Tuhan, Engkau Kebutuhanku Satu-satunya
10 January 2021

Play Audio

Setiap kita pasti merasa memiliki kebutuhan. Banyak kebutuhan kita, baik kebutuhan yang menyangkut makan, minum, maupun apa yang kita kenakan atau sandang. Selain itu, kebutuhan primer lain adalah papan atau tempat tinggal. Sandang, pangan, dan papan. Itulah yang dipahami manusia pada umumnya, kebutuhan primer. Bagi orang percaya yang belajar kebenaran, ketika kita menghayati bahwa manusia adalah makhluk kekal, maka kebutuhan primer kita menjadi hanya satu, yaitu Tuhan. Tuhan adalah kebutuhan kita satu-satunya. Tentu hal ini tidak bisa dimengerti oleh kebanyakan orang. Hal ini hanya bisa dimengerti dan dihayati oleh orang yang belajar kebenaran Firman, dan mengerti arti hidup, makna hidup. Melihat tragisnya hidup di bumi dan dahsyatnya kekekalan, baru dia bisa berkata: “Tuhan, Engkaulah satu-satunya kebutuhanku.”

Yang merusak kehidupan iman banyak orang Kristen hari ini adalah ketika gereja mengarahkan jemaat untuk menjadikan Tuhan sebagai jawaban atas pemenuhan kebutuhan jasmani. Padahal, pemenuhan kebutuhan jasmani itu sudah ada hukum atau tatanan yang berlaku bagi semua orang, bukan hanya bagi orang Kristen. Dan semua harus tunduk kepada tatanan hukum itu. Apa yang ditabur orang, itu juga akan dituainya. Dan itu tidak boleh diubah, diganti dengan (misalnya) “berdoa, maka berkat melimpah.” Itu menyesatkan. Banyak orang melihat kehidupan bangsa Israel yang diistimewakan oleh Allah, dan orang-orang Kristen ini berpikir mereka juga dapat diistimewakan seperti bangsa Israel. Orang-orang Kristen ini tidak mengerti konteks bagaimana bangsa Israel yang memang dipersiapkan Allah untuk menjadi bangsa yang melahirkan Mesias.

Konteksnya, bangsa Israel adalah bangsa yang dipersiapkan Allah menjadi nenek moyang Mesias. Dari bangsa itu akan dilahirkan Mesias atau Juruselamat. Maka, Allah memberikan perhatian khusus atau istimewa. Sejak mereka ada di Mesir sebagai budak, Tuhan melepaskan mereka dengan keperkasaan-Nya. Memberikan 10 tulah dan menuntun bangsa itu di padang gurun selama 40 tahun dengan perbuatan-perbuatan ajaib Allah, yang mana tujuan utamanya adalah untuk maksud keselamatan yang Allah berikan kepada manusia, bukan kepada bangsa Israel itu sendiri sebenarnya. Di balik tindakan Allah tersebut, ada rencana Allah yang besar.

Banyak orang Kristen berpikir bahwa dirinya berhak memiliki rencana, keinginan, dan kemudian merasa memiliki kebutuhan untuk mencapai keinginan dan cita-citanya tersebut. Seperti Allah menuntun bangsa Israel dengan keperkasaan-Nya, mereka berharap Allah yang sama juga menuntun orang-orang Kristen ini dalam menggapai keinginan dan cita-citanya. Ini tidak sinkron, tidak paralel. Bangsa Israel menerima perlakuan istimewa, karena di balik semua tindakan Allah itu, Allah memiliki rencana, yaitu keselamatan yang akan dihadirkan melalui bangsa itu. Ini berbeda dengan orang-orang Kristen yang mau menerima berkat-berkat jasmani, pemeliharaan, perlindungan Tuhan yang istimewa untuk keinginannya sendiri, hidup dalam kewajaran seperti manusia lain.

Kenyataannya, tidak sedikit gereja yang menawarkan Tuhan sebagai solusi dari persoalan tersebut. Akhirnya, bukan saja membuat orang Kristen tidak tunduk kepada hukum tabur tuai dan tidak mengerti realitas hukum yang Tuhan berikan kepada semua manusia, tapi juga bisa merusak etos kerja. Dan, yang lebih konyol lagi, membuat orang-orang Kristen tidak fokus kepada dunia yang akan datang; tidak fokus kepada langit baru bumi baru. Sehingga mereka—orang-orang Kristen yang pikirannya telah disesatkan ini—hanya membutuhkan Tuhan untuk mengisi kebutuhan jiwa sesuai dengan selera dirinya, selera manusia yang berkodrat dosa; hanya demi supaya memiliki uang, harta, kedudukan, pangkat, kehormatan, dsb. Sampai pada tingkat tertentu, orang-orang Kristen ini akan rusak dan tidak pernah bisa diperbaiki lagi.

Jadi, kalau mereka menyanyi, “kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu,” baik-Nya Tuhan, karena Tuhan mau dipakai untuk memenuhi selera mereka. Kalaupun mereka mengatakan “Tuhan baik,” “baik” yang dipahami itu diasumsikan, dikonsepsikan “baik untuk pemenuhan kebutuhan jasmani mereka.” Ini bertentangan dengan visi keselamatan yang Allah berikan. Sebab, visi Allah itu bukan menyelamatkan manusia dari persoalan ekonomi atau kesehatan, melainkan dari belenggu dosa. Supaya orang-orang Kristen ini menjadi orang percaya yang benar, anak-anak Allah yang benar yang berkodrat ilahi, yang hidup hanya untuk kesukaan Allah Bapa. Tidak lagi mencari kesukaan untuk diri sendiri. Orang Kristen yang sudah mengerti hal ini, pasti ia menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan, bukan karena dia memiliki kebutuhan jasmani, kebutuhan secara harfiah atau kebutuhan materi. Tetapi karena ia membutuhkan Tuhan yang menuntun dirinya, mengubah dirinya menjadi manusia yang layak bagi Kerajaan Surga.

Orang Kristen yang menjadikan Tuhan satu-satunya kebutuhan, pasti hidupnya akan berkiblat ke langit baru bumi baru saja. Tentu kesucian yang dirindukan bukan hanya kebaikan moral umum, melainkan tentu saja kebaikan yang diharapkan itu adalah bagaimana dia bisa menjadi orang yang menyenangkan hati Allah. “Tuhan kebutuhanku, karena aku mau menyenangkan hati-Nya. Tuhan kebutuhanku, karena aku mau menyukakan hati-Nya. Tuhan kebutuhanku, karena aku ingin menjadi anak-anak Allah yang tinggal bersama-sama dengan Bapa di surga dan melayani Tuhan Yesus.” Inilah yang mestinya kita pahami. Tuhan satu-satunya kebutuhanku. Ini tidak sederhana. Tidak banyak orang yang bisa menghayati hal ini atau kebenaran ini, dan jarang orang mampu mengenakannya. Karena, banyak orang jiwanya sudah rusak, atau dalam kondisi sakit. Mereka hanya mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, kepuasan pada dagingnya, sehingga problem dan masalahnya adalah perkara-perkara yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan masalah-masalah yang menyangkut pemenuhan kebutuhan rohani. Seharusnya, kita sudah mampu mengatakan: “Tuhan, Kaulah kebutuhanku, karena aku hanya mau menjadi anak kesukaan-Mu.”