Upah Atas Iman
27 February 2018

Dalam Roma 4:1 terdapat kalimat: Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Mengindikasikan seakan-akan Paulus mengatakan: Apakah kita bisa atau mau menyalahkan tindakan Abraham? Sebaliknya, apakah kita mau mencontoh atau meneladani tindakan Abraham? Abraham dibenarkan oleh Allah bukan karena sistem keagamaan bangsa Yahudi. Abraham hanya memercayai apa yang dikatakan Tuhan. Tentu saja percayanya Abraham bukan hanya dalam pikiran dan di mulutnya. Percaya Abraham adalah percaya dalam tindakan. Abraham tidak memiliki agama, liturgi dan hukum atau syariat, tetapi hidupnya dalam penurutan total terhadap kehendak Allah. Ia tidak beragama, tetapi ber-Tuhan. Berbeda dengan orang-orang hari ini yang beragama tetapi tidak ber-Tuhan.

Pada waktu Abraham dibenarkan oleh Allah, ia ada dalam situasi yang sangat sulit. Abraham sudah meninggalkan Urkasdim, bertahun-tahun menanti kelahiran anak tetapi tidak kunjung datang, sampai ia putus asa dan hendak mewariskan kekayaan kepada hambanya. Ketika Allah menyuruh Abraham memandang langit dan menghitung bintang, Allah mengatakan bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit, mestinya Abraham makin tidak menaruh percaya kepada Yahweh, tetapi Abraham percaya. Memang percaya ada dalam batin dan pikiran, tetapi harus dipahami bahwa Abraham sudah bertindak menuruti Allah, lagi pula Allah tahu seberapa percayanya Abraham kepada Diri-Nya. Itulah yang diperhitungkan oleh Allah sebagai kebenaran.

Hal ini tidak bisa disamakan dengan orang Kristen yang hanya dalam pikiran merasa setuju bahwa Yesus adalah Juruselamat dan mengaku dengan mulutnya, lalu merasa bahwa dirinya sudah bisa dibenarkan. Di dalam pikiran banyak orang Kristen bahwa syarat pembenaran adalah menyetujui bahwa Yesus adalah Juruselamat (secara status) dan mengakuinya di mulut. Mereka sudah merasa telah memiliki kesejajaran dengan tindakan Abraham. Padahal kualitas hidup Abraham dari tindakannya yang memenuhi syarat untuk bisa memperoleh pembenaran dari Allah, sangat jauh berbeda dengan kualitas hidup banyak orang Kristen hari ini.

Harus diingat bahwa percaya itu bukan hanya aktivitas nalar tanpa pertaruhan. Abraham percaya kepada Allah dengan mempertaruhkan segenap hidupnya. Sejak ia menuruti perintah Allah, Abraham kehilangan seluruh hidupnya. Keadaannya adalah keadaan yang sulit dan ia dibawa Tuhan kepada kemustahilan. Tuhan sengaja tidak memberi dia anak, sampai usianya menjelang 100 tahun. Dari hal ini diuji apakah Abraham “berani” melakukan tindakan yang menunjukkan percayanya. Hal ini sangat berbeda dengan sebagian orang Kristen hari ini yang hanya dalam pikiran setuju bahwa Yesus adalah Juruselamat tanpa berusaha mengikuti jejak hidup Tuhan Yesus. Sementara mulutnya mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, mereka masih mengikuti jalan dunia. Mereka tidak meninggalkan keduniawian, tidak seperti Abraham meninggalkan Urkasdim. Banyak orang Kristen yang imannya atau percayanya palsu. Mereka adalah orang-orang yang belum dibenarkan.

Selanjutnya, dalam Roma 4:4-5 tertulis: Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Hendaknya kalimat-kalimat dalam ayat ini tidak dipahami dengan premis yang sudah salah. Betapa banyak teolog dan orang Kristen yang tidak memahami dengan benar ayat ini, sehingga mereka mengartikan dangkal, miskin, dan murahan terhadap pengertian iman dalam ayat ini. Kesimpulan salah yang menyesatkan dalam pikiran mereka adalah bahwa dengan persetujuan pikiran, tanpa tindakan, orang Kristen bisa dibenarkan.

Dalam Roma 4:4-5 Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa iman boleh dimiliki tanpa tindakan sama sekali, sehingga hanya dalam pikiran dan pengakuan mulut saja. Dan hal itu sudah cukup membuat seseorang mendapat pembenaran. Ini adalah iman palsu, iman yang tidak menyelamatkan dan tidak mendatangkan pembenaran. Harus diperhatikan dengan teliti, dalam pernyataan Paulus tersebut, ia berbicara mengenai “orang bekerja”. Orang yang bekerja patut mendapat gaji atau upah. Upah itu haknya. Ini adalah sistem kerja yang sudah ada sejak dulu. Kalau seseorang bekerja tidak mendapat upah, berarti melawan sistem. Sebaliknya, kalau seseorang tidak bekerja tetapi mendapat upah, itu juga berarti melawan sistem atau bertentangan dengan sistem.

Abraham “tidak bekerja seperti orang Yahudi” yang berusaha melakukan hukum supaya mendapat pembenaran. Abraham tidak memiliki hukum dan tidak berusaha melakukan hukum seperti orang-orang Yahudi. Tetapi Abraham memiliki iman, artinya percaya segala sesuatu yang dikatakan oleh Elohim Yahweh dan ia berusaha melakukannya. Bahkan untuk perintah yang paling berat dan tidak bisa ia mengerti seperti menjadikan Ishak sebagai korban bakaran. Ketaatan atau penurutan terhadap kehendak Allah itulah yang disebut iman. Dan Abraham mendapat upahnya, walau ia tidak bekerja artinya tidak menuruti hukum-hukum seperti orang beragama pada umumnya.