SURAT GEMBALA Surat Gembala
29 July 2018

Saudaraku,

Banyak agama menyaksikan dan mengajarkan mengenai Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang Mahakuasa, Mahatinggi, Mahabesar dan sederetan gelar lainnya. Mereka berusaha untuk membuktikan bahwa Allah yang mereka percayai bukan saja eksis, tetapi juga benar. Pada umumnya para penganut suatu agama berusaha membuktikan bahwa Allah yang disembahnya adalah Allah yang nyata. Mereka menunjukkan kesaksian-kesaksian untuk membuktikan keberadaaan Allah yang mereka sembah. Sekaligus menunjukkan keperkasaan-Nya. Dari hal ini hendak dikesankan bahwa Allah yang paling kuat itu adalah Allah yang benar.

Dalam usaha penyiaran agama tersebut pasti disertai dengan kesaksian-kesaksian yang menunjukkan bahwa Allah mereka adalah Allah yang paling benar. Untuk meneguhkan pengakuan mereka, maka disaksikan atau ditunjukkan pula pengalaman atau kesaksian orang-orang yang berasal dari agama lain yang masuk atau menyeberang ke agamanya. Seakan-akan berpindahnya orang dari berbagai agama ke agamanya menunjukkan kebenaran agamanya tersebut. Dalam hal ini ada usaha untuk membuktikan kebenaran agama tersebut melalui verifikasi orang-orang yang pindah agama tersebut. Hal ini persis dengan iklan barang di media cetak atau media elektronik.

Memang di abad-abad awal Kekristenan dan di beberapa tempat khusus lainnya, untuk menunjukkan kebenaran Injil harus ada mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau, yang menarik, yang membuat orang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Namun hal itu bukanlah metode permanen dan umum, artinya tidak harus berlaku di semua tempat, kepada semua orang dan di sepanjang waktu. Buktinya, setelah masa keemasan zaman mukjizat -dimana Injil yang diberitakan disertai dengan kuasa Allah yang mendemonstrasikan keajaiban- disusul masa aniaya di mana orang-orang kafir hendak membuktikan bahwa Tuhannya orang Kristen tidak berdaya. Dan Tuhan pun terkesan tidak membela orang percaya dan tidak berdaya sama sekali. Mereka menjadi orang-orang yang “kalah”.

Saudaraku,

Kalau suatu ketika Tuhan tidak menggunakan cara atau metode mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau untuk menyampaikan kesaksian dalam pemberitaan Injil, tentu itu dalam pertimbangan Tuhan yang sempurna. Orang Kristen di abad yang berbeda, di tempat yang berbeda dengan obyek yang berbeda pula, belum tentu diperkenan memakai cara dan metode yang sama. Kalau Tuhan menggunakan cara atau metode mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau, biasanya hal ini dilakukan Tuhan di tempat dimana orang belum mengenal Injil sama sekali. Apa lagi di wilayah agama suku yang menuntut atau membutuhkan bukti. Pemberitaan Injil mutlak harus disertai dengan mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau yang bisa menarik orang percaya kepada Tuhan Yesus.

Orang Kristen tidak boleh memaksa untuk menggunakan cara atau metode mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau tersebut tanpa komando Tuhan. Bila ada yang memaksa untuk menggunakan cara tersebut, berarti ada maksud-maksud pribadi di balik proyek tersebut. Tuhan bisa membiarkan mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau terjadi, sebab memang Tuhan sendiri telah menyampaikan pesan-Nya demikian (Mrk. 16:15-20). Tuhan akan memenuhi janji-Nya, tetapi orang-orang yang bertindak di luar kehendak Bapa tersebut akan menuai buahnya. Mereka bisa ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat. 7:21-23). Hal ini jelas menunjukkan bahwa karunia bukanlah ukuran kedewasaan dan perkenanan Tuhan.

Saudaraku,

Penjelasan di atas tidak bermaksud mengecilkan arti kuasa Tuhan dan mengecilkan hati orang percaya yang rindu bersaksi. Pernyataan tersebut bukan pula karena ketidakmampuan mengadakan mukjizat. Memang kita tidak memiliki kemampuan itu dan tidak berhak memaksa Tuhan untuk melakukannya. Kita harus mengalir bersama Roh Kudus dan selalu bertindak sesuai dengan kehendak Bapa. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk mengerti kehendak Allah, supaya segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan.

Kita tidak boleh terjebak dalam kegiatan “menjual jasa” dengan memakai nama Tuhan Yesus yang berkuasa untuk agenda-agenda pribadi yang terselubung. Kita juga tidak boleh terjebak masuk arena kompetisi antar gereja yang pemahamannya adalah siapa yang bisa menunjukkan mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau, dialah gereja yang benar, hamba Tuhan yang paling suci dan istimewa di mata Allah. Akhirnya, gereja seperti ini menjadi “kerajaan manusia” bukan Kerajaan Allah. Gereja yang meleset, kehilangan tujuan yang benar. Lebih parah lagi kalau kemudian menjadi bisnis keluarga.

Saudaraku,

Orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran, akan terjebak dalam arena kompetisi dengan agama lain. Mereka berusaha membuktikan bahwa Allahnya orang Kristen adalah Allah yang benar dengan menunjukkan keperkasaan-Nya secara fisik, yaitu dengan mukjizat-mukjizat, pertolongan Tuhan dari berbagai masalah, pengalaman supranatural dan spektakuler. Juga mengekspos kesaksian orang-orang yang berasal dari agama lain yang masuk menjadi Kristen secara provokatif. Tindakan ini adalah tindakan yang tidak bijaksana dan menunjukkan bahwa orang Kristen tersebut tidak dewasa dan tidak memahami kebenaran.