SURAT GEMBALA Surat Gembala
28 May 2017

Saudaraku,

Ketika kita menyaksikan tetes air mata pecah di pelupuk mata ibu Veronica Tan, istri dari bapak Basuki Tjahaja Purnama, saat membacakan tulisan tangan suaminya untuk para relawan dan pendukung Ahok, hati kita sangat miris. Miris sekali. Ada duka yang sangat mendalam di hati kita. Tanpa disadari kita ikut menangis bersama. Di kedalaman hati kita ada tangisan yang menyesakkan dada. Sulit membantah suara hati berteriak nyaring bahwa ini adalah ketidakadilan. Sulit juga membantah adanya fakta tersudutnya kelompok minoritas di dalam minoritas. Walaupun banyak suara mencoba meneduhkan, bahwa ini adalah proses dari peradilan, tetapi suara hati sudah terlanjur berdendang demikian.

Ketika ketidakadilan seakan-akan memperoleh kemenangan dan orang baik tertindas serta kehilangan hak-haknya secara proporsional, kita menjadi marah. Sementara kita bermaksud hendak menegakkan keadilan, tetapi kita tidak berdaya sama sekali. Kita hanya bisa menjadi marah, tetapi tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Ingat pesan bapak Basuki agar kita tidak berdemo turun ke jalan mengganggu ketertiban lalu lintas, sama seperti yang mereka lakukan untuk memaksakan kehendak. Beliau juga mengingatkan agar jangan membuka peluang bagi kelompok tertentu untuk menunggangi usaha orang-orang baik yang bermaksud menyuarakan keadilan. Kita harus membuktikan bahwa kita adalah anggota masyarakat yang dewasa, beradab dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Kita harus membuktikan bahwa kita mencintai NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika.

Saudaraku, inilah dunia. Di manapun dunia dipenuhi orang-orang jahat yang melakukan berbagai ketidakadilan. Ketika ketidakadilan seakan-akan memperoleh kemenangan, sesungguhnya inilah saat di mana kejahatan manusia sedang dimatangkan. Kejahatan sedang “disempurnakan”, agar para pelaku ketidakadilan semakin pantas mendapatkan hukuman. Inilah yang dikatakan oleh Firman Tuhan bahwa yang jahat akan berlaku jahat. Kita menyaksikan dengan mata telanjang bagaimana mereka terus terang tanpa malu-malu melakukan berbagai tindakan yang menciderai sesamanya dan berbagai perbuatan yang hina. Mereka mencoba mengemukakan berbagai alasan atas tindakan yang mereka lakukan untuk dapat membenarkan diri, tetapi pada dasarnya mereka adalah orang-orang jahat. Pikiran mereka hanya tertuju pada uang, kedudukan dan kepentingan kelompoknya sendiri. Biasanya juga kepuasan libido seks.

Tuhan tidak tidur, artinya semua masih dalam kontrol dan kendali Tuhan. Kalau seakan-akan Tuhan bungkam, berdiam diri, sembunyi dan tidak berdaya, sebenarnya tidaklah demikian. Tuhan adalah Penguasa semesta alam yang tidak pernah terlelap. Kalau Tuhan tidak berbuat apa-apa sekarang, bukan berarti Tuhan akan selalu berdiam diri terus menerus. Ada saatnya Tuhan bertindak. Firman-Nya mengatakan bahwa … bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. Ada pengadilan yang akan digelar oleh Tuhan. Semua manusia termasuk para hakim-hakim dunia yang sekarang ini menghakimi sesamanya secara tidak adil, akan diperhadapkan kepada pengadilan-Nya. Kita hanya menunggu waktu saja.

Kalau orang-orang jahat sedang dimatangkan kejahatannya, kita harus memasuki proses dimatangkan kesucian kita. Keadaan dunia yang jahat dan tidak adil ini menginspirasi kita agar kita tidak ikut terjerembab ke dalam lubang yang sama. Harus selalu kita ingat bahwa pengadilan Tuhan pasti berlangsung dengan adil. Sebagai orang yang ber-Tuhan, kita harus dapat membuktikan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang benar. Untuk itu kelakukan kitalah yang membuktikannya. Pembelaan bagi Tuhan kita bukanlah dengan tindakan kekerasan dengan menggunakan kekuatan fisik, tetapi perilaku yang agung seperti perilaku Tuhan Yesus yang kita sembah. Tuhan Yesus yang suatu hari menjadi Hakim akan menghakimi setiap orang menurut perbuatannya. Kalau dalam hidup ini kita hidup mengikut jejak-Nya, artinya hidup sama seperti hidup-Nya, maka pengadilan Tuhan bukan sesuatu yang menakutkan sama sekali. Penghakiman Tuhan menjadi momentum di mana kita menunjukkan kesetiaan kita kepada Tuhan.

Dari saudaramu,
Erastus Sabdono