SURAT GEMBALA Surat Gembala
22 July 2018

Saudaraku,

Pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan kuasa-Nya secara fisik dengan berbagai perbuatan ajaib untuk melindungi umat Israel. Cara itulah yang cocok pada zaman itu, dimana umat masih agak primitif, tidak seperti zaman-zaman sesudahnya. Dengan cara itulah Tuhan membuka mata bangsa Israel dan bangsa-bangsa di luar Israel untuk mengenal adanya Allah (Yahweh). Di depan Firaun, Tuhan menyatakan kuasa-Nya dan memaksa Firaun mengakui bahwa Allah orang Israel adalah Allah yang benar dan kuat. Demikian pula di depan bangsa-bangsa kafir -yang wilayahnya dilalui oleh bangsa Israel yang dipimpin Musa keluar dari Mesir- mereka dipaksa mengaku bahwa Allahnya orang Israel lebih kuat. Apakah hal itu membuat mereka -baik Firaun maupun bangsa-bangsa Kanaan-bertobat dan menyembah Yahwe? Ternyata tidak. Mereka tetap memusuhi bangsa Israel dan Allah Yahwe. Pesan yang kita dapat tangkap adalah bahwa mereka tetap lebih meyakini dewa-dewa mereka sendiri dan berani berkompetisi dengan Allah Israel. Faktanya, kalau bangsa Israel tidak dengar-dengaran, Tuhan membiarkan bangsa Israel dikalahkan dan kehormatan Tuhan diinjak-injak oleh bangsa kafir. Hal ini berakibat adanya “pelestarian” bagi agama-agama Kanaan, karena mereka melihat Allahnya orang Israel bisa kalah.

Pengalaman bangsa Israel tidak bisa dikenakan secara harafiah terhadap orang percaya hari ini. Cara Allah menyatakan Diri kepada bangsa Israel dan cara bangsa Israel mengenal Allah Yahweh, tidak sama dengan kita orang percaya hari ini. Kalau orang Kristen terjebak dalam arena kompetisi tersebut, tanpa sadar kita sebenarnya telah melecehkan Tuhan, sebab tindakan tersebut merupakan tindakan merendahkan Tuhan. Seakan-akan Tuhan Yesus dapat disejajarkan dengan allah yang agama lain percayai.

Saudaraku,
Cara yang permanen bagi orang percaya untuk menjadi saksi Tuhan dan menunjukkan keberadaan Allah dengan kebenaran Injil tidak sama dengan cara-cara bangsa Israel dan agama-agama pada umumnya. Mendemonstrasikan mukjizat, tanda heran dan kesaksian yang memukau, bukanlah cara atau metode yang permanen. Itu adalah cara dan metode temporal, situasional dan dalam situasi ekstrem. Dalam hal ini kita harus mempelajari Alkitab dengan analisa yang benar. Memahami isi Alkitab yang benar harus memperhatikan konteksnya, yaitu kapan teks tersebut ditulis, oleh siapa, ditujukan kepada siapa, dalam rangka apa, apa latar belakangnya dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar kita menemukan makna orisinil teks tersebut, kemudian mencari implikasi dan implementasinya untuk kita kenakan hari ini.

Orang Kristen juga harus berhenti menyaksikan secara provokatif perpindahan atau konversi orang-orang non-Kristen menjadi Kristen. Jika bukan kehendak Tuhan, kita tidak boleh menyerahkan mimbar gereja untuk orang-orang yang mau mencela atau menzalimi agama, nabi dan syariat agama lain. Hal ini bisa merusak kerukunan umat beragama dan kenyamanan hidup di tengah-tengah masyarakat. Tidak sedikit mereka yang mengaku telah berpindah agama ternyata bukan orang-orang yang sudah bertobat. Harus dicatat bahwa orang yang berpindah agama menjadi Kristen belum tentu telah mengalami pertobatan yang benar. Lalu untuk apa mereka menjadi Kristen kalau akhirnya juga tidak selamat? Ironisnya, ada juga yang sudah berpindah agama menjadi Kristen tapi kembali masuk agama lamanya.

Saudaraku,
Sebagai orang percaya di zaman Perjanjian Baru, dalam menyaksikan keberadaan dan kebenaran Injil, maka kita harus melibatkan seluruh keberadaan kehidupan kita dari berbagai aspek. Ini adalah cara atau metode yang permanen yang berlaku bagi semua orang percaya di sepanjang zaman, di segala tempat dan di segala situasi. Cara atau metode menjadi saksi ini akan mendorong orang percaya bertumbuh untuk bisa mengenakan pribadi Kristus dalam hidup ini. Tanpa menjadi pribadi seperti Kristus, seseorang tidak bisa menjadi saksi. Kehidupan orang Kristen yang seperti Kristus akan membuat orang berkesimpulan, bahwa orang sebaik itu tidak mungkin Tuhannya salah atau agamanya keliru.