SURAT GEMBALA Surat Gembala
22 October 2017

Saudaraku,
Tidak sedikit orang Kristen yang hidupnya berada di bawah pengaturan diri sendiri. Sebenarnya orang-orang seperti ini tanpa sadar berpotensi disesatkan oleh roh-roh jahat, sehingga mereka tidak mengalami rencana Allah digenapi dalam hidup mereka. Dalam kehidupan pribadi, tidak banyak orang yang mendiskusikan rencana-rencana, cita-cita dan keinginan-keinginan hatinya dengan Tuhan. Banyak orang berjalan sesuai dengan selera, perhitungan dan keinginannya sendiri; seperti ketika hendak membeli suatu barang, memilih sekolah, mencari jodoh, pindah rumah, memulai bisnis, tempat kerja dan lain lain. Memang kita tidak selalu bertanya apa yang harus kita lakukan kepada Tuhan, bolehkah beli barang ini atau itu? Tetapi seseorang yang mengerti kebenaran Firman Tuhan dan berhasrat dengan sungguh-sungguh untuk menyenangkan hati Tuhan, pasti memiliki kepekaan untuk membedakan apakah yang dilakukannya sesuai kehendak-Nya atau tidak. Untuk hal-hal yang besar, seperti hal jodoh dan memilih profesi, barulah ia akan mohon pimpinan Tuhan. Yang membuat kita sulit mengerti kehendak Tuhan adalah karena kita telah menetapkan apa yang kita ingini. Semakin menetapkan apa yang kita ingini, maka  sesungguhnya semakin kita sulit menangkap atau semakin bingung mengerti kehendak  Tuhan. Tetapi semakin seseorang memiliki kesediaan menyerah pada kehendak Tuhan dan berkerinduan menyenangkan hati-Nya, semakin ia peka untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki. 

Saudaraku,
Selama ini banyak orang Kristen berpendapat bahwa mendengar suara Tuhan untuk mohon pimpinan-Nya dianggap mustahil, rumit dan tidak berlaku lagi pada zaman kita sekarang. Suara Tuhan sudah dianggap mati atau tidak ada lagi, padahal Tuhan akan menunjukkan jalan-jalan-Nya. Menurut pemikiran kebanyakan orang modern sekarang ini, pikiran manusialah yang utama dan manusia itu sendiri yang berhak bertindak sesukanya. Irama hidup seperti ini sudah merupakan irama hidup orang pada umumnya. Berkenaan dengan hal  ini Tuhan melalui Yakobus menasihati kita agar kita tidak melupakan Tuhan dalam  perencanaan. Kerendahan hati ternyata juga diukur oleh ukuran sejauh mana seseorang melibatkan Tuhan dalam segala perencanaan. Sikap ini sesungguhnya merupakan sikap yang mengakui bahwa Allah adalah Allah semesta alam yang menentukan segala sesuatu dan berkuasa menyelesaikan segala  sesuatu. Oleh sebab itu setiap rencana kita harus dimulai dengan kalimat: Bila Tuhan menghendakinya.

Saudaraku,
Seorang yang telah hidup baru dalam Tuhan ditandai dengan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik menuntun kita dalam segala hal supaya kita menikmati damai sejahtera dan berkat-berkat-Nya. Iblislah yang mengacau keadaan agar manusia tidak mengerti apa yang direncanakan-Nya. Iblislah yang terus menerus membujuk orang percaya untuk tidak melibatkan Tuhan dalam seluruh gerak hidup ini. Banyak pertimbangan- pertimbangan yang muncul dalam benak orang Kristen yang bukan berasal dari Allah. Kalau sudah demikian itu berarti ia dalam pemilikan Iblis, bukan  melaksanakan rencana Allah, tetapi rencana sendiri yang dimotori oleh kuasa dari neraka. Ketidaktepatan ini memiliki resiko atau konsekuensi yang berat. Oleh sebab itu anak-anak Tuhan dalam merencanakan sesuatu harus dalam pimpinan Tuhan.  Ada kebiasaan orang yang datang kepada Tuhan supaya Tuhan memberkati rencananya. Ini sama dengan minta legitimasi (pengesahan), tanpa terlebih dahulu mohon konfirmasi (persetujuan). Ini adalah sikap mengatur Tuhan. 

Saudaraku,
Kita harus melangkah dengan membawa setiap persoalan kepada Tuhan dan menanti dengan tekun dan sabar petunjuk dan pimpinan-Nya. Allah akan sangat menghargai kesediaan kita untuk memohon pimpinan-Nya. Allah pasti bertindak menuntun langkah kita dan menunjukkan kepada kita apa yang membahayakan hidup kita sekarang. Latihan demi latihan untuk menangkap dan menemukan pimpinan-Nya membuat kita semakin peka, sehingga kita dalam segala hal dapat berjalan menurut pimpinan-Nya. Untuk itu mulai sekarang kita harus mulai mempercakapkan apa yang terjadi dalam hidup kita, rencana-rencana, kerinduan, keinginan dan segala hal dalam hidup ini dengan  Tuhan. Inilah yang disebut sebagai hidup di hadirat Tuhan.  Kita harus belajar memperlakukan Allah sebagai Allah yang riil, dan memang demikian Allah itu. Ia adalah Allah yang lebih nyata dari apa yang dapat kita lihat dan sentuh.