Tuhan, Engkau Problemku Satu-satunya
11 January 2021

Play Audio

Dalam hidupnya, manusia tidak mungkin lepas dari problem; manusia tidak mungkin lepas dari persoalan. Bahkan, persoalan atau problem yang benar itu akan dialami seseorang bukan hanya selama di dunia. Di kekekalan pun ini menjadi masalah atau menjadi problem; di surga pun menjadi masalah atau problem. Problem apa yang masih ada di surga? Bedanya memang, problem itu kalau di dunia ini diusahakan dengan kesukaran. Tapi kalau di surga, tidak. Problem apa itu? Problem itu adalah Tuhan sendiri. “Tuhan, itulah problem-ku.” Pada umumnya, yang dijadikan problem adalah sakit-penyakit, belum memiliki jodoh, belum memiliki anak, belum memiliki pekerjaan, belum memiliki rumah pribadi, dsb. Tetapi orang percaya yang benar akan berkata: “Tuhan, Engkau satu-satunya problem-ku. Problem-ku adalah bagaimana aku hidup menyenangkan Engkau dan tidak mendukakan hati-Mu.” Itu problem utama yang harus kita perjuangkan selama kita di dunia, dan itu berat. Kenapa berat? Karena kita memiliki kodrat dosa. Sementara kita memiliki kodrat dosa, kita mau hidup seturut dengan kehendak roh. Padahal, kehendak roh bertentangan dengan kehendak daging, sehingga terjadi pergumulan, pergulatan yang luar biasa.

Kita anggap ini problem, karena kita menghadapi diri kita yang egois, yang masih mau dipuaskan atau disenangkan, sementara kita harus menundukkan diri sepenuh kepada Allah. Ini problem-nya. Oleh sebab itu, tidak mungkin kita tidak memiliki perjuangan. Pasti ada perjuangan. Ini yang dikatakan oleh Yesus, “masuklah jalan sempit. Karena banyak orang berusaha tapi tidak bisa masuk.” Dan memang, banyak orang yang dipanggil, sedikit yang dipilih. Jadi, keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita itu bukan sesuatu yang membuat kita mudah masuk surga. Keselamatan membuat pintu surga terbuka, tapi untuk masuk surga itu, kita harus berjuang. Berjuang untuk menjadi manusia yang layak masuk Kerajaan itu. Sama seperti kita dapat mobil. Mobil itu anugerah, kita tidak beli. Mobil itu kasih karunia. Tetapi untuk bisa mengendarai mobil itu, itulah persoalannya. Kita harus belajar mengendarai mobil.

Ini serupa dengan hal keselamatan, sama persis. Keselamatan diberikan gratis, pintu surga dibuka. Tapi untuk masuk dan layak menjadi anak-anak Allah, itu perjuangan atau pergumulan. Oleh sebab itu, kita harus membebaskan diri dari segala problem. Kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai problem, kecuali apakah itu mendukakan hati Allah atau menyukakan-Nya. Kalau kita masih menjadikan segala sesuatu masalah, maka kita akan terbelenggu di situ dan akan terseret masuk neraka. Tapi kalau kita berkata: “Problemku hanya Tuhan, yaitu bagaimana aku bisa menyenangkan hati-Nya,” maka kita akan diarahkan menjadi manusia yang hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Oleh sebab itu, jangan ada belenggu atau ikatan-ikatan yang membuat kita tidak fokus kepada Tuhan.

Kalau kita membaca tulisan Paulus, begitu ekstremnya. Dia berkata begini: “Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah kau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu? Selanjutnya, hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.” “Hidup di dalam keadaan seperti pada waktu dipanggil Allah” bagi Paulus adalah dia tidak menikah. Paulus memiliki prinsip, seorang yang beristri, hidupnya akan tergerus menyukakan istri. Orang yang punya suami, hidupnya tergerus untuk menyukakan suami. Apakah salah? Tentu tidak. Selama kita tidak mengabaikan hal yang utama dalam hidup ini, yaitu menyukakan hati Allah. Karena itu merupakan satu-satunya problem kita.

Oleh sebab itu, kalau seorang pria memilih jodoh salah, atau sebaliknya, seorang wanita memilih jodoh yang salah, dia membuat problem. Problem yang tidak efektif. Kecuali dia bertobat lalu betul-betul Tuhan bisa pakai, masalah rumah tangganya menjadi sarana Tuhan untuk menyempurnakan dia. Bisa. Namun jika seseorang itu malas, korupsi, lalu masuk penjara, ia hidup susah, itu mengganggu. Mestinya, kita tidak perlu mengalami problem itu. Makan sembarangan, pola makan sembarangan, sakit, ini juga membuat problem. Bukan problem ini yang dikehendaki Allah, walaupun Allah bisa juga memakai semua masalah dan problem untuk mendewasakan kita.

Problem kita pada intinya adalah bagaimana kita menyukakan hati Allah. Kalau Paulus begitu ekstremnya sampai ia berkata, “kamu tidak usah menikah, seperti aku tidak menikah.” Mengatakan ini bukan berarti menikah itu salah. Tidak. Bagi orang yang memang dikehendaki Allah untuk menikah, menikahlah dan jadilah berkat sebagai ibu rumah tangga atau bapak rumah tangga. Menikahlah di tempat di mana engkau berada. Tetapi, jangan menikah karena engkau mau mencari kebahagiaan. Itu berarti engkau mendewakan sesuatu, termasuk pernikahan dan pasangan hidupmu. Yang harus kita tetap junjung tinggi adalah Allah, Tuhan, bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Dia.

Dalam 1 Korintus 7:32 dikatakan, “Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.” Tingkat ekstremnya sampai pada di situ. Jadi, jika orang yang beristri memusatkan perhatiannya kepada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan hati-Nya? Dengan demikian, perhatiannya terbagi-bagi. Secara logika begitu. Tapi dengan membaca ayat ini, bukan berarti kita tidak boleh menikah, atau kalau kita menikah, salah. Tidak. Tentu kita harus gumuli, apakah yang kita lakukan itu benar-benar menyenangkan Tuhan, karena Tuhan berkata, “baik engkau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Demikian pula dikatakan di ayat berikutnya, dan dengan demikian, perhatiannya terbagi-bagi. Kalau punya pasangan hidup, punya anak-anak, perhatiannya akan terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan.

Kemudian, Paulus menulis, “Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.” Ini yang sebenarnya harus kita perhatikan. Kalau sampai ada di antara kita yang sampai sekarang belum menikah, jangan minder, jangan merasa bahwa kita adalah orang yang kurang diberkati, kena kutuk lajang atau kutuk apa. Jangan berpikir begitu. Justru keadaan tidak menikah ini bisa menjadi kesempatan yang luar biasa untuk seseorang memusatkan diri kepada Allah. Jadi memang jangan bersikeras harus menikah. Di masa lalu, ada seorang hamba Tuhan yang pada waktu muda bersikeras mau menikah. Tapi setelah menyadari betapa pentingnya kekekalan, maka pendeta itu berkata kepada anaknya: “Kalau kamu tidak menikah, tidak apa-apa, Nak. Papa akan temani kamu sampai kita meninggal dunia, pulang ke Rumah Bapa.” Pendeta itu bisa berbicara begitu setelah ia mengerti bahwa Tuhan itu segalanya dalam hidupnya. Tuhan itu satu-satunya kebutuhannya, yaitu bagaimana ia bisa menyenangkan dan atau menyukakan hati Allah. Maka kalau dikatakan “Tuhan adalah problemku,” berarti memang Dia adalah persoalan dimana kita harus sibuk hanya untuk menyenangkan Dia.