SURAT GEMBALA Surat Gembala
29 October 2017

Saudaraku,
Orang yang menyadari bahwa segenap hidupnya milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan akan memiliki hati yang merasa puas dengan apa yang ada padanya. Yang penting bukan berapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa efektif yang ada padanya bagi Tuhan. Terkait dengan hal ini kita menemukan jawaban mengapa orang serakah. Sebab pada umumnya orang mau memiliki yang orang lain miliki dan menikmati segala sesuatu yang ada padanya bagi dirinya sendiri tanpa memedulikan kepentingan orang lain. Juga tidak memedulikan pekerjaan Tuhan. Baginya kenikmatan diri itulah yang membahagiakan hidupnya. Padahal seseorang tidak pernah merasa puas dengan sesala sesuatu yang ada padanya. Kepuasan terletak ketika seseorang meneguk Air Kehidupan, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Masalahnya adalah bagaimana mengecap manisnya air kehidupan. Di sini seseorang harus belajar dan terus melatih diri.

Orang yang menyadari bahwa segenap hidup milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan, tidak akan membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain. Toh, semuanya adalah milik Tuhan dan harus digunakan untuk kepentingan-Nya. Orang yang suka membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain adalah orang yang tidak akan bersyukur dengan apa yang Tuhan percayakan kepadanya. Akhirnya, ia akan merasa lebih beruntung atau lebih malang dibanding orang lain. Lebih konyol lagi, kalau menganggap Tuhan tidak bijaksana atas pembagian yang dilakukan-Nya, ketika yang ada padanya dirasa lebih sedikit atau lebih buruk.

Saudaraku,
Orang yang menyadari bahwa segenap hidup milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan tidak akan mengingini milik orang lain. Tentu kalau seseorang menyadari segala sesuatu adalah milik Tuhan, maka ia tidak akan mengingini milik Tuhan yang Tuhan percayakan kepada orang lain. Ia tidak akan merasa iri atas kasih karunia, talenta dan berbagai karunia roh yang Allah percayakan kepada orang lain. Orang yang bersikap demikian akan jauh dari tindakan mengecam dan mencela orang lain.

Orang yang menyadari bahwa segenap hidup milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan, cenderung tidak membanggakan apa yang ada padanya demi kehormatan dan kemuliaan dirinya sendiri. Ia merasa sebagai orang miskin; walaupun hartanya banyak, tetapi ia tidak mengakui sebagai miliknya sendiri, melainkan milik Tuhan. Dengan demikian -baginya- melakukan sesuatu bagi pekerjaan Tuhan bukan sebagai suatu pemberian, tetapi mengembalikan milik Tuhan. Orang-orang seperti ini tidak akan merasa berjasa dalam pelayanan dan tidak menuntut penghargaan atau pengakuan. Ketika ia sukses dan menerima pujian dari orang lain, di dalam hatinya tetap menempatkan Tuhan sebagai yang terhormat dan satu-satunya yang layak menerima pujian.

Saudaraku,
Orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang ada padanya adalah milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan, maka ia cenderung memiliki kesediaan untuk hidup dalam pengendalian Tuhan. Ini artinya bahwa ia tidak akan menggunakan harta miliknya secara semena-mena. Banyak orang yang menggunakan uangnya untuk segala sesuatu tanpa perhitungan. Tetapi kalau untuk menolong sesama atau untuk pekerjaan Tuhan sangat perhitungan, bahkan pelit. Ia bisa membeli barang dengan harga fantastis demi prestise, mengadakan berbagai pesta demi prestise, membeli perhiasan, membangun rumah, membeli kendaraan dan lain sebagainya demi pemuasan kesenangan dan seleranya. Ia merasa berhak atas apa yang ada padanya. Orang seperti ini, sampai tingkat tertentu tidak bisa diperbaiki lagi.

Akhirnya, suatu hari nanti setiap orang akan menghadap takhta pengadilan Allah. Betapa mengerikan keadaan orang yang merasa bahwa segala sesuatu yang ada padanya di bumi adalah miliknya dan menggunakannya sesuai dengan kemauan dan seleranya. Mereka adalah perampok milik Tuhan. Tetapi orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang ada padanya adalah milik Tuhan dan menggunakannya selalu sesuai dengan kehendak Tuhan, akan menikmati perhentian yang indah.