Yesus Melengkapi
09 July 2019

Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 5:17). Taurat artinya hukum. Sumber dari seluruh hukum dan perundang-undangan bangsa Israel adalah Sepuluh Perintah Allah atau Dekalog. Jadi berbicara mengenai hukum Taurat menunjuk pada Dekalog ini. Hukum Taurat merupakan pencerminan kesucian Allah. Dengan melakukan hukum Taurat, seseorang melukis kesucian Allah dalam hidupnya. Sehingga hidup seseorang berkualitas atau memiliki hidup yang kekal. Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan hal ini (Mat. 19:16-19). Hukum Taurat menciptakan kesucian atau hidup dalam kualitas tertentu. Inti hukum tersebut dijabarkan dalam berbagai peraturan dalam kehidupan bangsa Israel. Hal ini membuat bangsa Israel memiliki kesantunan hidup yang tinggi.

Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum, tetapi menggenapi. Kata “meniadakan” dalam teks aslinya adalah kataluo (καταλύω), yang memiliki pengertian selain to destroy atau demolish (meniadakan atau menghancurkan), juga berarti to dissolve, disunite (melarutkan, meremukkan). Tuhan Yesus datang untuk menggenapi hukum, bukan menghancurkan. Kata “menggenapi” dalam teks aslinya adalah pleroo (πληρό), yang artinya juga “memenuhi.” Dari pernyataan Tuhan Yesus -bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan- Dia hendak menegaskan kepada pendengar-Nya pada waktu itu bahwa Ia datang bukan untuk membuat orang tidak berhukum dan mengkhianati Taurat, tetapi sebaliknya membuat manusia bisa melakukan hukum dengan sempurna. Tuhan Yesus menggenapi hal tersebut di dalam diri-Nya dan mengajarkan kepada para pengikut-Nya untuk menggenapinya juga dalam hidup mereka.

Orang percaya tidak boleh berpikir bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang menggenapinya -yaitu dengan melakukannya bagi orang percaya- melainkan Tuhan Yesus sendiri memerintahkan agar orang percaya sempurna seperti Bapa; hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Yang sama dengan menggenapi hukum Taurat. Orang percaya harus kudus seperti Allah sendiri kudus. Setelah Tuhan Yesus berhasil mencapai kesempurnaan (melakukan hukum dengan sempurna) maka Ia menjadi pokok keselamatan bagi orang percaya (pokok artinya penggubah – Yun. aitios). Orang percaya diubah menjadi seperti diri-Nya, tentu bagi yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9). Maksud kalimat “bagi yang taat kepada-Nya” adalah mereka yang berusaha meneladani gaya hidup Tuhan Yesus, yaitu melakukan hukum plus sempurna seperti Bapa. Untuk ini seseorang harus sungguh-sungguh berjuang keras.

Dalam perjalanan dari Mesir ke Kanaan, Musa merumuskan Taurat (hukum) dalam pimpinan Tuhan sendiri berupa Sepuluh Perintah Allah yang diterimanya di Gunung Sinai. Hukum Taurat diberikan kepada Bangsa Israel supaya hidup mereka tertib. Perlu diingat bahwa Bangsa Israel pada waktu itu baru keluar dari Mesir. Mereka bangsa budak yang tentu saja bodoh, tidak berpendidikan, dan kurang beradab atau kurang santun. Sekarang mereka menjadi umat pilihan yang harus memiliki kesantunan hidup sebagai bangsa yang bermartabat. Itulah sebabnya hukum atau peraturan diberikan supaya mereka menjadi bangsa yang terhormat, dan suatu hari nanti bisa dipercayai untuk membangun suatu pemerintahan Teokrasi; pemerintahan di mana Allah sebagai pemimpinnya. Hukum tidak hanya untuk Bangsa Israel, tetapi juga untuk semua bangsa di seluruh dunia, sebab itulah satu-satu hukum yang diberikan Allah kepada semua manusia. Hukum ini sangat penting.

Mengapa begitu pentingnya Taurat atau hukum dalam kehidupan manusia? Sebab sesuai dengan Injil bahwa setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya (Mat. 16:27; Rm. 2:6,12; 2Kor. 5:9-10; 1Ptr. 1:17; Why. 2:23; 20:12,13; 22:12). Taurat diberikan selain untuk menertibkan, juga untuk menjadi bukti suatu kesalahan yang telah dilakukan (Rm. 4:15). Jika tidak ada Taurat, maka berarti tidak ada pelanggaran, artinya suatu perbuatan yang salah tidak terbukti dinyatakan sebagai suatu pelanggaran atau kesalahan. Itulah sebabnya langit dan bumi akan lenyap tetapi Taurat tidak, sebab Taurat menjadi ukuran dalam penghakiman. Mereka yang tidak memiliki Taurat yang tertulis di atas loh batu dihakimi menurut hukum yang tertulis di dalam hati mereka (Rm. 2:12-15). Dalam hal ini hukum Taurat dari Bangsa Israel -yaitu Dekalog Bangsa Israel yang tertulis di atas loh batu- menjadi landasan atau sumber perundang-undangan dan sebagai pembuktian suatu kesalahan atau kebenaran.

Di akhir zaman nanti semua manusia akan dihakimi atas segala perbuatan mereka yang dialaskan pada hukum Taurat. Manusia yang dipandang diperkenan oleh Tuhan Yesus bisa masuk dunia yang akan datang. Jika tidak, maka akan terbuang dari hadirat Allah selama-lamanya. Betapa bodohnya kalau orang Kristen berpikir bahwa mereka tidak akan dihakimi lagi. Paulus sendiri menyatakan bahwa ia harus menghadap takhta pengadilan Allah (Yun. Bema, βῆμα) (2Kor. 5:9-10). Dari perbuatan seseorang akan nampak kehidupan imannya. Kehidupan yang berkenan adalah ciri iman yang benar.