SURAT GEMBALA Surat Gembala
22 September 2018

Saudaraku,
Kalau jujur, dapat ditemukan banyak orang Kristen pergi ke gereja hanya sebagai kegiatan untuk melengkapi kesenangan hidup. Mereka memperoleh kesenangan dari kegiatan spiritual ini. Banyak orang menemukan kesenangan-kesenangan di dalam gereja, sehingga mereka bisa menjadi pengunjung gereja yang setia. Kehadiran mereka di gereja dengan antusias bukan karena kebenaran yang mereka temukan atau karena damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Bisa dimengerti kalau mereka tidak bertumbuh sesuai dengan kehendak Bapa. Mereka merasa senang ke gereja karena menemukan komunitas yang mengisi hidup mereka, apalagi kalau usia mereka sudah mulai senja. Di gereja mereka bisa bertemu dengan orang-orang baik yang bisa diajak menikmati kesenangan bersama dan bisa dimanfaatkan untuk beberapa kepentingan pribadi. Tentu lebih baik bergaul dengan orang yang baik daripada orang rusak di luar gereja. Tetapi harus diingat, selain terdapat orang baik, di gereja juga terdapat orang yang selalu mencari kesempatan memanfaatkan orang lain.

Ketika kelompok orang-orang seperti di atas pergi ke gereja, mereka merasa jiwa “merasa tentram”, merasa bahwa dirinya memiliki jaminan masuk surga, dan kalau mati pun jenazahnya ada yang mengurus dan mendoakan. Kelompok orang Kristen kualitas ini tidak sedikit dalam berbagai denominasi. Mereka memiliki komunitas yang kadang kuat dan sangat berpengaruh di dalam gereja. Bila mereka memiliki kekuasan yang kuat dalam organisasi, mereka bisa mengatur pendeta atau para rohaniwan dan mengarahkan pelayanan pada arah yang tidak sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Kalau kelompok ini berduit, maka kekuasaannya dalam gereja menjadi lebih sangat kuat. Tetapi mereka tidak bertumbuh dalam kedewasaan yang sesungguhnya.

Dapat dijumpai di banyak gereja -memang orang-orang ini bukan orang jahat di mata manusia- tetapi mereka tidak mengerti kebenaran sehingga tidak pernah memiliki “compassion” (beban) terhadap jiwa-jiwa yang terhilang. Mereka bisa menduduki posisi-posisi penting dalam gereja. Bahkan tidak sedikit yang mengatur seluruh arah perjalanan sebuah gereja. Pendeta pun diusahakan untuk dapat diatur oleh mereka. Ironi, tetapi kenyataan yang terjadi justru mereka adalah orang-orang yang mengganggu pelayanan pekerjaan Tuhan yang murni. Apa yang mereka lakukan sebenarnya kurang berarti, tetapi akibat dari tindakan mereka mengganggu pekerjaan Tuhan, sampai tingkat merusak pekerjaan Tuhan. Ciri dari orang-orang Kristen seperti ini adalah mereka masih kompromi terhadap praktik-praktik hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak berani “all out” bagi Tuhan. Gereja menjadi seperti perusahaan yang keberlangsungannya diperjuangkan dengan sangat serius, tentu dengan visi semakin besar jumlah jemaatnya dan semakin besar gedung serta banyak fasilitasnya. Kegiatan sosial dan berbagai kegiatan misi mereka lakukan, tetapi mereka sesungguhnya belum tahu tujuan keselamatan yang murni itu. Akhirnya gereja menjadi lembaga organisasi yang mati. Padahal gereja mestinya adalah sebuah organisme yang hidup.

Saudaraku,
Pada dasarnya kegiatan gereja dengan orang-orang seperti ini, bukanlah usaha untuk bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang baik dan membangun jiwa dan semangat pelayanan yang murni untuk menyelamatkan jiwa orang lain. Bagaimana bisa menyelamatkan jiwa orang lain, jiwanya sendiri saja belum tentu selamat! Itulah sebabnya Tuhan Yesus memerintahkan agar kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (Mat. 22:37-40). Kalau orang belum dapat mengasihi diri sendiri dengan benar bagaimana dapat mengasihi sesamanya? Orang yang belum dapat mengasihi diri sendiri secara benar berarti ia tidak mengupayakan menjadi manusia seperti yang dikehendaki Tuhan. Sehingga mereka juga tidak menghargai Firman Tuhan dan pemberitanya secara proporsional. Inilah yang membuat mereka sulit berubah ke arah Kristus; apalagi berkepribadian seperti Kristus. Jadi tidak heran kalau mereka juga tidak memancarkan kehidupan rohani yang dewasa dan memikat.

Semua kebenaran yang diterima seseorang dalam taraf yang memadai akan membangun pola berpikir. Pola berpikir akan membangun api compassion yang benar atau murni. Kalau pemahamannya salah, maka api compassion-nya juga salah atau asing. Misalnya, kalau orang memahami bahwa manusia hidup untuk menikmati dunia ini, dan berkat Tuhan adalah hidup di dunia ini dengan berlimpah materi dan hidup tanpa masalah, maka yang diusahakan dalam hidup ini hanyalah hal-hal tersebut. Kalau ia seorang pelayan Tuhan, maka yang diusahakan dalam pelayanan hanyalah hal-hal tersebut. Pelayanannya adalah berdoa untuk masalah-masalah jasmani. Pelayanannya adalah menghadirkan mukjizat untuk pemenuhan kebutuhan jasmani.

Saudaraku,
Kalau sekarang kita mendengar seruan agar kita belajar Firman Tuhan, hal itu dimaksudkan agar kita memiliki api compassion yang benar. Memiliki motivasi yang benar dalam hidup ini dan dalam pengabdian kepada Tuhan atau dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Jadi, kalau sekarang kita melihat banyak orang sibuk dengan pelayanan pekerjaan Tuhan, hendaknya kita tidak terkecoh seolah-olah mereka memiliki api compassion yang benar. Gairah yang menyala-nyala belum tentu dari api yang benar. Api yang benar dapat terbangun hanya oleh pengertiannya terhadap kebenaran yang murni. Perhatikan, apa yang diajarkan mereka. Kalau ajaran mereka tidak sesuai dengan ajaran murni Tuhan Yesus, pastilah api mereka bukanlah api yang murni pula (Gal. 1:6-10). Ciri dari api asing adalah tidak membuat seseorang berusaha mencapai kesempurnaan atau kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, tetapi selalu berbicara sekitar kemakmuran jasmani. Api yang salah tersebut adalah api materialisme yang memang lebih digemari daripada kebenaran murni yang harus dimiliki orang percaya. Api yang benar membangkitkan kecintaan kepada Tuhan dan sesama dengan tulus.

Belas kasihan bukan sekadar rasa prihatin atau bersikap simpati. Belas kasihan juga tidak pamrih dan memperhitungkan untung ruginya. Belas kasihan itu murni dan didasari oleh kasih yang tulus. Yang harus diperhatikan adalah, apakah upaya dan jerih lelah kita itu sudah tepat sasaran, tepat waktu dan tepat cara? Yaitu sesuai dengan kehendak Tuhan. Belas kasihan menggerakkan suatu kekuatan tindakan.

Salam dan doa,
Erastus Sabdono