SURAT GEMBALA Surat Gembala
08 October 2017

Saudaraku,
Ciri seorang yang benar-benar mengalami hidup baru dalam Tuhan adalah makin menghayati dan menerima bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Dengan demikian ia tidak merasa berhak menggunakan, kecuali untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Memang demikianlah kenyataannya bahwa kita telah dibeli oleh Tuhan Yesus dengan harga yang lunas dibayar. Harus terus diingat, diakui dan diterima bahwa kita bukan milik kita sendiri. Kita adalah milik Tuhan sepenuhnya.

Orang yang benar-benar hidup baru dalam Tuhan akan menunjukkan karakteristik seorang pengelola, bukan seorang pemilik. Seorang pengelola milik Tuhan akan rela melepaskan apa yang ada padanya demi kepentingan Tuhan atau kemuliaan nama-Nya. Dalam hal ini milik Tuhan bukan hanya uang, tetapi seluruh kehidupan kita ini, di dalamnya termasuk semua potensi yang ada pada kita, waktu dan lain sebagainya. Uang hanyalah sebagian dari milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita dan uang adalah perkara kecil.

Saudaraku,
Orang yang mengakui dan menerima bahwa dirinya adalah milik Tuhan akan menyadari bahwa segenap hidupnya adalah milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan. Orang seperti ini memiliki kepekaan lebih mengerti kehendak Tuhan, yaitu bagaimana mengelola milik Tuhan tersebut. Tuhan akan memberitahu apa yang Dia kehendaki untuk dilakukan. Tetapi kalau seseorang tidak bersedia menjadi “roti yang terpecah dan anggur yang tercurah”, maka Tuhan tidak akan memberi tahu atau ia tidak akan tahu apa yang dikehendaki-Nya. Dalam hal ini kita dapat mengerti mengapa banyak orang yang tidak mengerti kehendak Tuhan atau rencana Tuhan dalam hidupnya, sebab ia tidak perlu mengertinya. Toh mengerti kehendak dan rencana Tuhan tidak akan berarti sama sekali baginya.

Saudaraku,
Orang yang menyadari bahwa segenap hidupnya milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan akan memiliki hati yang merasa puas dengan apa yang ada. Yang penting bukan berapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa efektif yang ada padanya bagi Tuhan. Terkait dengan hal ini kita menemukan jawaban mengapa orang serakah. Sebab pada umumnya orang mau menikmati segala sesuatu yang ada padanya bagi dirinya sendiri tanpa memedulikan kepentingan orang lain. Baginya itulah yang membahagiakan hidupnya. Padahal ia tidak akan pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang ada padanya. Sejatinya, kepuasan terletak ketika seseorang menghirup Air Kehidupan, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Masalahnya adalah bagaimana mengecap manisnya air kehidupan. Di sini seseorang harus belajar dan terus melatih diri.

Saudaraku,
Orang yang menyadari bahwa segenap hidupnya milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan tidak akan membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain. Kita harus terus menerus dalam kesadaran bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan yang harus digunakan untuk kepentingan-Nya. Orang yang suka membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain adalah orang yang tidak akan bersyukur dengan apa yang Tuhan percayakan kepadanya. Akhirnya ia akan merasa lebih beruntung atau lebih malang dibanding orang lain. Lebih ironi lagi ketika ia menganggap Tuhan tidak bijaksana atas pembagian yang dilakukan-Nya.

Saudaraku,
Orang yang menyadari bahwa segenap hidupnya milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan tidak akan mengingini milik orang lain. Tentu kalau seseorang menyadari segala sesuatu adalah milik Tuhan, ia juga tidak mengingini milik Tuhan yang Tuhan percayakan kepada orang lain.

Orang yang menyadari bahwa segenap hidup milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan cenderung tidak membanggakan apa yang ada padanya demi kehormatan dan kemuliaan dirinya sendiri. Dengan demikian baginya melakukan suatu bagi pekerjaan Tuhan bukanlah sebagai suatu pemberian, tetapi pengembalian. Orang-orang seperti ini tidak akan merasa berjasa dalam pelayanan dan tidak menuntut penghargaan atau pengakuan.

Saudaraku,
Akhirnya orang yang menyadari bahwa segenap hidupnya milik Tuhan dan bersedia dipakai oleh Tuhan cenderung memiliki kesediaan untuk hidup dalam pengendalian Tuhan.