SURAT GEMBALA Surat Gembala
03 December 2017

Saudaraku,
Pada dasarnya orang yang mengingini dunia sama dengan orang yang mau menjadi majikan, majikan bagi siapapun, bahkan juga mau menjadi majikan bagi Tuhan. Inilah orang yang congkak, seperti Lusifer. Kalau orang Kristen baru berbuat demikian, barangkali bisa ditolerir; tetapi kalau hal itu dilakukan oleh orang Kristen yang sudah seharusnya menjadi dewasa, maka tindakannya bisa berarti suatu pemberontakan. Kalau anak-anak menjadi boss waktu kecil terhadap orang tuanya, tidak menjadi masalah; tetapi kalau sudah dewasa masih bersikap demikian, maka itu berarti kurangajar. Alkitab mengatakan agar kita tunduk kepada Allah dan melawan Iblis. Tunduk kepada Allah berarti mengakui bahwa Dialah seluruh hasrat hidup kita; sebab kepada siapa atau sesuatu kita mengingini, kepadanya kita tunduk. Lawan Iblis bukan berarti mengusir-ngusir setan dari rumah hantu atau pohon keramat, juga tidak sekadar mengusir setan dari tubuh seseorang, tetapi mengusir semua hasrat dalam diri kita yang membuat kita tidak mengingini Tuhan, tetapi mengingini harta duniawi.

Saudaraku,
Hendaknya kita tidak seperti jemaat Lodikia yang merasa kaya, tetapi sebenarnya miskin. Di mata Tuhan mereka adalah orang-orang malang. Tuhan menegur mereka dengan keras. Mengapa Tuhan tidak menegur umat Perjanjian Lama seperti Tuhan menuntut umat Perjanjian Baru untuk mengingini perkara yang di atas? Mengapa pencobaan kepada manusia Perjanjian Lama bukan mengenai materialisme seperti yang dihadapi Tuhan Yesus dan orang percaya? Jawabnya adalah karena mereka tidak dituntut untuk sempurna, sebab mereka belum perlu dan belum bisa dilepaskan dari belenggu mamonisme dan kedagingan. Mereka bukan manusia surgawi yang bisa diajar untuk mengembangkan roh dari Allah. Dengan menunjukkan keindahan dunia kepada orang percaya supaya diingini, akan membutakan mata dalam memahami kebenaran Tuhan.

Saudaraku,
Kehidupan di bumi ini merupakan kesempatan untuk bertobat menjadi sempurna atau menjadi rusak dan tidak dapat diperbaiki selama-lamanya. Inilah mungkin yang membuat manusia tidak diperkenan makan “buah kehidupan” di tengah taman, supaya ada kesempatan untuk ditobatkan. Di sini letak perbedaan dengan Lusifer yang tidak mengalami kematian seperti manusia, yaitu kematian pertama; tetapi langsung ke kematian kedua, yaitu lautan api. Berkenaan dengan ini Tuhan Yesus berkata: Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Saudaraku,
Dalam Kekristenan yang penting sebenarnya adalah bagaimana memahami maksud keselamatan diadakan. Bapa memberikan Putra-Nya yang tunggal agar manusia diselamatkan. Keselamatan itu adalah agar manusia kembali kepada rancangan-Nya yang semula, yaitu menciptakan manusia yang luar biasa. Mengapa luar biasa? Sebab hanya makhluk ini di bumi yang memiliki roh dari Allah. Dengan roh dari Allah diharapkan manusia dapat melakukan apa yang Allah inginkan. Manusia dapat mengerti pikiran dan perasaan Allah. Manusia bisa menjadi sekutu, kawan sekerja, kekasih dan sahabat Allah.

Saudaraku,
Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat roh dari Allah yang ada dalam diri manusia ini tidak berkuasa mendominasi kehidupan manusia itu, sebab keinginan daging lebih kuat mendominasinya. Roh memang penurut, tetapi daging lemah. Kata penurut dalam teks aslinya adalah prothumos, yang artinya dengan kerelaan atau siap, bersedia. Roh memiliki kehendak dengan rela dan bersedia melakukan apa yang Tuhan kehendaki, tetapi daging lemah. Kata lemah dalam teks aslinya adalah asthenes, yang berarti tidak ada kekuatan, dan juga berarti sakit. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak mampu mengerti pikiran, perasaan dan kehendak Allah. Manusia tidak mampu melakukan rencana Tuhan, manusia tidak bisa menjadi sekutu, kekasih dan sahabat Tuhan. Inilah keadaan sesat itu. Pemulihan kehidupan mengembalikan manusia untuk menjadi sahabat Tuhan, sehingga terhindar dari kematian kekal.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono