SURAT GEMBALA Surat Gembala
08 July 2018

Saudaraku,
Sejatinya, betapa berharganya kesucian dalam hidup kita ini. Lebih dari segala kekayaan, popularitas, kehormatan, gelar, pangkat dan lain sebagainya. Hal inilah yang seharusnya menjadi kerinduan, obsesi, cita-cita dan goal dari kehidupan ini. Bila ada hal lain yang dianggap lebih bernilai dari hal ini, maka itu berarti suatu penyimpangan atau ketidaksetiaan kepada Tuhan. Seharusnya tidak ada hal yang dianggap lebih penting dari hal ini. Tetapi masalahnya sekarang adalah apakah kesucian itu? Kata suci dalam teks bahasa Ibrani adalah qados yang artinya bukan saja murni tetapi juga berarti “dipisahkan dari yang lain untuk digunakan”. Dalam teks bahasa Yunani terjemahan dari hagios yang artinya juga mirip -yaitu dipisahkan- tetapi juga berarti berbeda dari yang lain.

Dari etimologi atau asal usul kata suci ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesucian menunjuk kepada keadaan yang berbeda dari yang lain dan dipisahkan untuk digunakan. Kesucian bukan hanya menunjuk keadaan tidak bersalah seperti pemahaman agama-agama yang selama ini kita ketahui. Kesucian juga bukan berarti tidak bersentuhan dengan kehidupan yang dimiliki manusia pada umumnya. Sering orang suci digambarkan sebagai orang yang tidak hidup di tengah-tengah masyarakat, menyepi di tempat-tempat di mana tidak ada keramaian, hidup tidak menikah atau lajang, tidak memiliki harta dan kegiatan hidupnya hanyalah melakukan pertapaan, meditasi dan melakukan seremonial agama.

Saudaraku,
Justru mereka yang menghindarkan diri dari pergaulan dunia, tidak pernah mengenal kesucian yang sesungguhnya. Bagaimana seseorang bisa dikatakan cakap berenang kalau tidak pernah bergumul dalam gelombang laut atau riak besar sungai? Seseorang dikatakan cakap berenang kalau ia sudah menghadapi ombak besar laut atau riak besar sungai yang deras arusnya. Kalau seseorang tidak pernah menghadapi percobaan dalam kehidupan secara konkret, sulitlah memahami kesucian yang sesungguhnya. Justru pada saat kita diperhadapkan kepada godaan-godaan yang membangkitkan impuls (rangsangan berbuat dosa) untuk menuruti hawa nafsunya, maka pada saat itulah ia membuktikan apakah ia memilih taat kepada Bapa atau tidak. Apakah ia mau hidup dalam kesucian atau hidup dalam dosa? Melalui kehidupan konkret di tengah-tengah kemungkinan untuk berbuat dosa orang percaya harus belajar untuk hidup di dalam ketaatan kepada Bapa, bukan penurutan kepada keinginannya sendiri. Dari hal ini maka akan terbangun kesucian yang sejati dalam hidup kita.

Dalam Kekristenan, kesucian tidak boleh diartikan secara dangkal. Kesucian bukan hanya melakukan hukum-hukum moral dan hal-hal yang dipandang baik di mata manusia (demikianlah konsep agama-agama pada umumnya). Kesucian adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Bapa di surga dalam segala hal. Ini berarti orang percaya harus mengerti apa pun yang Bapa kehendaki dan dengan sukacita dan rela serta bersungguh-sungguh kita berusaha melakukannya (Mat. 7:21-23). Kesucian hidup adalah kehidupan yang melakukan kemauan atau keinginan Bapa dalam segala hal, di segala tempat dan di sepanjang waktu hidup ini. Kehidupan Tuhan Yesus adalah contoh kehidupan dalam kesucian yang dikehendaki oleh Bapa. Kehidupan yang melakukan kehendak Bapa dengan sempurna. Bukan melakukan sebagian kehendak Bapa, tetapi semua kehendak Bapa.

Saudaraku,
Oleh karena itu seseorang harus memiliki kerinduan yang tulus dan kuat untuk menyenangkan hati-Nya. Kesucian adalah hidup yang dipersembahkan bagi pemuasan hati Tuhan semata-mata. Kalau seseorang masih mau menyenangkan dirinya sendiri, ia tidak akan pernah hidup dalam kesucian. Biasanya orang beranggapan bahwa mencari kesenangan diri bukan sesuatu yang melanggar hukum, menurutnya yang penting orang lain tidak dirugikan atau dilukai. Memang mereka tidak merugikan dan menyakitkan orang lain, bahkan mereka juga berbuat hal-hal yang dinilai sebagai kebajikan bagi sesamanya, tetapi sesungguhnya mereka melakukan semua itu juga untuk kesenangannya sendiri. Anggapan yang salah ini telah menyesatkan banyak anak Tuhan, sehingga mereka tidak pernah menyenangkan Tuhan dan mereka tidak hidup dalam kesucian yang dikehendaki oleh Tuhan. Untuk ini seluruh filosofi hidup, cita-cita dan keinginan harus disalibkan atau dimatikan. Memang awalnya hal ini sangat sulit dilakukan, tetapi lambat laun akan menjadi sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan dan memuaskan jiwa.

Kesucian hidup akan membuat seseorang berwatak Tuhan. Bagaimana bisa? Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kesucian hidup dapat dicapai oleh seseorang ketika ia memuaskan hati Tuhan. Dengan demikian seorang yang mau memuaskan hati Tuhan akan berusaha untuk mengerti “selera Tuhan”, yaitu apa yang Tuhan inginkan agar umat lakukan. Mengerti hukum-hukum dan peraturan bukanlah jalan untuk mencapai kesucian yang Tuhan kehendaki. Melakukan hukum-hukum membuat seseorang menjadi bermoral dan menjadikan manusia beradab dan santun, tetapi belum membuat seseorang mampu mencapai kesucian Tuhan. Dalam hal ini yang dibutuhkan bukan hanya mengenal hukum-hukum dan mengingat atau menghafalnya, tetapi yang utama adalah kecerdasan roh yang kita peroleh dari mengenal kebenaran Tuhan yang sejati yang tertulis dalam Alkitab (Yoh. 8:31-32), sehingga seseorang mengerti kehendak Tuhan; apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Inilah proses seseorang menjadi tidak serupa dengan dunia ini dan mencapai kesucian yang dikehendaki oleh Bapa. Tentu proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sepanjang umur hidup kita adalah pergumulan untuk mencapai kehidupan yang memuaskan hati Tuhan.

Bila proses di atas berlangsung dan terselenggara dengan baik dalam kehidupan, maka kita akan terbiasa bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan (Flp. 2:5-7). Kebiasaan hidup melakukan apa yang Tuhan kehendaki akan membuat seseorang semakin berwatak Tuhan. “Selera hidupnya” akan menjadi sama dengan Tuhan. Dengan demikian kesucian hidup seseorang akan nampak bukan pada cara hidupnya -yang kelihatan secara lahiriah patuh atau tunduk kepada hukum atau peraturan- tetapi pada spirit lemah lembut dan penuh kasih tulus yang dipancarkannya. Dalam hal ini, bagaimanapun kesucian hidup seseorang akan terpancar dari seluruh sikap hidupnya; seluruh gerak tubuh dan perkataannya. Tidak perlu harus memperhatikan sikap hidupnya setiap hari dalam waktu yang panjang. Dari beberapa gejala yang ditampilkan dalam pergaulan dan pernyataan-pernyataan mulutnya, maka nampaklah kualitas kesuciannya.