SURAT GEMBALA Surat Gembala
05 August 2018

Saudaraku,
Amsal 16:1 mengatakan “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada Tuhan”. Selama ini ayat-ayat di atas ini digunakan oleh sebagian teolog Kristen sebagai dasar premis bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan yang absolut atau mutlak, tanpa melibatkan peran manusia sama sekali. Dalam hal ini Tuhan dipandang sebagai sosok yang telah menaskahkan semua peristiwa atau kejadian dan melaksanakannya secara tepat tanpa meleset, baik hasil per tahap maupun hasil akhirnya. Pandangan ini sangat keliru, untuk itu kita harus dengan cerdas, teliti dan jujur menganalisa ayat-ayat tersebut.

Amsal 16:1 ini tidak boleh dipahami seakan-akan pertimbangan manusia tidak ada artinya sebab akhirnya keputusan ditentukan oleh Tuhan, seperti yang sering diucapkan orang-orang non-Kristen bahwa manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Maksud pernyataan tersebut adalah bahwa pada akhirnya semua yang terjadi atas keputusan Tuhan semata-mata. Kita tidak boleh ikut-ikutan sehingga terbawa filosofi orang yang tidak mengenal Allah yang benar. Dalam hal tersebut seakan-akan manusia seperti robot yang tidak memiliki hak mengambil keputusan sendiri, semua langkahnya dikendalikan oleh pemegang remote control. Mereka berpandangan bahwa semua keputusan atau jawaban yang terjadi berasal dari Tuhan. Dalam hal ini Tuhan dipandang sebagai pengambil keputusan dalam segala kejadian yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dengan demikian semua kejadian telah dirancang oleh Tuhan dan dilaksanakan-Nya.

Saudaraku,
Marilah kita melihat dengan teliti Amsal 16:1 tersebut. Manusia dapat menimbang-nimbang artinya bahwa manusia diberi Tuhan kemampuan untuk mempertimbangankan sesuatu. Dalam bahasa aslinya kata menimbang-nimbang adalah marak (מַעֲרָךְ) yang bisa berarti perencanaan atau penyusunan. Itulah sebabnya dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris Amsal 16:1 diterjemahkan: The plans of the heart belong to man, But the answer of the tongue is from the Lord. Sedangkan yang lain menerjemahkan: The preparations of the heart in man, and the answer of the tongue, is from the Lord. Dalam terjemahan bahasa latin (Vulgata) kata preparation diterjemahkan praeparare. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum melakukan suatu tindakan, pikiran manusia sudah mempersiapkan sesuatu yang akan diwujudan dalam tindakan tersebut.

Kemampuan manusia membuat pertimbangan artinya kemampuan membuat rencana atau program atau penyusunan atas apa yang hendak dilakukan. Sebagaimana Allah membuat rencana, demikian pula manusia yang adalah gambar Allah memiliki kemampuan seperti yang dimiliki oleh Allah. Dalam Alkitab kita menemukan banyak tindakan Tuhan yang didahului dengan rencana. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memiliki pikiran yang digunakan untuk mempertimbangkan sesuatu sebelum Allah melangkah. Manusia pun demikian adanya. Itulah sebabnya Tuhan memberikan pikiran kepada manusia, supaya manusia bisa bertindak seperti yang Allah lakukan.

Saudaraku,
Kata hati dalam Amsal 16:1 adalah leb (לֵב). Kata leb memiliki beberapa pengertian, antara lain: inner man, mind, will, heart, understanding, thinking (batin manusia, pikiran, kehendak, hati, pengertian, pemikiran). Kata leb juga bisa berarti selera. Sebenarnya dengan adanya pikiran dan perasaan yang diberikan oleh Tuhan, secara tidak langsung Tuhan memberi kebebasan kepada setiap individu untuk mengambil keputusan. Pikiran yang diberikan Tuhan kepada manusia mengisyaratkan adanya independensi manusia. Itulah sebabnya Allah tidak mencegah manusia ketika manusia memetik buah terlarang di taman Eden. Allah hanya memberi petunjuk, nasihat dan peringatan, tetapi Allah tidak mengatur dan mengendalikan manusia. Manusia harus memutuskan sendiri dan mengambil tindakan. Itulah konsekuensi bagi manusia atas pertimbangan dan keputusannya, yaitu manusia harus mati. Juga konsekuensi bagi Allah, yaitu harus mengusir manusia dari Eden (Kej. 3). Hal ini tentu tidak dirancang dan tidak dikehendaki oleh Allah.

Dengan ini sangatlah jelas isyaratnya bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas. Sangatlah keliru kalau orang berpikir bahwa manusia hidup dalam kendali Allah secara absolut sehingga pikiran manusia tidak bisa optimal digunakan. Kalau pikiran manusia tidak dapat digunakan secara optimal oleh manusia itu sendiri, maka Tuhan tidak pernah menganjurkan agar manusia mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi. Dengan pikiran yang diberikan oleh Allah kepada manusia, secara implisit dikemukakan bahwa manusia memiliki kedaulatan. Dalam kedaulatannya tersebut manusia dapat mempertimbangkan segala sesuatu dan mengambil keputusan.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono