Tugas Kehidupan
02 November 2019

Kehidupan ini bukan sesuatu yang gratis. Artinya, ada harga yang harus dibayar sebab manusia eksis atau ada tidak dengan sendirinya. Alam semesta dengan segala isinya yang menjadi fasilitas kehidupan ini juga eksis karena Allah yang menciptakan. Karena manusia eksis karena ada yang menciptakan, mau tidak mau dan tidak bisa tidak, manusia harus mengerti maksud atau tujuan dirinya diciptakan oleh Penciptanya. Manusia harus memenuhi maksud atau tujuan dirinya serta alam semesta ini diciptakan. Dalam hal ini, lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia daripada menjadi manusia tetapi tidak mengerti maksud atau tujuan dirinya diciptakan dan tidak memahami tugas-tugas yang harus ditunaikannya. Manusia harus mempertanggungjawabkan hidupnya di pengadilan Tuhan di kekekalan. Jadi, apakah ia sudah membayar harga kehidupan ini menjadi persoalan terbesar dalam kehidupan setiap individu?

Sejak semula, manusia pertama harus menghadapi segala rintangan kehidupan. Rintangan itu bukan hanya yang material, melainkan juga yang nonmaterial, bukan hanya yang fisik, melainkan juga yang metafisik. Justru, yang nonmaterial atau metafisik inilah yang lebih berat, yaitu Hillel ben Sachar atau Iblis dengan malaikat-malaikat yang terseret dalam pemberontakan melawan Allah (Yes. 14:12: Yeh. 28:18). Iblis dan malaikat- malaikatnya tidak taat, tidak menghormati dan memuliakan Allah, serta tidak mengabdi dan melayani Allah. Mereka tidak dapat dihukum sebelum ada pembuktian atas kesalahannya. Inilah tatanan Allah: sebagaimana tidak ada pelanggaran jika tidak ada Taurat (Rm. 4:15; 5:13). Dalam hal ini, Taurat adalah corpus delicti untuk membuktikan kesalahan manusia. Demikian pula, harus ada corpus delicti untuk membuktikan kesalahan Iblis. Kebutuhan corpus delicti seperti sebuah hukum atau tatanan yang tidak bisa tidak, harus diselenggarakan: rule of life.

Manusia diciptakan untuk mengalahkan Iblis, yaitu dengan menunjukkan atau membuktikan kesalahannya. Untuk membuktikan kesalahan Iblis, agar bisa dihukum, memang harus ada mahkluk ciptaan yang memiliki kehidupan sesuai dengan maksud atau tujuan dirinya diciptakan atau dapat menempatkan diri secara benar di hadapan Penciptanya. Manusia diciptakan untuk membuktikan kesalahan Iblis yang memberotak tersebut. Dengan demikian, Adam sejatinya harus mencapai kehidupan yang taat, menghormati, memuliakan Allah serta mengabdi, dan melayani-Nya secara benar sehingga terjalin persekutuan yang ideal dengan Allah sebagai Bapa. Hal tersebut dapat menjadi bukti kesalahan Iblis yang tidak menempatkan diri secara benar di hadapan Allah Bapa.

Inilah keistimewaan makhluk manusia, yaitu dirancang menjadi alat untuk dapat membuktikan kesalahan Iblis atau menjadi corpus delicti. Jadi, salah satu tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk membinasakan pekerjaan Iblis. Inilah harga yang seharusnya dibayar oleh Adam, manusia pertama. Namun, Adam ternyata gagal memenuhi rencana Allah menjadi corpus delicti. Adam memberontak kepada Allah. Lalu, pada zaman penggenapan sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Bapa, Anak Allah yang diberi nama Yesus—yang adalah Adam kedua atau Adam terakhir—berhasil menyelesaikan pekerjaan Bapa tersebut. Yesus berhasil menjadi “Anak Manusia” yang mencapai kehidupan yang taat, menghormati, memuliakan Allah, serta mengabdi dan melayani-Nya secara benar sehingga terjalin persekutuan yang ideal dengan Allah sebagai Bapa. Yesus berhasil menjadi corpus delicti. Orang percaya dan pengikut Yesus juga harus memiliki kehidupan seperti Yesus, menjadi corpus delicti, yaitu tugas yang gagal dipenuhi oleh Adam, nenek moyang manusia. Inilah harga yang harus dibayar oleh orang percaya, yaitu menjadi seperti Yesus sebagai corpus delicti.

Orang percaya harus mencapai kehidupan yang taat, menghormati, memuliakan Allah, serta mengabdi dan melayani-Nya secara benar sehingga terjalin persekutuan yang ideal dengan Allah sebagai Bapa. Semua orang percaya semestinya juga dapat menjadi bukti kesalahan Iblis yang tidak menempatkan diri secara benar di hadapan Allah Bapa. Inilah yang dimaksud dengan perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya. Untuk meraih kualitas hidup ini, dibutuhkan perjuangan yang sangat berat. Inilah harga yang harus dibayar, yang tidak boleh dihindari oleh orang percaya. Orang yang telah ditebus oleh darah Yesus harus memberi diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak dan rencana Allah tersebut. Tugas ini harus diselesaikan dengan sempurna