Tuhan, Engkau Kepentinganku Satu-satunya
12 January 2021

Play Audio

Orang tidak akan pernah merasakan bahwa Tuhan itu satu-satunya kebutuhan dan kepentingannya kalau ia masih menyimpan banyak keinginan atau masih merasa memiliki sesuatu. Tuhan mengatakan bahwa kita harus melepaskan diri dari segala milik kita, baru dapat menjadi murid atau baru layak bagi Dia. Memang pada akhirnya, orang percaya yang benar itu tidak boleh merasa memiliki sesuatu dan segala keinginannya itu harus ditanggalkan kecuali satu, yaitu bagaimana hidup menyenangkan hati Allah. Ini kedengarannya ekstrem atau aneh, bukan? Tidak. Justru ini yang paling benar. Jangan lagi sibuk dengan masalah-masalah yang lain, tetapi biar fokus kita hanya ini: bagaimana kita dapat benar-benar menyukakan hati Allah. Menjadi manusia yang benar-benar menyukakan hati Allah. Jadi, segala sesuatu yang kita lakukan memang semua semata-mata hanya untuk kemuliaan Allah. Seni untuk tidak merasa memiliki sesuatu dan tidak merasa memiliki kesenangan atau memang tidak memiliki kesenangan, bukan hal yang mudah. Itu berat. Tetapi orang yang merindukan hal ini akan diproses Tuhan. Memang prosesnya juga menyakitkan.

Jadi, kalau kita berkata, “Tuhan, aku mau menjadikan Engkau satu-satunya kebutuhanku, hanya satu-satunya kepentinganku,” Tuhan pasti menggarap kita. Menggarap dengan berbagai pergumulan, persoalan-persoalan hidup, sampai kita tidak merasa memiliki sesuatu lagi. Apakah itu harta kekayaan, harga diri, pangkat, gelar kehormatan manusia, dan kita akan merasa bahwa kita memang tidak punya sesuatu. Rumah, mobil, uang, bahkan keluarga kita pun semua milik Tuhan. Ini membuat kita akan mengalami yang namanya keringanan, dan kalau orang memiliki keringanan seperti ini, maka ia bisa memiliki keriangan. Apakah ini bisa terjadi di dalam hidup kita? Bisa! Dulu saya juga tidak yakin untuk ini. Kita dulu tidak yakin. Sekarang kita yakin bahwa ini sebuah keniscayaan, sebab Tuhan sendiri yang mengajarkan kepada kita bagaimana Dia menjadi segalanya dalam hidup ini.

Kalau kita menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup ini, problem kita hanya Dia. Bagaimana kita menyukakan hati Dia, dan tidak mendukakan hati-Nya. Di dunia saja, kalau orang jatuh cinta, maka hal yang lain menjadi tidak berarti kecuali kekasihnya ini. Dia hanya ingin menyenangkan pujaan hatinya, memuaskan dia, bersama dia, dan tidak ingin melukai dia. Sama dengan kehidupan kita dalam pergaulan dengan Tuhan. Kalau kita membaca di dalam Alkitab Perjanjian Lama, misalnya Habakuk 3:17-18, umat Perjanjian Lama itu sudah memiliki prinsip-prinsip yang luar biasa seperti ini: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kkitang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Bayangkan! Mereka sudah mampu berkata: “walaupun aku dalam keadaan begini, di mata dunia itu bencana, musibah, malapetaka, kesialan, tapi bagi hamba Tuhan ini, bagi anak Allah ini, itu bukan masalah. Yang penting, Tuhan menjadi kebutuhanku satu-satunya. Yang penting Tuhan menjadi bagian hidupku.” Dalam keadaan yang terjepit pun mereka tetap berkata: “Beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Di dalam teks lain, ditulis: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm. 73:26).

Kalau orang masih tersinggung, merasa tersisih, merasa disingkirkan, merasa didzolimi, berarti ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Itu pasti ada yang salah. Tentu kita juga pernah mengalami hal ini, atau bahkan sampai sekarang juga masih berjuang untuk hal ini. Tetapi, mari kita bersama-sama mengambil satu keputusan bahwa kita mau hidup sesuai dengan kehendak Allah. Tidak merasa memiliki sesuatu. Memang segala sesuatu juga akan kita tinggalkan, dan semua yang ada ini bukan milik kita. “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Tuhan kebutuhanku satu-satunya, Tuhan kepentinganku satu-satunya. Jika kita benar-benar menjadikan Tuhan satu-satunya kebutuhan kita, kepentingan kita, kita tidak takut menghadapi apa pun. Yang penting bagi kita, kita tidak kehilangan Tuhan Yesus. Tentu saja dengan menjadikan Tuhan sebagai kepentingan kita satu-satunya, kita menjadi takut akan Allah dan hidup kita makin bersih karena kita tidak berani berbuat dosa.