SURAT GEMBALA Surat Gembala
30 September 2018

Saudaraku,
Dalam setiap masa Tuhan memiliki rencana dan semua rencana-Nya pasti mengarah pada dibangunnya Kerajaan Surga di mana Tuhan Yesus menjadi Rajanya. Dalam melaksanakan rencana-Nya tersebut Tuhan memakai orang-orang yang dapat dipercayai-Nya. Tentu orang-orang yang dipercayai Tuhan adalah orang-orang yang memenuhi kualifikasi sebagai alat dalam tangan Tuhan untuk melaksanakan kehendak dan rencana-Nya. Mereka bukan orang sembarangan seperti kebanyakan orang. Siapakah orang yang berkualifikasi demikian ini? Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki kesediaan untuk meninggalkan kepentingan sendiri dan mempertaruhkan hidup untuk kepentingan Tuhan secara penuh.

Dalam Alkitab kita menemukan tokoh-tokoh yang berani bertindak demikian; seperti Abraham, Daud, Daniel, Maria, Yusuf, Petrus, Paulus dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tentu Pribadi paling mengagumkan yang menggenapi rencana Bapa adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Orang yang dipercayai oleh Tuhan adalah orang yang mana Tuhan berkenan melibatkannya untuk ikut mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa. Kepercayaan Tuhan kepada masing-masing orang berbeda-beda, tetapi pada intinya mereka ikut serta dalam penyelamatan jiwa-jiwa.

Saudaraku,
Kalau orang Kristen hanya diajar untuk percaya kepada Tuhan, tetapi tidak diajar bagaimana dipercayai oleh Tuhan, maka ia tidak pernah menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan. Ia akan tetap menjadi orang Kristen yang tidak dewasa alias orang Kristen yang kanak-kanak. Ini adalah orang Kristen yang hanya meminta, meminta dan meminta, tetapi tidak menjadi orang Kristen yang memberi atau berkorban bagi Tuhan.

Hubungan yang terjalin hanya sebatas hubungan antara peminta dan obyek yang dimintai; antara si pemberi dan si penerima. Memang tidak keliru, kalau hal ini terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan yang belum dewasa. Ini adalah konsep agama-agama pada umumnya. Itulah sebabnya doa sering dimengerti sebagai meminta. Berdoalah artinya mintalah. Padahal berdoa artinya berdialog dengan Tuhan. Jadi berdoa bukan hanya meminta, tetapi berinteraksi, suatu hubungan timbal balik.

Sama seperti hubungan orang tua dan anak, kalau anak-anak belum dewasa, hubungannya dengan orang tua adalah hubungan antara si pemberi, yaitu orang tua dan si penerima, yaitu anak. Tetapi kalau anak sudah dewasa hubungan tersebut berubah. Menjadi hubungan sahabat yang diwarnai hubungan timbal balik. Anak-anak yang sudah dewasa adalah anak-anak yang sudah bisa diajak berbicara mengenai beban dan persoalan orang tua. Anak-anak dipercayai orang tua untuk dapat memikul beban orang tua. Anak-anak diajak sepenanggungan dengan orang tua. Sekarang anak-anak sudah dapat menjadi sahabat bagi orang tuanya.

Saudaraku,
Yang menjadi pertanyaan penting hari ini adalah apakah kita sudah berstatus sebagai sahabat bagi Tuhan? Menjadi anak-anak Tuhan yang sudah diajak sepenanggungan dengan Tuhan, memikul beban yang dipikul Tuhan? Itulah salib yang dimaksud oleh Tuhan Yesus (Mat. 10:38). Kita harus belajar dari Paulus, hamba Tuhan yang luar biasa. Dalam hidupnya, ia telah menjadi orang yang dapat dipercayai oleh Tuhan, sehingga Tuhan memberikan kepercayaan yang besar dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Dalam tulisannya ia berkata: Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai (1Kor. 4:1-2).

Semua orang percaya adalah pelayan-pelayan Kristus. Bukan hanya aktivis dan pendeta yang dapat disebut sebagai pelayan-pelayan Kristus. Kita semua telah dibeli Tuhan dengan darah-Nya dan harganya telah lunas dibayar. Bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri, tetapi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Oleh sebab itu hidup kita ini harus digunakan untuk melayani Tuhan. Kalau seseorang tidak menjadi pelayan Tuhan berarti menjadi pelayan setan. Oleh sebab itu semua orang yang telah diselamatkan harus melayani Tuhan.

Dalam sejarah Alkitab, selalu saja dapat kita jumpai orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Orang-orang itu sebenarnya pada mulanya adalah orang-orang biasa, tetapi melalui proses dalam kehidupan ini, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dan memiliki prestasi yang hebat sebagai orang-orang kepercayaan Tuhan. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk berkata, tidak bisa. Memang setiap kita adalah unik, tapi setiap kita bisa menjadi orang kepercayaan Tuhan. Masalahnya, apakah kita bersedia? Tuhan mencari orang-orang yang dapat dipercayai untuk menggenapi rencana-Nya. Untuk ini Tuhan memilih orang-orang yang bisa dipercayai.

Saudaraku,
Kita akan tiba di suatu level di mana hanya Dia satu-satunya yang kita percaya; dan sebaliknya, kita juga menjadi satu-satunya kekasih Tuhan. Dan pada level ini hati kita benar-benar tidak boleh terbagi. Jika kita mengatakan bahwa hanya Tuhan kekasih hidup, tapi sejujurnya ada kekasih lain, berarti kita berkhianat. Memasuki kehidupan menjadi kekasih Tuhan, kita harus berani melepaskan semua kesenangan hidup. Walau tentu kita harus melewati proses. Tapi kita harus benar-benar bergumul untuk bertumbuh dan mengerti apa artinya menjadikan Tuhan itu kekasih jiwa kita agar kita juga menjadi kekasih-Nya, orang kepercayaan-Nya.

Pernahkah Saudara membayangkan apa reaksi Tuhan ketika nanti kita bertemu muka dengan muka dengan-Nya? Sejatinya, kita harus mempersoalkannya sejak sekarang. Kita bisa berpura-pura di hadapan manusia, tapi kita tidak bisa berpura-pura di hadapan Tuhan. Jadi kita harus sungguh-sungguh memperkarakan apakah kita berkenan di hadapan Tuhan atau tidak. Jangan main-main dengan Allah yang hidup. Mumpung masih ada kesempatan, mari kita berubah! Jangan takut untuk berbeda dengan yg lain.

Salam dan doa,
Erastus Sabdono