SURAT GEMBALA Surat Gembala
09 September 2018

Saudaraku,
Satu hal yang paling sukar dijalani dalam hidup Kekristenan adalah mematikan segala keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal tersebut disebabkan karena banyak orang Kristen sudah terbiasa memiliki gaya hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Demikianlah pada umumnya orang merasa berhak memiliki keinginan. Dengan hal ini manusia mengumbar segala keinginan yang muncul di dalam dirinya, selama dalam pertimbangannya hal tersebut mungkin dapat dicapai dan tidak melanggar etika umum. Mereka berharap dengan memperoleh apa yang diinginkannya, jiwanya akan merasa puas, senang dan bahagia.

Sungguhnya, hal inilah yang membuat orang Kristen terikat dengan dunia. Dunia akan terus mendorong mereka memiliki apa yang orang lain miliki. Dengan hal ini banyak orang Kristen tidak pernah berhenti memiliki keinginan-keinginan. Dalam hal ini kuasa kegelapan terus mendorong banyak orang untuk memenuhi dirinya dengan berbagai keinginan. Keinginan-keinginan tersebut menjadi candu yang membelenggu kehidupan. Setiap kali seseorang memperoleh apa yang diingini, maka jiwanya akan merasa puas, senang dan bahagia. Kemudian, ia akan menciptakan keinginan yang lain dan berharap ketika keinginannya dapat diperoleh ia merasakan kepuasan lagi. Terus-menerus hal ini berlangsung sehingga manusia terbelenggu dengan kepuasan-kepuasan tersebut. Inilah candu kehidupan yang membelenggu manusia. Manusia menggulirkan hari hidupnya dari satu kesenangan ke kesenangan yang lain, dari satu kepuasan ke kepuasan yang lain.

Pada dasarnya keinginan-keinginan yang memenuhi banyak orang -termasuk orang Kristen- tidak berasal dari Tuhan, tetapi dari diri sendiri. Semua itu akibat dari pengaruh dunia di sekitarnya yang sangat konsumeristis; selalu mau belanja dan memiliki barang yang dimiiki oleh orang lain. Pada dasarnya cara hidup seperti ini adalah cara hidup menyukakan diri sendiri. Orang-orang dengan cara hidup ini tidak hidup bagi kesukaan hati Tuhan tetapi kesukaan diri sendiri. Mereka adalah orang-orang yang tidak melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri. Hal ini bukan hanya terjadi atas orang-orang di luar gereja tetapi juga orang-orang Kristen, aktivis gereja bahkan mereka yang mengaku hamba Tuhan. Selama seseorang masih mencari kesenangan sendiri dan tidak sungguh-sungguh menemukan keinginan Tuhan untuk dilakukan, berarti belum melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Orang-orang tersebut menjadikan dirinya sebagai tuhan bagi diri sendiri. Mereka belum menjadikan Yesus sebagai Tuhan atau majikan. Untuk orang-orang seperti ini Paulus menggambarkannya di dalam Filipi 3:18-19, pikiran mereka tertuju kepada perkara-perkara duniawi. Inilah orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai milik dunia atau mempelai kuasa kegelapan. Suatu hari nanti mereka akan dijemput setan masuk ke dalam kegelapan abadi.

Saudaraku,
Orang-orang yang mengumbar keinginan adalah orang-orang yang menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:1-5). Sebenarnya Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya diingini oleh Tuhan agar rohnya kembali kepada Allah Bapa, sebab roh manusia sesungguhnya berasal dari Allah sendiri. Tetapi karena selama hidup hanya untuk keinginannya sendiri, maka mereka menjadi sahabat dunia dan menjadi milik kuasa kegelapan. Mereka menjadikan dirinya musuh Allah. Mereka adalah orang-orang yang menolak keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Walaupun mereka mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi karena mengasihi dunia ini, maka mereka membinasakan diri mereka sendiri.

Bagi orang Kristen yang masih hidup dalam kesenangan diri sendiri, berarti mereka seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan (Ibr.12:16-17). Mestinya orang percaya memiliki kesempatan untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, tetapi karena mengingini dunia, maka mereka kehilangan kesempatan itu. Seharusnya orang percaya adalah orang yang rela menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus agar dimuliakan bersama dengan Tuhan (Rm. 8:17), sebab hanya orang yang menderita bersama dengan Tuhan Yesus yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus bukan hanya berarti mengalami penderitaan fisik seperti orang-orang Kristen abad mula-mula. Penderitaan yang dialami orang percaya yang benar hari ini adalah bersedia menyangkal diri. Menyangkal diri berarti bersedia meninggalkan atau mematikan segala keinginan-keinginan dari diri sendiri, kemudian berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Inilah sebenarnya maksud tujuan manusia diciptakan dan maksud tujuan manusia menerima keselamatan, yaitu agar manusia melakukan kehendak Tuhan.

Saudaraku,
Selagi hidup di dunia, manusia seharusnya hanya hidup untuk melakukan kehendak Tuhan. Jadi kalau hidup di bumi ini -yang hanya 70 tahun- hanya untuk kesenangan diri sendiri, betapa celakanya. Tuhan Yesus berkata, apa gunanya seseorang memperoleh dunia kalau jiwanya binasa (Mat. 16:26). Sepuas-puasnya hidup di dunia ini hanyalah sementara dan berakhir pada kematian. Betapa beruntungnya kalau dalam hidup ini kita hanya mencari kepuasan atau kesenangan bagi Tuhan saja.

Hidup di bumi bukanlah kehidupan yang ideal yang Tuhan kehendaki. Dunia dimana kita hidup ini adalah dunia yang sudah jatuh dan bukan hunian yang nyaman. Tuhan menyediakan dunia lain yang lebih baik. Hidup di dunia hari ini seharusnya hanya untuk persiapan kehidupan yang akan datang. Persiapan itu adalah berusaha mengenal pribadi Tuhan, mengerti kehendak-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Inilah prinsip hidup satu-satunya yang boleh kita miliki: “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Orang percaya yang menyelenggarakan hidup dengan prinsip ini adalah orang yang layak masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan Allah.

Salam dan doa,
Erastus Sabdono