Tuhan Menarik Diri
21 October 2017

Ketika seorang hamba Tuhan dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan kuasa Allah atau membuat mukjizat, pada waktu itu ia mendapat tanggung jawab untuk bisa memikul beban sebagai orang yang harus dapat dipercayai oleh Tuhan. Kalau kemudian ia menyimpang seperti yang terjadi dewasa ini atas hamba-hamba Tuhan atau pendeta-pendeta tertentu – yaitu jatuh dalam dosa kesombongan, memalsukan karunia, jatuh dalam dosa materi atau uang, dosa seks, dan dosa haus kekuasaan – hal itu disebabkan kehendak bebasnya memilih hal tersebut. Selanjutnya, ia harus memikul akibatnya. Harus selalu diingat bahwa yang diberi banyak dituntut banyak. Jadi, kepada hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa hari ini, mereka harus menyadari adanya tuntutan yang harus dipenuhi. Semakin banyak karunia diberi, maka tanggung jawabnya pun semakin sangat besar.

Ketika seorang hamba Tuhan sudah jatuh atau menyimpang, apakah masih dapat melakukan mukjizat? Biasanya, Tuhan mulai mengurangi intensitas dan volume mukjizat yang terjadi. Tuhanpun memberi beberapa peringatan dengan berbagai hal. Berbagai hal tersebut bisa berupa jatuh sakit, mendapat kecelakaan, dan lain sebagainya, tetapi kalau ia masih tidak bertobat maka Tuhan bisa menghentikan dengan membongkar dosanya di depan umum, atau mempermalukannya sehingga ia tidak akan dapat lagi berbicara di depan umum atau memiliki massa. Tuhan pun tidak akan melakukan mukjizat lagi melalui orang itu.

Biasanya kalau mukjizat mulai berkurang, maka sebagai kompensasinya adalah mengada-ada kesaksian. Kesaksian mukjizatnya pun mulai banyak yang palsu. Kemungkinan lain, mukjizat tersebut tetap terjadi oleh karena umat membutuhkan lawatan-Nya. Hal ini bisa karena iman jemaat itu sendiri, bukan karena hamba Tuhan yang sudah menyimpang. Bisa juga terjadi suatu kesembuhan Ilahi karena aspek psikologi, seperti misalnya aspek plasebo. Dari penemuan bidang psikologi, keyakinan diri dapat sembuh dari sakit dapat menyembuhkan diri pasien.

Harus dipertimbangkan bahwa atas hamba Tuhan atau pendeta yang tidak mau bertobat, mukjizat juga bisa terjadi disebabkan kuasa kegelapan berintervensi. Harus diingat, Iblis pun dapat mengadakan mukjizat. Kesembuhan karena kuasa kegelapan tidak akan membuat orang itu hidup benar. Ia hanya membanggakan kesembuhan ilahinya tanpa berubah semakin sempurna. Biasanya orang seperti ini memuj-muji hamba Tuhan yang mendoakannya. Hal ini menyempurnakan penyimpangan atau kerusakan hamba Tuhan tersebut. Dalam hal ini kita dapat menemukan, sebuah ciri dari pelayanan yang menyimpang selalu menekankan mukjizat dan membanggakan fenomena tersebut sehingga semakin mengkultuskan manusia dan membuat orang fokus pada kuasa Tuhan, bukan kepada kebenaran-Nya.

Perlu dipahami bahwa orang yang menjadi Kristen karena mukjizat, belumlah dapat dikatakan sebagai beriman kepada Yesus. Beriman berarti melakukan kehendak Tuhan. Untuk melakukan kehendak Tuhan seseorang harus belajar memahami kebenaran yang utuh dan lengkap. Dan untuk memahami kebenaran secara utuh dan lengkap membutuhkan waktu untuk prosesnya. Jadi, orang yang menjadi Kristen karena mukjizat belumlah dapat dikatakan sudah diselamatkan atau sudah menjadi anak Allah.

Terkait dengan pengusiran roh jahat, seorang yang mengusir setan bukanlah ciri hamba Tuhan yang benar, sebab orang di luar Kristen pun juga dapat mengusir setan. Jadi kalau seseorang bisa mengusir setan bukan berarti ia berasal dari Allah. Namun demikian perlu dicatat di sini, bahwa ketika seorang hamba Tuhan bertemu dengan orang yang kerasukan setan, maka nampak kualitas hidup kesuciannya. Wibawa seseorang terhadap kuasa kegelapan menunjukkan kualitas hidupnya setiap hari.