Tugas Penting
28 May 2020

Play Audio Version

Menjadi orang percaya adalah perjuangan berat, sebab harus menjadi bagian dalam rencana Allah untuk dapat mempercepat kedatangan Tuhan Yesus. Dalam 2 Petrus 3:11-14, terdapat pernyataan bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan hari Tuhan. Hari Tuhan maksudnya adalah hari dimana Allah mengakhiri sejarah dunia. Ini berarti, Iblis atau Lusifer beserta pengikutnya, dibuang ke dalam kegelapan abadi. Kedatangan Tuhan Yesus untuk mengakhiri sejarah dunia bisa dipercepat oleh orang-orang percaya. Ini berarti, orang percaya dilibatkan dalam penentuan waktu diakhirinya sejarah dunia. Dalam Wahyu 6:11, tertulis: “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka. Dari ayat ini, jelas sekali petunjuk mengenai peran orang percaya yang sungguh-sungguh yang dikatakan sebagai “tidak menyayangkan nyawa.” Kedatangan Tuhan Yesus menunggu genapnya jumlah orang yang rela kehilangan nyawa karena dibunuh. Kata “dibunuh” dalam teks aslinya adalah apokteino (ἀποκτείνω). Kata ini secara metafora juga berarti memadamkan (to extinguish) atau menghapuskan (abolish) kehidupan atau nyawa.

Dalam teks aslinya, kata “nyawa” terjemahan dari psukhe (ψυχή) yang menunjuk pada pikiran, perasaan, dan keinginan atau kehendak. Kata “dibunuh” bisa secara fisik, tetapi juga bisa secara psikis. Kalau hanya secara fisik, berarti yang bisa mengalahkan Iblis hanya mereka yang mengalami aniaya fisik. Padahal, Firman Allah mengatakan bahwa yang bisa mengalahkan Iblis adalah ‘darah Anak Domba Allah’ dan ‘oleh perkataan kesaksian mereka, karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut’ (Why. 12:11). Kata “perkataan kesaksian” orang percaya adalah kehidupan yang tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut (Why. 12:11). Hal ini penting untuk dipelajari sebab yang bisa mengalahkan Iblis bukan hanya darah Yesus, melainkan juga “perkataan kesaksian mereka” karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. Orang-orang yang “tidak mengasihi nyawa” di sini bukan hanya mereka yang mengalami aniaya fisik dan dibunuh secara fisik, melainkan mereka yang rela tidak menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia. Betapa sulitnya memiliki sikap hidup tidak menyayangkan nyawa pada zaman ini (Mat. 10:39; 16:25). Dalam hal ini, dibutuhkan perjuangan yang berat.

Yang dimaksud dengan “perkataan kesaksian mereka yang tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” adalah kehidupan yang diperagakan oleh Yesus, dimana Yesus rela melepaskan segala sesuatu demi kepentingan Kerajaan Bapa. Tidak menyayangkan nyawa juga berarti tidak memiliki kesenangan atau keinginan, kecuali melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Hal ini sama dengan berusaha menjadi corpus delicti. Sejatinya, inilah isi dan kualitas kehidupan Yesus (Yoh. 4:34). Perjuangan seperti ini juga telah dialami oleh Paulus, bahwa darahnya siap dicurahkan demi pelayanan bagi jemaat Tuhan (2Tim. 4:6-8). Inilah standar anak-anak Allah, yaitu rela melepaskan nyawa bagi saudara-saudara yang lain (1Yoh. 3:16). Yesus memberi syarat untuk tidak menyayangkan nyawa kalau mau menjadi pengikut-Nya (Mat. 10:39; 16:25).

Seorang yang bisa menjadi corpus delicti adalah orang yang benar-benar rela menjadi seperti Yesus dengan kerelaan mempertaruhkan apa pun yang ada padanya. Merekalah orang yang tidak menyayangkan nyawa seperti Yesus. Orang percaya seperti ini meneladani sikap hidup Yesus yang “tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Mereka adalah orang-orang yang layak disebut Kristen. Seperti yang dilakukan oleh Yesus, bahwa hidup di dunia bukan untuk menikmati isi keindahan dunia dengan segala hiburannya, melainkan untuk bekerja mengenapi rencana Bapa. Bagi kita orang percaya, kita meneruskan tugas penyelamatan yang telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus di kayu salib.

Tulisan Petrus dalam 2 Petrus 3:12 menunjukkan bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan Tuhan Yesus. Kata “mempercepat” menunjukkan bahwa waktu kedatangan Tuhan Yesus yang ditentukan oleh Allah Bapa bersifat fleksibel atau relatif. Tuhan Yesus mengatakan bahwa masa dan waktu pemulihan “Kerajaan Israel” ditetapkan oleh Bapa menurut kuasa-Nya (Kis. 1:6-8). Kata “kuasa” di sini adalah exousia (ἐξουσία) yang lebih tepat dipahami sebagai hak. Hal ini berhubungan dengan pernyataan Yesus bahwa diri-Nya tidak berhak memberikan posisi atau kedudukan bagi orang percaya. Hal duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri Tuhan Yesus, Bapa yang berhak menyediakannya atau menentukan. Hal ini bisa menunjukkan bahwa Bapa menentukan orang-orangnya, tetapi juga bisa menunjuk jumlah orang-orang yang mempercepat kedatangan Tuhan Yesus. Semakin banyak orang percaya diproses untuk semakin seperti Yesus, berarti semakin tercukupi jumlah orang percaya yang menjadi corpus delicti. Ini berarti semakin cepat sejarah dunia berakhir dan Iblis dihukum.