SURAT GEMBALA Surat Gembala
24 December 2017

Saudaraku,
Di penghujung tahun ini, tepatnya pada tanggal 6 Desember 2017 yang lalu, dunia digemparkan oleh pernyataan Presiden Amerika Donal Trump di Washington yang menciptakan polemik. Trump mengumumkan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Presiden Amerika ini juga memerintahkan untuk segera memindahkan Kedutaan Besar AS -yang saat ini berkedudukan di Tel Aviv- ke Yerusalem. Yerusalem hari ini dibagi menjadi dua wilayah besar, yaitu Yerusalem Modern dan Yerusalem Lama, yang juga disebut “Kota Lama”. Kota Lama secara tradisi terbagi menjadi empat bagian. Pertama, kawasan Yahudi di mana terdapat Dinding Ratapan, atau Tembok Barat, sisa dari dinding tempat berdirinya Bait Suci zaman dulu. Di dalamnya juga terdapat tempat suci dan Ruang Maha Kudus. Ini adalah situs paling suci dalam agama Yahudi. Kedua, kawasan Kristen di mana terdapat Gereja Makam Kudus, lokasi yang sangat penting dalam kisah Yesus, yaitu peristiwa kematian-Nya, penyaliban dan kebangkitan-Nya. Ketiga, kawasan Armenia di mana terdapat gereja St. James. Keempat, kawasan Muslim yang terbesar terdapat tempat suci Kubah Batu (Kubah As-Shakrah atau Dome of the Rock) dan Masjid al-Aqsa di dataran tinggi, yang dikenal oleh umat Islam sebagai Haram al-Sharif. Hari ini Kota Lama sudah menjadi sebuah Situs Warisan Dunia sejak tahun 1981, dan termasuk dalam Daftar Situs Warisan Dunia yang dalam bahaya atau terancam. Adapun Yerusalem Modern berkembang jauh melampaui batas-batas Kota Lama.

Yerusalem adalah kota suci dari tiga agama samawi, yaitu agama Yahudi, agama Kristen dan agama Islam. Seorang penulis buku yang sangat terkenal, Keren Amstrong, menjuluki kota ini sebagai “satu kota tiga iman”. Orang-orang Yahudi biasa menyebutnya Yerushalayim (יְרוּשָׁלַיִם). Mereka menyebut sebagai Ir ha-kodesh artinya kota suci, juga disebut Bayt al-Magdis, yang berarti rumah kesucian. Menurut sejarah kota ini direbut oleh Daud dari bangsa Jebus sekitar tahun 1000 sebelum Masehi.

Saudaraku,
Bagi orang Yahudi, kota Yerusalem adalah kota sucinya sebab di tempat ini Abraham pernah mempersembahkan anaknya, Ishak. Di kota ini Daud dan Salomo pernah membangun istana untuk memerintah Israel dan bait Allah terbangun di dalamnya. Orang-orang Palestina dan bangsa Arab serta orang-orang Muslim sedunia juga memandang Yerusalem sebagai kota sucinya yang ketiga, setelah Mekah dan Medina. Sebab di tempat ini -yaitu di Masjid al-Aqsa di Yerusalem tersebut- Nabi Muhamad naik ke surga, yang dikenal dengan kisah Isra Mi’ raj. Mereka memiliki penamaan atas kota tersebut sebagai al-Quds, yang artinya tempat the holy one atau satu-satunya yang suci. Itulah sebabnya Yerusalem juga diartikan sebagai “disambiguation” (tidak mendua). Yerusalem pernah menjadi kiblat salat bagi orang-orang Muslim, sebelum kota Mekah.

Saudaraku,
Bangsa Palestina tidak mengakui bahwa Daud dan Salomo pernah membangun istananya di Yerusalem, karena tidak ada peninggalan situs yang jelas; sementara di pihak lain orang Yahudi juga tidak mengakui bahwa Nabi Muhamad pernah Isra Mi’raj di tempat tersebut. Hal ini sudah merupakan bibit persoalan yang tidak pernah dapat dipertemukan. Selama ini orang Israel maupun Palestina mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota mereka. Untuk klaim tersebut Israel tetap mempertahankan lembaga-lembaga pemerintahan utamanya di kota ini. Sementara itu Negara Palestina memandang kota ini sebagai pusat kekuasaannya. Faktanya, klaim kedua negara tersebut tidak mendapat pengakuan luas secara internasional. Selama ini untuk meredam ketegangan dan konflik mengenai “kota suci” tersebut, kota Yerusalem dijadikan kota atau wilayah status quo di bawah pengawasan PBB. Dengan pernyataan Presiden Amerika tersebut, secara langsung mengakui klaim Israel bahwa Yerusalem adalah ibu kota negara mereka. Tentu saja dengan pernyataan Presiden Donald Trump, Israel merasa berhak untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibu kotanya dan ada di dalam kendalinya secara penuh. Hal ini menimbulkan kegaduhan dunia. Sangat dimengerti kalau dunia bisa menjadi gaduh karena pernyataan Presiden Amerika tersebut, sebab kota Yerusalem adalah masalah yang sangat sensitif.

Saudaraku,
Bagaimana sikap kita terhadap fenomena ini? Tidak bisa dibantah semua kita ikut menyesalkan pernyataan Donald Trump yang bisa memicu konflik regional sampai perang yang meliputi seluruh wilayah dunia. Tetapi kita tidak dapat menolak nubuatan Alkitab bahwa menjelang akhir zaman Israel akan dikepung bangsa-bangsa di dunia ini. Kejadian ini bisa merupakan lonceng peringatan kepada kita, bahwa akhir sejarah dunia sudah semakin dekat. Kita harus berkemas-kemas dengan seksama menyongsong Kerajaan Tuhan Yesus yang segera akan datang. Kita tidak perlu mengakui dan menganggap Yerusalem di bumi ini sebagai kota suci kita, sehingga kita ikut terlibat konflik. Bagi orang percaya, kota suci kita hanya Yerusalem Baru, di langit baru dan bumi baru nanti.