SURAT GEMBALA Surat Gembala
10 December 2017

Saudaraku,
Suatu kesalahan besar yang berlangsung bertahun-tahun adalah banyak orang Kristen yang merasa sudah memiliki keselamatan, padahal mereka tidak atau belum memilikinya. Mereka berpikir bahwa keselamatan itu murahan atau gampangan. Inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa dirinya sedang menuju kebinasaan. Dalam hal ini, kalau seseorang tidak sungguh-sungguh mengoreksi diri dan membawanya ke hadapan Tuhan, ia akan terhilang untuk selama-lamanya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga, seseorang harus berusaha masuk jalan sempit. Pertanyaan seseorang yang datang kepada Tuhan Yesus –“apakah sedikit saja orang yang diselamatkan?”- menunjukkan “takutnya” seseorang terhadap realita keselamatan. Tuhan Yesus menjawab agar kita berjuang untuk masuk melalui pintu yang sesak, sebab banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Firman Tuhan Yesus ini mengisyaratkan dengan jelas bahwa untuk masuk Kerajaan Surga seseorang harus melewati perjuangan.

Saudaraku,
Selama ini banyak orang berpikir bahwa masuk surga itu sesuatu yang mudah, tidak harus dengan perjuangan. Hal ini juga dikesankan kepada banyak orang melalui mimbar-mimbar gereja, bahwa ke surga itu mudah oleh sebab anugerah Tuhan tersedia bagi orang berdosa. Selain itu, Tuhan adalah Pribadi yang penuh kasih, Ia tidak menghendaki seorang pun binasa. Memang benar bahwa Tuhan yang menyediakan anugerah bagi orang berdosa, tetapi harus diluruskan apa artinya anugerah. Anugerah tidak menghilangkan tanggung jawab dan respon yang benar yang harus dimiliki seseorang dalam menyambut keselamatan-Nya. Kalau seseorang tidak sungguh-sungguh memberi diri diselamatkan, seperti istri Lot, maka bukan tidak mungkin karya keselamatan Allah yang disediakan bagi orang berdosa menjadi sia-sia bagi orang itu.

Saudaraku,
Tuhan memang mengasihi orang berdosa, tetapi kalau kesempatan yang disediakan Tuhan untuk orang berdosa disia-siakan, maka keselamatan tidak menjadi bagian orang itu. Perjuangan mengerjakan keselamatan pada dasarnya adalah perjuangan untuk sempurna. Perjuangan untuk menjadi sempurna seperti Bapa adalah perjuangan yang tidak akan berhenti sampai seseorang menutup mata. Tuhan Yesus mengatakan “harus” sempurna, ini berarti bahwa menjadi sempurna bagi anak-anak Tuhan tidak boleh ditawar lagi. Gereja tidak boleh memberi kesan bahwa orang percaya boleh kurang sempurna, berhubung adanya kelemahan dan kekurangan manusia. Kesempurnaan inilah yang membuat seseorang memiliki standar moral lebih dari tokoh-tokoh agama manapun. Ini berlaku bagi setiap orang percaya, bukan hanya bagi rohaniwan Kristen. Oleh sebab itu, setiap orang Kristen harus berusaha mencapainya dengan segala kemampuan yang Tuhan anugerahkan. Semua itu merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi dan tidak boleh dihindari bagi orang yang mau menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan mengakui otoritas-Nya. Syarat ini bukan berarti sebuah jasa atau penentu keselamatan. Penentu keselamatan adalah korban Tuhan Yesus di kayu salib yang merupakan jalan keselamatan yang diberikan dengan cuma-cuma, bukan hasil perbuatan baik. Dalam hal ini kita harus dapat membedakan antara menerima keselamatan sebagai anugerah dan meresponi anugerah itu dengan mengakui otoritas-Nya untuk hidup secara luar biasa.

Saudaraku,
Kalau kita berpikir bahwa usaha untuk sempurna dapat merusak doktrin teologi keselamatan oleh anugerah, maka itu suatu pandangan yang sangat keliru. Perjuangan untuk menjadi sempurna bukanlah usaha untuk meraih keselamatan, tetapi sebagai respon terhadap anugerah yang Tuhan sediakan. Harus diingat, bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya hidup dalam kebaikan yang Bapa sediakan. Tentu kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan standar Tuhan Yesus Kristus. Kesempurnaan yang dikehendaki oleh Tuhan adalah mengenakan pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus. Orang-orang yang sungguh-sungguh telah menerima keselamatan atau sedang mengerjakan keselamatan pasti berusaha untuk sempurna. Dalam perjalanan pertumbuhan rohani seseorang yang sungguh-sungguh mengusahakan kesempurnaan, akhirnya ia menampilkan kehidupan Yesus.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono