SURAT GEMBALA Surat Gembala
15 July 2018

Saudaraku,
Mereka yang sering menyaksikan telah berdialog dengan Tuhan ternyata cenderung jatuh dalam kesalahan subyektivitas yang berlebihan. Sehingga sering terjadi, suara hatinya sendiri diakui atau diyakini sebagai suara Tuhan. Mengapa subyektivitas yang berlebihan bisa terjadi? Biasanya hal ini didorong oleh ketidakjujuran terhadap diri sendiri. Orang-orang seperti ini telah diliciki oleh dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ia mendengar suara Tuhan dan berdialog dengan Tuhan, padahal tidaklah demikian. Firman Tuhan mengatakan: Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? (Yer. 17:9). Kata licik dalam teks aslinya aqob (עָקֹב) yang selain berarti menipu (deceitful), juga berarti sly (licik) dan juga insidious (tersembunyi dan membahayakan). Kata membatu dalam teks aslinya adalah anash (אָנַשׁ) artinya menjadi lemah (to be weak) dan sakit (sick), desperately sick, incurable (tidak bisa disembuhkan). Pada dasarnya hati manusia itu membahayakan, licik dan tidak bisa disembuhkan. Kalau seseorang tidak sungguh-sungguh memiliki nurani yang baik, maka ia bisa tidak mengenali dirinya dengan benar. Inilah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus: “… jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu” (Mat. 6:22-23).

Hal lain yang mendorong terjadinya subyektivitas yang berlebihan -sehingga menipu diri sendiri- adalah kecenderungan membangun nilai diri di mata manusia. Tanpa disadari, dengan mudah seseorang mengakui setiap pengalaman selalu dikaitkan dengan suara Tuhan. Bahkan gejala-gejala jiwa normal dan mimpi-mimpi -yang merupakan bagian dari aktivitas jiwa di bawah sadar- pun diakui sebagai pesan-pesan Tuhan atau fenomena Ilahi. Biasanya hal ini terjadi atas orang-orang yang tidak menggali kekayaan Firman Tuhan. Mereka menggantikan pengertian Firman Tuhan dengan pengalaman-pengalaman subyektif yang sangat sulit dibuktikan kebenarannya. Orang-orang ini tidak terbiasa menggunakan logika secara sehat. Di lingkungan pembicara Kristen, mereka tidak pernah memasuki sekolah teologi yang baik. Kesaksian palsunya menjadi usaha untuk menutupi kekurangannya. Kalau subyektivitas ini tidak dihentikan, maka seseorang akan terjerat oleh kebiasaan tersebut sampai ia tidak bisa membedakan mana suaranya sendiri dan mana suara Tuhan. Ia akan semakin berani mengatasnamakan Tuhan dalam menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada orang lain. Pada akhirnya, ia menjadi nabi palsu tanpa ia sendiri menyadarinya.

Saudaraku,
Seseorang yang sungguh-sungguh berdialog dengan Tuhan, tidak akan banyak bicara mengenai pengalamannya. Ia memandang bahwa hal berdialog dengan Tuhan adalah fenomena wajar, normal dan natural dalam kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya ia memberi penghargaan yang tinggi terhadap pengalaman tersebut, sehingga ia tidak mudah mengumbar cerita atau kesaksian kepada sembarang orang. Pengalamannya berdialog dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat pribadi, luhur dan mulia. Tidak perlu dibagikan kepada sembarang manusia. Kalau pun ia harus membagikannya, ia harus mendapat komando dari Tuhan, kepada orang yang tepat dan pada situasi dan waktu yang tepat pula. Kalau ia menyaksikannya, tentu hal ini untuk kepentingan dan kemuliaan Allah dan menjadi berkat bagi orang lain. Ia akan sangat berhati-hati menyaksikan pengalaman berdialog dengan Tuhan tersebut dengan sikap rendah hati. Ia tidak akan mencuri kemuliaan Allah, artinya menjaga hati agar tidak mengambil keuntungan bagi pribadinya melalui kesaksian tersebut.

Dalam pengalaman hidup Paulus, ia harus menyembunyikan suatu kesaksian yang hebat, yaitu ketika ia diangkat ke langit ketiga. Ia menyembunyikan kesaksian itu agar ia tidak meninggikan diri karena penyataan yang luar biasa tersebut (2Kor. 12:1-10). Kemudian Tuhan juga mengijinkan duri dalam daging ada dalam diri Paulus yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia supaya ia tidak menjadi sombong. Begitu berbahayanya kesaksian yang luar biasa yang dialami seseorang dalam alam supranatural, bisa membuat seseorang menjadi sombong. Tuhan sangat serius menghindarkan orang-orang yang dikasihi-Nya dari kesombongan, sampai-sampai Ia menaruh “duri dalam daging”. Hal itu menghindarkan orang yang dikasihi-Nya dari kesombongan, sebab Allah menentang orang yang congkak (1Ptr. 5:5).

Saudaraku,
Orang yang mudah dan terbiasa mengumbar pengalamannya berdialog dengan Tuhan, biasanya memiliki motivasi untuk mendapat pengakuan bahwa dirinya adalah anak Tuhan atau hamba Tuhan yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak yakin akan dirinya yang adalah anak Tuhan atau hamba Tuhan yang benar atau sejati. Ironis sekali, sekarang ini banyak hamba-hamba Tuhan yang hendak mengesankan bahwa dirinya adalah hamba Tuhan yang sejati melalui kesaksian bahwa dirinya bisa berdialog dengan Tuhan. Seorang hamba Tuhan sejati tidak akan berusaha memaksa pengakuan dari jemaat bahwa dirinya adalah hamba Tuhan yang benar. Sejatinya dari sikap dan perkataannya akan nampak kualitasnya sebagai hamba Tuhan yang sejati.

Orang yang gampang mengumbar pernyataan bahwa dirinya berdialog dengan Tuhan, harus dicurigai kesaksiannya, karena sikap ini bukanlah sikap yang Tuhan kehendaki. Dalam kesaksian Paulus, Petrus dan hamba-hamba Tuhan lainnya, mereka tidak mudah mengumbar pernyataan bahwa mereka berdialog dengan Tuhan. Mereka tidak banyak menyatakan bahwa Tuhan telah berbicara dengan mereka. Sejatinya, tulisan mereka sudah cukup mengisyaratkan bahwa mereka memiliki persekutuan yang sangat intim dengan Tuhan, suatu dialog yang berlangsung terus menerus.

Jika seorang pendeta sudah terbiasa menggunakan nama Tuhan -seakan-akan Tuhan berbicara melalui dirinya padahal tidak- maka ia akan lebih berani lagi untuk mengarang kesaksian palsu. Setiap gerak jiwanya diakui sebagai pengalaman Ilahi atau diakui sebagai suara Tuhan, hasil dari dialognya dengan Allah. Ini proses dimana seseorang menipu dirinya sendiri dan menipu orang lain. Sampai ia sendiri tidak sadar bahwa ia sedang dalam belenggu penipuan dan pemalsuan. Ciri pendeta seperti ini adalah selalu ingin tampil dan diakui lebih besar dari pendeta lain, melalui kesaksian supranaturalnya. Orang-orang seperti ini sulit untuk menjadi sederhana dan rendah hati. Kiranya kita bisa mengenali mereka dengan baik sehingga tidak disesatkan.