SURAT GEMBALA Surat Gembala
16 September 2018

Saudaraku,
Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak dipanggil untuk hidup menyendiri, tetapi untuk bergaul dengan masyarakat. Ketika kita mendengar kesusahan yang dialami oleh orang lain, sering kali kita berkata bahwa kita bersimpati atas keadaannya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan perkataan simpati kita itu? Seberapa dalam simpati kita? Apa hanya sampai batas ucapan bibir?

Kata simpati atau compassion berarti rasa terbeban dan belas kasihan terhadap penderitaan atau kemalangan orang lain. Banyak orang Kristen di Indonesia yang memahami kata compassion sebagai sekadar penderitaan. Padahal arti kata itu sendiri tidaklah demikian. Penderitaan yang dipikul oleh Tuhan Yesus adalah penderitaan oleh karena memikul dosa manusia. Penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus adalah perasaan terbeban terhadap keadaan manusia yang akan binasa. Perasaan seperti haruslah menjadi dasar pelayanan pekerjaan Tuhan anak-anak Tuhan. Pelayanan yang tidak disertai perasaan ini, bukanlah pelayanan yang dikehendaki Tuhan. Pelayanan yang sangat tidak berkualitas. Pelayanan yang tidak disertai perasan ini hanya merupakan kegiatan gereja atau kegiatan sosial atau keagamaan.

Saat kita melayani Tuhan, kita pun juga melayani sesama! Seharusnya kemuliaan Tuhan terlihat dan terpancar pada orang lain di saat kita setia melayani, di saat kita fokus kepada Tuhan. Yang menyedihkan adalah pada saat orang sudah tidak punya compassion lagi dalam hati mereka, tapi masuk dalam pelayanan pekerjaan Tuhan! Saat kita sibuk, kita tidak ada waktu untuk berdoa dan menjaga hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita sibuk, kita pun sering tidak ada waktu untuk orang lain. Betapa bahaya di saat kita sibuk, dan kita tidak punya prioritas yang benar.

Saudaraku,
Dalam kisah nabi Yunus, ia memberitakan berita penghukuman Allah kepada orang Niniwe, tetapi ia sendiri tidak memiliki perasaan compassion ini. Sementara ia menyampaikan pesan Tuhan, ia tidak menginginkan orang-orang Ninewe bertobat. Sebaliknya, ia ingin melihat api turun dari langit seperti yang pernah terjadi di Sodom dan Gomora. Ia merasa lebih senang melihat orang-orang non-Yahudi, yang dipandang kafir itu, dihukum Tuhan. Ketika orang-orang Niniwe bertobat, maka ia tidak merasa senang. Yunus melakukan perintah Tuhan tanpa memiliki perasaan yang sama dengan si Pemberi perintah. Ironis sekali, tetapi inilah faktanya. Ternyata, banyak aktivis gereja yang turut mengambil bagian dalam pelayanan tanpa memiliki keterbebanan terhadap keselamatan jiwa orang lain. Keadaan mereka tidak jauh berbeda dari Yunus. Mengapa bisa terjadi demikian? Sebab mereka juga tidak memiliki keterbebanan terhadap keselamatan jiwa mereka sendiri.

Benarkah banyak orang Kristen tidak memedulikan keselamatan jiwanya sendiri? Pernyataan ini barangkali dianggap berlebihan. Siapa yang tidak peduli dengan keselamatan jiwanya sendiri? Bukankah setiap orang peduli dengan keselamatan jiwanya sendiri? Tetapi faktanya tidak semua orang peduli terhadap keselamatan jiwanya sendiri. Hal ini terjadi sebab mereka tidak mengerti kebenaran.

Saudaraku,
Orang yang belum mengerti kebenaran tidak akan memiliki langkah yang benar untuk menyelamatkan jiwanya. Mereka adalah orang-orang yang menyelamatkan nyawanya sendiri secara keliru. Mereka mau mencari dan menikmati kesenangan jiwa seperti anak-anak dunia menikmatinya. Mereka pikir mereka telah menyelamatkan hidup mereka, ternyata malah membinasakannya.

Mereka bukan orang-orang yang jahat. Mereka berusaha memiliki pasangan hidup yang ideal, memiliki keluarga yang baik, penghasilan yang baik, fasilitas yang memadai, banyak teman dan sahabat yang bisa diajak berteman dan menikmati kesenangan seperti makan bersama, jalan-jalan dan berbagai kegiatan hidup lain. Tetapi semua itu ternyata hanya kegiatan mengisi waktu yang tidak bermanfaat untuk keselamatan jiwa mereka dan untuk membangun kedewasaan rohani pribadi dan penyelamatan jiwa orang lain. Biasanya orang-orang seperti ini tidak menghayati kekekalan. Pikirannya tidak sanggup memahami hal ini. Pikiran mereka hanya tertuju kepada perkara-perkara duniawi. Hati mereka tidak terpindahkan ke surga. Sesungguhnya, hanya orang yang mencari harta surga yang dapat memindahkan hati, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus di mana ada hartamu di situ hatimu berada (Mat. 6:21). Kalau mereka tidak segera bertobat dan mengubah haluan, sampai mati pun mereka tidak akan mengenal kebenaran dan tidak akan pernah mengenal keselamatan. Pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki compassion terhadap keselamatannya sendiri dan orang lain.

Salam dan doa,
Erastus Sabdono