SURAT GEMBALA Surat Gembala
19 August 2018

Saudaraku,
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kalimat “Tuhan yang menentukan arah langkahnya” dalam Amsal 16:9 (Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya)? Kalimat ini sebenarnya juga berarti bahwa Tuhan yang membuat keputusan seseorang menjadi kokoh dan stabil. Ini berarti Tuhan dalam kedaulatan-Nya memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan dan Tuhan tidak mencegahnya. Keadaan atau hukum kehidupan ini sebenarnya membawa manusia pada situasi yang sangat beresiko, sebab manusia harus menentukan takdirnya. Tuhan menasihati dan memberi peringatan, tetapi kalau manusia tetap berkeras dengan keputusannya Tuhan akan membiarkan. Membiarkan di sini artinya membuat keputusan dan niat manusia tersebut menjadi kokoh dan stabil, tidak ada yang bisa menghalanginya. Hal ini sama dengan Allah tidak mencegah lagi Adam memetik buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Tuhan juga tidak lagi mencegah Kain membunuh adiknya Habel.

Terkait dengan hal tersebut kita bisa mengerti mengapa orang yang menghujat Roh Kudus tidak diampuni dosanya. Dengan demikian menghujat Roh Kudus tidak hanya menunjuk kepada suatu perbuatan salah atau dosa yang dilakukan seseorang, tetapi lebih menunjuk kepada suatu stadium atau tingkatan di mana seseorang, oleh karena selalu menolak karya Roh Kudus (tidak mendengar teguran dan peringatan-Nya), maka ia tidak lagi memiliki kepekaan menangkap teguran Tuhan dan tidak lagi memiliki hasrat atau niat untuk bertobat. Roh Kudus adalah satu-satunya wakil Allah yang bekerja dalam diri seseorang, jadi kalau seseorang sudah menolak suara-Nya, maka tidak ada lagi wakil Tuhan dalam diri manusia yang menuntunnya kepada kebenaran.

Saudaraku,
Melengkapi penjelasan ini kita perlu juga memperhatikan Amsal 21:1, Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini. Sekilas ayat ini mengisyaratkan bahwa Tuhan yang mengendalikan segala keputusan raja, sehingga semua keputusannya selalu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Tuhan. Hati raja digambarkan seperti batang air atau aliran air, Tuhan yang mengarahkan tujuan kemana air itu mengalir. Ayat ini sering dijadikan landasan pandangan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, bahkan menentukan manusia yang selamat dan yang binasa. Dengan pandangan ini seakan-akan semua keputusan raja adalah keputusan Tuhan. Benarkah demikian? Bagaimana dengan raja-raja yang jahat yang mendatangkan penderitaan dan bencana bagi banyak orang? Raja semakin kuat akan semakin berpotensi mendatangkan kemakmuran yang besar atau malapetaka yang besar.

Menganalisa ayat ini kita harus cerdas. Tentu tidak semua raja dapat dikendalikan oleh Tuhan secara penuh. Memang ada raja-raja di Yehuda yang baik, seperti misalnya Daud, tetapi juga banyak raja-raja keturunan Daud yang jahat sehingga mendatangkan kesulitan bagi rakyatnya, sebagai akibatnya pula Tuhan memukul mereka melalui bangsa asing. Daud sendiri juga pernah membuat kesalahan yang sangat fatal dan memalukan. Itu berarti pada waktu itu Daud tidak memiliki “hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan”. Jadi, apakah hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan sangatlah tergantung dari kehendak raja itu sendiri. Amsal ini juga sebenarnya seperti sebuah nyanyian untuk menghargai raja yang memerintah, bukan ditujukan kepada semua raja. Hal ini sama dengan pernyataan Paulus bahwa pemerintah berasal dari Allah, demikianlah idealnya maka orang percaya harus tunduk kepada pemerintah (Rm. 13:1-4). Tetapi kalau pemerintah memerintahkan orang percaya mengkhianati Tuhan Yesus, maka orang percaya harus tidak tunduk. Pemerintahan yang melawan kehendak Allah tidak pantas ditunduki, sebab kita harus lebih tunduk atau taat kepada Allah dari pada tunduk kepada manusia (Kis. 5:29).

Saudaraku,
Jadi, sangatlah keliru kalau ada pandangan yang menggunakan Amsal 21:1 sebagai landasan seakan-akan segala sesuatu terjadi dalam kehidupan ini selalu atas pertimbangan Tuhan dan keputusan-Nya secara mutlak. Sejatinya, hanya batang air yang ada di tangan Tuhan yang dialirkan kemana Tuhan menginginkannya. Tetapi kalau batang air ada di tangan manusia itu sendiri (seperti misalnya raja Ahab yang jahat), maka batang air tersebut akan mengalir ke tempat yang salah. Hanya manusia yang hidup dalam ketertundukan penuh kepada Allah yang hidupnya diarahkan ke arah yang benar.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono