Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali
14 February 2021

Play Audio

Sejak narasi kejatuhan manusia dalam dosa pada Kejadian 3, kita dapat melihat bahwa manusia mulai memiliki dirinya dan tidak hidup di bawah pemerintahan Allah. Dalam Kejadian 4, kita melihat terjadi pembunuhan terhadap Habel. Pembunuhan tersebut sebenarnya bisa dikatakan pembunuhan yang jumlahnya besar. bukan secara angka, melainkan rasio, dengan jumlah penduduk yang waktu itu baru ada 4 orang. Pembunuhan Habel merupakan pembunuhan dari seperempat penduduk bumi. Kendati Kain sudah berbuat dosa dengan melakukan pembunuhan, tapi Allah masih memberikan perlindungan terhadapnya berupa ancaman bagi orang yang membunuh Kain, yaitu pembalasan sebanyak 70 kali lipat. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar orang jangan membunuh Kain. Dikhawatirkan ada manusia dari keturunan Adam yang lain bisa dendam terhadap kejahatan yang dilakukan Kain, mengingat banyaknya keturunan Adam yang dapat direproduksi pada masa itu. Jika dipertanyakan, “mengapa Allah memproteksi Kain?” Hal ini dapat dijawab karena itu adalah kejahatan pertama yang dilakukan manusia. Saat itu manusia belum mengerti banyak tentang kasih dan perlindungan terhadap sesama.

Setelah kisah pembunuhan tersebut, kejatuhan manusia dalam dosa terus-menerus dicerminkan dalam teks-teks berikutnya. Adapun Lamekh, keturunan Kain, dalam keangkuhan berkata: “Jika Kain harus dibalaskan 70 kali lipat, maka Lamekh 70 x 7 lipat.” Dalam bahasa Inggris, ungkapan ini dapat memiliki makna yang sama dengan 70 kali 7 kali seperti yang diajarkan Tuhan Yesus kepada orang percaya dalam mengampuni orang lain. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 kali 7 dari Lamekh itu, Yesus mengajarkan pengampunan 70 dikali 7 kali. Hal ini digambarkan dalam kalimat: “Ampunilah kami akan kesalahan kami; bebaskan kami dari utang kami, seperti kami membebaskan utang orang yang berutang kepada kami.” Tuhan memberikan standar untuk orang percaya sebagai kebalikan dari ambisi Lamekh dalam kebenciannya. Dalam kebiasaan orang Yahudi, mereka biasa memberikan pengampunan 3 kali, tetapi Petrus mencoba mengemukakan sesuatu yang menurutnya luar biasa, yakni 7 kali. Menanggapi hal ini, Tuhan berkata bahwa 7 kali juga tidak cukup. Harus 70 dikali 7 kali. Kebenaran Firman Tuhan ini merupakan antitesis atau pembanding dari apa yang dikatakan oleh Lamekh. Ini mengarahkan kita bahwa Allah hendak mengembalikan manusia ke rancangan semula, yakni manusia yang memiliki hati pengampunan yang luas seperti Tuhan sendiri.

Ketika seseorang berani berkata bahwa ia percaya kepada Yesus, hal ini menunjukkan bahwa ia harus berani melakukan apa yang Yesus lakukan. Kepercayaan terhadap Tuhan harus ditunjukkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan bibir saja. Dalam hal ini, orang percaya dituntut Tuhan untuk memiliki hati mengampuni seperti yang ada pada Tuhan. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak mampu untuk melakukan hal ini. Namun sebenarnya, ketika seseorang berhasil mengampuni sesamanya, maka ia akan naik ke level berikutnya. Semakin sering kita mengampuni, maka akan semakin tinggi kapasitas pengampunan yang dapat kita berikan. Dalam hal ini, memang terdapat unsur pembiasaan atau latihan yang harus dijalani orang percaya. Hati yang mengasihi tidak dapat diberikan secara otomatis hanya karena seseorang percaya kepada Yesus. Setelah percaya kepada Yesus, ia harus memberi dirinya dilatih oleh Tuhan untuk memiliki hati seperti-Nya.

Yesus berkata dalam Matius 18:35, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Dari kalimat ini, kita dapat menangkap kualitas pengampunan yang dikehendaki Tuhan untuk dimiliki orang percaya. Jika kita mengaku mengampuni orang, apakah pengampunan tersebut telah diberikan dengan segenap hati? Pembunuhan dan kebencian adalah karakter yang menonjol setelah manusia kehilangan kemuliaan Allah. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 dikali 7 kali dari Lamekh itu, Yesus mengajarkan pengampunan 70 dikali 7 kali. Kualitas pengampunan yang diingini Tuhan adalah kualitas pengampunan yang penuh. Dengan demikian, berlaku prinsip “bukan seberapa besar kita telah mengampuni seseorang, tetapi bagian kecil mana yang masih kita sisakan untuk menaruh perasaan benci?” Tuhan menghendaki kita untuk memberi pengampunan secara total, seperti yang diungkapkan dengan istilah “tujuh puluh dikali tujuh kali.”