Yesus Yang Lain
01 September 2017

Dalam 2 Korintus 11:3-4 tertulis: Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima. Kalimat “Yesus yang lain” dalam ayat ini menunjukkan adanya pemberitaan Firman yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Mereka mengajarkan Yesus yang sebenarnya bukan Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru.

Ternyata dari dulu memang sudah ada orang-orang yang memberitakan Yesus yang lain kepada jemaat. Namanya sama, yaitu Yesus, tetapi bukanlah Pribadi yang dimaksud oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dengan demikian Yesus yang diajarkan adalah Yesus yang palsu. Mengenai hal ini, Paulus juga menyinggung di dalam Galatia 1:6-8, Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik daripada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Akibat pemberitaan Yesus palsu ini sangat fatal. Pikiran orang percaya dapat disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus. Kata disesatkan dalam teks aslinya adalah phthare (φθαρῇ), dari akar kata phtheiro (φθείρω) yang artinya juga menghancurkan atau merusak (to ruin, to spoil, to corrupt). Sedangkan kata kesetiaan berasal dari kata haplotetos (ἁπλότητος) dari akar kata haplotes (ἁπλότης), yang artinya kesederhanaan, ketulusan, kejujuran (simplicity, sincerity, frankness). Kata haplotes menunjukkan sikap hati yang semestinya dimiliki orang percaya yang benar karena meneladani Tuhan Yesus.

Dalam hal tersebut orang yang tidak menemukan Yesus yang sejati dapat dilihat perilaku hidupnya yang tidak memiliki kesederhanaan dan ketulusan yang agung. Memang mereka tidak menjadi jahat, tidak amoral, dan tidak melanggar hukum, tetapi mereka tidak menampilkan keagungan suatu pribadi yang mewakili Tuhan Yesus dalam hidup keseharian. Faktanya, tidak sedikit orang Kristen, aktivis gereja bahkan rohaniwan yang memang tidak didapati tercela secara moral umum, tetapi tidak menampilkan kesederhanaan dan ketulusan yang kuat. Sehingga mereka tidak dapat mewakili Tuhan Yesus di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa keselamatan yang disediakan oleh kasih karunia Tuhan Yesus belum mereka miliki, sebab keselamatan membawa seseorang kepada pribadi seperti Yesus.

Paulus menyamakan keadaan orang yang menerima Yesus yang lain tersebut dengan Hawa yang diperdaya oleh ular dengan kelicikannya. Ini berarti kesesatan ini jelas dapat membuat seseorang memiliki sikap memberontak kepada Tuhan, atau paling tidak memiliki sikap yang tidak sepantasnya di hadapan Tuhan. Memang, pada mulanya Hawa tidak bermaksud secara langsung melawan Tuhan, tetapi dengan terhasut oleh ular melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka hal tersebut menempatkan Hawa dan Adam sebagai pemberontak di hadapan Tuhan. Dalam hal ini menjadi pemberontak di hadapan Tuhan bukan hanya kalau seseorang menjadi manusia yang melanggar hukum, tetapi ketika seseorang tidak mengikuti teladan Yesus dalam seluruh perilakunya, berarti tidak dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan. Keadaan ini adalah keadaan orang yang tidak melakukan kehendak Bapa.