnya tidak menemukan kembali apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan para rasul mula-mula. Injil tidak lagi menjadi ancaman bagi agama-agama di luar kebenaran Allah dan dunia sekuler yang tidak peduli agama.

Tentu hal ini bukan disebabkan oleh kesalahan Injil itu sendiri, tetapi kesalahannya terletak pada kehidupan manusia Kristen yang tidak mengenal Injil yang sejati. Hampir-hampir tidak ada orang yang menemukan Injil yang sejati dan mengenakannya dalam kehidupan ini. Ironi, banyak Injil yang diajarkan dan dipromosikan, tapi ternyata bukan Injil yang orisinal yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan rasul mula-mula. Ciri dari Injil seperti ini adalah Injil yang mudah diterima oleh orang banyak. Injil ditawarkan tanpa harga, tanpa resiko dan konsekuensi dan tanpa implikasi dalam kehidupan pendengarnya. Injil yang benar adalah Injil yang tidak memperkenan hati manusia (Gal 1:9-10). Injil yang sejati adalah Injil yang merusak tatanan hidup wajar dan mapan pada masyarakat modern. Injil yang sejati adalah ajaran yang menyakitkan bagi mereka yang mau menikmati hidup di bumi ini.

Saudaraku,
Dalam kesederhaan Injil, kita dapat menangkap suatu gaya hidup baru yang tidak dapat ditemukan dalam kehidupan etika dan orang beragama mana pun juga. Injil harus ditawarkan sebagai jalan hidup yang bertentangan dengan gairah hidup manusia. Oleh sebab itu di sepanjang zaman, Injil yang sejati pasti mendapat perlawanan yang hebat, baik dari kelompok orang beragama maupun dari kelompok orang yang non-beragama. Ironinya, justru tantangan yang paling berat dan kejam datang dari kelompok orang beragama, sebab Injil yang murni akan menelanjangi “agama-agama buatan Lusifer” -yang menolak jalan keselamatan satu-satunya yang diberikan Bapa. Tanpa diucapkan -Injil yang dimengerti dengan benar dan dikenakan- merupakan surat terbuka yang dibaca semua orang yang benar-benar berfungsi sebagai “terang” dunia. Dengan kehidupan orang percaya yang benar, mereka menjadi saksi yang membuktikan kebenaran jalan keselamatan dalam Yesus Kristus dan kemurnian atau otentisitas Injil yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Dari hal ini dapat dibedakan antara kebenaran dan dusta.

Maksud Injil ditulis bagi orang-orang Yahudi adalah agar mereka keluar dari cara hidup keberagamaan Yahudi dan mengenakan gaya hidup yang telah dikenakan oleh Tuhan Yesus. Bagi orang non-Yahudi Injil bermaksud untuk menarik mereka keluar dari hidup kekafiran yang mereka kenakan selama ini, kemudian mengenakan hidup baru yang dikehendaki oleh Tuhan. Kehidupan yang telah keluar dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib adalah kehidupan yang tidak dimengerti sebelum seseorang benar-benar mengalaminya (1Ptr. 2:9) Berkenaan dengan hal ini dibutuhkan ketekunan yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, yaitu “tetap di dalam Firman” (Yoh. 8:31-32). Tetap di dalam Firman artinya bertekun belajar kebenaran Firman Tuhan sampai semua unsur kekafiran dalam pikirannya digantikan kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Bila proses ini berlangsung dengan baik, maka orang percaya mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan ini membuat seseorang lebih dari sekadar beragama, tetapi sungguh-sungguh menjadi (berkeadaan sebagai) anak-anak Allah.

Salam dan doa,

Erastus Sabdono