SURAT GEMBALA Surat Gembala
02 September 2018

Landasan misi Kristen dialaskan pada apa yang dikemukakan Tuhan Yesus dalam berbagai ayat Alkitab, di antaranya yang cukup menonjol adalah di Matius 28:18-20. Mengawali Amanat Agung-Nya, Tuhan Yesus berkata: “kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi”. Di dalam kalimat inilah tersimpul landasan Amanat Agung-Nya. Tidak ada seorang nabi, tokoh agama, politikus, filsuf dan orang besar manapun yang berhak berkata: “jadikanlah semua bangsa muridku”. Tuhan Yesus sendiri juga tidak akan mengucapkannya sebelum Ia berhasil tampil sebagai pemenang, yaitu menang atas maut dan dosa, serta menerima segala kuasa di surga dan di bumi. Landasan Amanat Agung Tuhan Yesus adalah bahwa Ia adalah satu-satunya Penguasa yang harus ditaati, satu-satunya Juruselamat yang mampu menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal. Dialah sumber berkat yang dari pada-Nya semua makhluk beroleh hidup dan menerima kelimpahan. Dialah sumber kebenaran, sebab Dia sendiri adalah Kebenaran itu (Yoh. 14:6).

Dengan kemenangan-Nya atas maut, Tuhan Yesus berhak memerintah dan berkuasa atas surga dan dunia. Dengan kemenangan-Nya, Ia berhak menarik semua orang datang kepada-Nya (Yoh. 12:31-32). Ia berkata: “Segala kuasa di surga dan di bumi diberikan kepada-Ku”. Demikianlah menjadi sah panggilan bagi Diri-Nya sebagai Kristus, artinya yang diurapi. Dalam Perjanjian Lama, yang menerima urapan adalah imam dan raja. Seorang raja yang hendak memerintah harus menerima urapan terlebih dahulu, tanpa pengurapan itu ia tidak berhak memerintah sebagai raja. Yesus adalah Raja, Dialah yang diurapi, yaitu yang berhak menerima pemerintahan. Oleh ilham Roh, Petrus berkata: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Tuhan Yesus mengomentari pernyataan Petrus itu sebagai berasal dari Bapa, dan pengakuan ini adalah ciri penting gereja Tuhan di muka bumi (Mat. 16:16-19).

Gereja yang benar adalah gereja yang mengakui dan menerima bahwa Yesus adalah Mesias, Dia adalah Kristus, yang diurapi. Pengakuan inilah yang akan memberikan kuasa kepada gereja Tuhan. Hal ini dapat dimengerti, sebab Amanat Agung Tuhan Yesus sendiri beralaskan pada pengakuan bahwa Dia adalah Yang Diurapi, Ia sebagai penguasa yang menerima kemuliaan pemerintahan, segala kuasa di surga dan di bumi diberikan kepada-Nya. Itulah sebabnya dalam Markus 16:19, dikatakan bahwa Ia naik ke surga, “duduk di sebelah kanan” Allah. Duduk di sebelah kanan Allah artinya bahwa Ia menerima kuasa pemerintahan (Kis. 2:36). Mengakui dan menerima Tuhan Yesus sebagai Mesias bukan hanya sebuah pengakuan mengenai keberadaan atau eksistensi dan status-Nya, tetapi kesediaan untuk menjadikan Tuhan Yesus sebagai pemegang komando dan kendali kehidupan kita. Mengakui dan menerima Yesus sebagai Mesias memiliki konsekuensi yang tidak ringan.

Dalam ke-Mesiasan Tuhan Yesus terdapat pemerintahan, rencana dan visi untuk mewujudkan kehendak Bapa. Orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Mesias harus ikut terlibat di dalamnya. Banyak orang Kristen merasa sudah cukup puas mengakui dan menerima Yesus sebagai “Yang Diurapi” atau Mesias, tanpa konsekuensi sama sekali. Ini berarti mereka hanya setuju bahwa Yesus Kristus adalah Mesias, tetapi tidak mengakui dan menerima-Nya. Pengakuan dan penerimaan harus ditujukkan dalam kesediaannya berada di samping Tuhan dalam segala keadaan.

Pemberian kuasa kepada Tuhan Yesus adalah landasan bagi orang percaya untuk menerima perintah-Nya, yaitu menjadikan semua bangsa murid-Nya. Amanat Agung Tuhan ini tersirat, dan disertai jaminan bahwa yang memerintahkan adalah yang berhak memberi perintah, Dialah penjamin kerja orang percaya. Dialah yang akan menanggung segala konsekuensi dan resiko tugas dari amanat-Nya tersebut. Oleh sebab itu, gereja tidak boleh ragu-ragu untuk melaksanakan amanat Tuhan ini. Sesuai janji-Nya, Ia menyertai gereja-Nya, yaitu orang percaya sampai kesudahan zaman. Orang percaya akan diperlengkapi kuasa untuk melaksanakan amanat-Nya tersebut. Tentu kuasa di sini bukan berarti hanya potensi melakukan tanda heran atau mukjizat, tetapi segala kelengkapan yang memungkinkan orang percaya memuridkan orang lain, terutama kemampuan untuk hidup suci. Inilah sebenarnya esensi Amanat Agung Tuhan Yesus.

Jiwa dan isi Amanat Agung ini harus dimengerti betul dan diterima dengan lapang. Yesus memanggil manusia bukan sekadar menjadi seorang beragama. Beragama Kristen, masuk ke dalam gereja dan mengikuti ritual. Jadi, setiap orang Kristen harus menjadi murid yang didewasakan atau disempurnakan. Kurang dari ini, berarti luncas, tidak kena sasaran, tidak mengenal kebenaran. Keluncasan ini menghasilkan Kekristenan yang miskin dan dangkal. Kekristenan seperti itu hanyalah sebuah keberagamaan yang mati. Keberagamaan yang tidak memiliki hakikat ibadah yang sesungguhnya. Bila terjadi demikian, itu berarti rencana agung Tuhan tidak terealisir dalam hidup orang percaya. Kekristenan yang tidak mengenal pemuridan adalah Kekristenan yang tidak akan bertumbuh. Ini berarti sebuah Kekristenan yang stagnasi, tidak dinamis bertumbuh normal di mata Allah.

Seseorang tidak dapat menjadi “pengawal bagi Sang Mesias” kalau belum memiliki kualifikasi sebagai pelayan-Nya. Oleh sebab itu orang percaya harus dimuridkan dan terus bertumbuh dalam kesempurnaan seperti Sang Mesias sendiri yang telah sempurna menaati Bapa. Panggilan untuk bertumbuh ini haruslah disambut dengan sikap positif; bukan sebagai tekanan atau tuntutan yang berat. Panggilan ini merupakan kesempatan yang mulia dan indah. Kehormatan yang tiada duanya. Adalah kehormatan yang jauh melebihi segala kehormatan untuk dilayakkan menjadi murid Tuhan Yesus. Sebab di dalamnya orang percaya diberi kesempatan untuk mewarisi segala yang mulia dan indah dari Allah dan pada akhirnya orang percaya akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.