Yesus, Kebenaran Kita
26 August 2017

Pemahaman yang salah mengenai Yesus sebagai kebenaran, dijadikan sebagai alasan oleh mereka untuk pembenaran diri. Sungguh sangat benar bahwa kita tidak boleh membangun kebenaran kita sendiri, tetapi kebenaran oleh iman kepada anak Allah, sehingga Tuhan Yesus menjadi kebenaran kita (Flp. 3:9-10). Yesus menjadi kebenaran kita memiliki dua arti. Pertama, bahwa hanya oleh korban-Nya manusia dapat diperdamaikan dengan Allah. Tidak ada jalan lain untuk ini. Allah menerima kita karena melihat darah yang dicurahkan, sehingga kita diperkenan menjadi anak-anak Allah. Banyak orang Kristen terkunci dalam kebodohan. Mereka merasa diri sudah dibenarkan. Kemudian merasa sudah selamat tanpa perjuangan untuk menjadi sempurna

Mereka memandang bahwa Allah Bapa melihat Yesus yang sudah sempurna menudungi atau melingkupi atau menutupi orang percaya, dan orang percaya bersembunyi di balik jubah Tuhan Yesus. Seakan-akan semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Yesus, sudah benar di mata Allah, karena Yesus menjadi kebenaran mereka. Sehingga mereka merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah dan tidak perlu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bertumbuh menjadi sempurna. Mereka salah memahami pengertian bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik. Hal ini juga didasarkan pada pernyataan Kitab Suci bahwa perbuatan baik seperti kain kotor. Mereka tidak melihat konteks bahwa ayat itu muncul di zaman Yesaya, di mana tidak ada yang baik di antara bangsa Israel. Kalau ada kebaikan, maka kebaikannya seperti kain kotor.

Setelah kita ditebus oleh darah Yesus dan diperdamaikan dengan Allah, maka kita harus memberi diri untuk diubah. Sebab itulah ada proses pemuridan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui Roh Kudus (Mat. 28:18-20). Berusaha hidup sempurna bukan untuk meraih keselamatan, sebab kita sudah ada dalam keselamatan. Menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus merupakan panggilan istimewa bagi umat yang terpilih untuk bertumbuh menjadi seperti Yesus, agar dilayakkan masuk menjadi anggota keluaraga Kerajaan, yang nantinya akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Perlu digaris bawahi di sini, menjadi anggota keluarga Kerajaan tidak sama dengan menjadi anggota masyarakat. Menjadi orang Kristen proyeksinya adalah menjadi anggota keluarga Kerajaan. Itulah sebabnya hidup selama 70-80 tahun sesungguhnya hanya persiapan untuk masuk ke dalam Rumah Bapa. Tidak ada tujuan lain selain hal ini.

Maksud kedua dari kalimat bahwa Yesus menjadi kebenaran kita adalah bahwa perilaku kita harus berstandar diri Yesus sendiri. Yesus adalah pola dengan mana kita membangun diri kita. Dia adalah model kita, sebab Dia adalah pokok keselamatan. Pokok keselamatan artinya penggubah (Yun. Aitios). Orang percaya tidak mengenakan hukum manapun sebagai kebenaran, tetapi Yesus sebagai hukumnya. Dengan demikian karakter Yesus dengan segala prinsip-Nya adalah kebenaran kita. Itulah sebabnya Paulus bisa mengatakan bahwa hidupnya bukan dia lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam dirinya.

Sesungguhnya mengemukakan alasan-alasan di atas tersebut hanyalah usaha untuk membenarkan diri ketika mereka tidak berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Alasan-alasan tersebut membuat gairah hidup seorang Kristen menjadi padam untuk menjadi sempurna. Pada dasarnya mereka tidak mau mengikut Yesus dengan benar, dengan segala pertaruhan yang harus ditaruh. Pertaruhan mengikut Yesus adalah kesediaan untuk hidup sama seperti Dia hidup. Sesungguhnya percaya kepada Yesus bukan hanya mengakui statusnya sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan perkataan atau pikiran. Percaya kepada Yesus seharusnya mengikuti jejak-Nya, yaitu hidup sama seperti Dia hidup.