SURAT GEMBALA Surat Gembala
26 August 2018

Saudaraku,
Oleh karena pengaruh dunia yang sangat kuat telah merasuk dalam kehidupan manusia, maka banyak orang Kristen yang hidupnya jauh dari standar kesucian Allah. Dan oleh karena Tuhan seakan-akan diam, maka mereka merasa aman-aman saja menjalani hidup dengan cara hidup demikian. Banyak orang beragama, termasuk orang Kristen, yang sudah merasa puas dengan keberadaan hidupnya yang dihiasi dengan moral baik di mata masyarakat, padahal kehidupan moral manusia semakin jauh dari standar yang Tuhan kehendaki. Bagi mereka, yang penting tidak melanggar moral umum yang dipahami oleh masyarakat. Hal ini bukan hanya berlaku di lingkungan orang-orang non-Kristen, tetapi juga di kalangan orang-orang Kristen di seluruh dunia. Orang-orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran Injil berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan pemikiran bahwa yang penting diterima dan dipandang santun di mata masyarakat. Orang-orang Kristen seperti itu sudah bisa dipastikan tidak mendapat bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga.

Fakta yang tidak dapat dibantah, sudah sangat jarang terdengar pembicara di mimbar gereja yang berbicara dengan tegas mengenai kesucian yang berstandar Allah yang harus dicapai orang percaya. Hal ini juga mengisyaratkan dengan jelas bahwa pendeta-pendeta pun juga tidak optimis bisa menjadi orang suci bagi Allah. Sungguh ironis fakta yang terjadi dewasa ini di lingkungan komunitas Kristen, banyak orang yang belajar teologi di Sekolah Teologi, mencapai gelar tinggi, tapi semakin tidak berbicara mengenai kesucian. Pokok pembicaraannya hanya sekitar Teologi Sitimatika dan Biblika. Mereka lebih senang menunjukkan keilmuannya yang cenderung hanya mengisi pikiran dengan kajian-kajian teologi yang bersifat penalaran yang sangat miskin dalam aplikasi dan implementasi untuk hidup suci. Kalau pendeta atau pembicara di mimbar sudah jarang -bahkan tidak pernah-berbicara mengenai kesucian dengan tegas dalam khotbahnya, maka kesucian dianggap tidak penting atau tidak bisa dicapai atau tidak pernah dapat dialami.

Saudaraku,
Keadaan dunia seperti ini oleh Tuhan disamakan dengan keadaan manusia pada zaman Sodom dan Gomora, yaitu keadaan manusia yang pantas untuk dibinasakan. Moral manusia secara umum mengalami kemerosotan yang sangat parah. Tidak mengherankan kalau dunia hari ini diwarnai dengan tindakan-tindakan manusia yang sangat bejat; seperti perkosaan orang tua terhadap anak kandungnya sendiri -dalam intensitas jumlah yang semakin besar-, pembunuhan anak terhadap orang tua, pembunuhan orang tua terhadap anak, penyimpangan seks (LGBT), pemalsuan obat, pembantaian terhadap orang tidak bersalah, terorisme, praktik mencari keuntungan materi dalam gereja, munculnya nabi dan pengajaran palsu yang marak, dan lain sebagainya.

Kondisi dunia seperti yang dikemukakan di atas ini pasti juga mempengaruhi kehidupan moral banyak orang Kristen, sehingga mereka juga terhanyut hidup dalam dosa. Memang faktanya, banyak orang Kristen telah terbawa oleh cara berpikir dan gaya hidup manusia di sekitarnya. Gambaran yang jelas adalah kehidupan iman orang-orang Kristen di Eropa. Sebagian besar mereka sudah tidak memedulikan gereja. Ini berarti mereka tidak memedulikan Tuhan. Tidak sedikit gereja yang nyaris tidak ada pengunjungnya, kecuali para turis yang datang hanya mau melihat nilai seni bangunan dan asesoris gereja secara fisik. Keadaan ini membuat peta Kekristenan nampak jelas, bahwa sebagian besar masyarakat Kristen Eropa sudah menjadi kafir. Hal ini sangat ironis, sebab utusan Injil yang mengubah dunia Timur pada mulanya berasal dari Eropa.

Kondisi Kekristenan seperti yang ada di Eropa ini juga merambah di seluruh dunia. Selain negara-negara Barat, Amerika dan Australia, juga terjadi di banyak negara lainnya. Di Indonesia sendiri, wilayah-wilayah atau kantong Kristen sudah tidak lagi menjadi mayoritas masyarakat Kristen. Ini menunjukkan kualitas iman orang-orang Kristen sudah banyak merosot. Bahkan wilayah yang tadinya seratus persen Kristen sekarang sudah tidak lagi demikian. Keadaan ini tentu saja menunjukkan bahwa banyak orang Kristen tidak lagi militan dalam kesetiaannya kepada Tuhan. Tidak heran kalau banyak orang Kristen yang semakin merasa tidak mungkin bisa mencapai kesucian di dalam dunia seperti ini. Padahal orang percaya dipanggil untuk mengambil bagian dalam kekudusan Allah dan mengenakan kodrat Ilahi. Hal ini sama dengan hidup tak bercacat dan tidak bercela.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono