Tuhan, Engkau Kebahagiaanku Satu-satunya
13 January 2021

Play Audio

Sejatinya, Tuhan adalah kebahagiaan kita satu-satunya. Tapi masalahnya, Tuhan tidak kelihatan, bagaimana kita bisa menjadikan Tuhan kebahagiaan kita? Ini yang tidak bisa diajarkan dengan kata dan kalimat dengan mudah. Tapi kita harus menggumuli, percaya bahwa Allah itu ada. Ibrani 11:6, yakin bahwa Allah itu ada. Tetapi bukan hanya yakin Allah itu ada, melainkan juga mengalami Allah yang ada tersebut, Allah yang eksis tersebut. Mengalami, dan kita bisa merasakan sukacita dan damai sejahtera dari Allah melalui pengalaman yang kita alami tersebut. Banyak orang yang hanya mengerti secara kognitif atau dalam pikiran, tetapi tidak mengalami. Mereka bisa nyanyi, “Kaulah segalanya bagiku Tuhan, Kaulah hartaku, kemuliaanku.” Tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengalami bagaimana Tuhan menjadi kebahagiaannya.

Itulah sebabnya ketika Yesus berkata: “Datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” artinya “mengapa kamu letih lesu?” Karena kau banyak keinginan, banyak obsesi, karena kamu memiliki cita-cita yang belum kesampaian, memiliki rumah pribadi atau pasangan hidup, misalnya. Hal-hal seperti ini akan menghambat pertumbuhan rohani kita. Membuat kita tidak bisa menikmati kehadiran Tuhan. Kita harus buang hal-hal seperti itu, dan kita benar-benar mau menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Dan Tuhan akan tersanjung kalau kita menjadikan Dia benar-benar satu-satunya kebahagiaan kita. Ini yang namanya benar-benar memuliakan Allah. Artinya, menganggap Tuhan itu mulia, menganggap Tuhan itu agung, menganggap Tuhan itu besar, dan memang demikian adanya.

Oleh sebab itu, kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Kita harus bisa mengatakan kepada jiwa kita, “Sudah, jangan ingini apa-apa. Ayo, ingini Tuhan dan Kerajaan-Nya saja.” Kita yang berkuasa atas diri kita sendiri. Kalau kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, kita bisa mengendalikan diri kita sendiri dan mengarahkan diri kita sendiri ke arah yang benar, yang Tuhan kehendaki, di mana kita harus melangkah ke sana. Jangan sampai kita terlambat menjadikan Tuhan itu sebagai kebahagiaan kita. Kenapa? Sebab kalau kita terlambat, kita tidak akan pernah mengalami-Nya sampai selama-lamanya. Kalau kita tidak bisa mulai sekarang menikmati Tuhan, selamanya kita akan kehilangan Tuhan.

Orang yang benar-benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, sebagai satu-satunya tujuan hidup, akan terus mengalami pertumbuhan kedewasaan rohani, dan bisa merasakan keindahan Tuhan yang terus bertambah lagi, lebih lagi, lebih lagi. Sangat sedikit orang yang memiliki prinsip dan langkah hidup seperti ini bahwa Tuhan adalah satu-satunya kebahagiaan dan tujuan hidup. Mengapa? Karena dunia sudah begitu rusak. Dan kerusakan ini ada dalam kehidupan orang-orang Kristen, aktivis, majelis, bahkan pendeta sendiri. Tidak sedikit yang telah rusak. Maka kita harus berani mengakhiri jalan hidup jalan dunia, dan menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan.

Pada umumnya, orang telah terikat oleh percintaan dunia. Terikat oleh berbagai keinginan dan kesenangannya sendiri. Dan itu membuat orang Kristen tidak mengalami pertumbuhan rohani. Di dalamnya, ia tidak semakin menghayati dan mengalami keindahan Tuhan. Betapa bodohnya manusia yang memilih dunia daripada memilih Tuhan sebagai satu-satunya keindahan. Kekhawatiran manusia bukan hanya terkait dengan adanya ancaman atau sesuatu yang dia rasa sebagai membahayakan hidup, melainkan kekhawatiran juga menyangkut mengenai sikap dan pemikiran, seakan-akan kalau tidak memiliki fasilitas dunia ini, hidupnya tidak merasa indah, tidak merasa bahagia, tidak merasa lengkap, tidak merasa utuh, tidak merasa ada jaminan keamanan. Ini yang merusak. Dengan cara demikian, seseorang terikat dengan dunia. Tidak terikat sebagaimana mestinya dengan Allah. Betapa bodohnya manusia yang memilih dunia daripada memilih Tuhan.

Ketika seseorang masih mengharapkan kebahagiaan dunia ini, tidak mungkin ia bisa bertumbuh dalam iman. Percuma rajin ke gereja, percuma jadi aktivis gereja, percuma jadi pendeta, percuma jadi teolog, percuma jadi ketua sinode. Percuma. Sebab, dia tidak akan mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Kalau kita masih materialistis, artinya masih menganggap sumber kebahagiaan adalah kekayaan, kita tidak bisa mengerti Firman. Mau khotbah sebanyak apa pun, tetap ia tidak mengerti kebenaran. Seseorang bisa menalar Firman Tuhan, tetapi ia tidak mengerti nafas dan tidak menangkap jiwa-Nya. Makanya lihat, orang-orang Kristen yang rajin ke gereja namun kelakuannya menyakiti sesama. Lihat aktivis, pendeta, teolog-teolog, mereka yang belajar di Sekolah Tinggi Teologi, mereka jadi sombong secara akademisi. Dan kalau orang masih materialistis, dia tidak akan mengerti kebenaran.