Transaksional
06 April 2021

Play Audio

Salah satu ciri orang beragama, adanya pola transaksional antara umat dengan ilahnya. Pola “transaksional” di sini maksudnya ada pertukaran antara umat dan ilah yang disembah untuk memperoleh sesuatu. Dalam kepercayaan tradisional, biasanya ketika umat hendak datang kepada ilah untuk memohon berkat atau perlindungan, umat membawa sesajian atau persembahan tertentu. Sesajian atau persembahan tersebut menjadi syarat pertukaran umat kepada ilahnya untuk memperoleh sesuatu. Tanpa sesajian atau persembahan, kedatangan umat kepada ilahnya dipandang tidak memenuhi persyaratan. Sedangkan dalam agama pada umumnya, bentuk memberi sesajian ini, umumnya telah ditinggalkan. Namun, pola transaksional dimana umat membawa sesuatu sebagai syarat pertukaran dengan allah untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh umat, masih terjadi. 

Dalam konteks agama Kristen, terutama di kalangan Pentakostal-Kharismatik misalnya, jemaat berpikir bahwa dengan menaikkan pujian dan penyembahan, Tuhan disenangkan. Semakin khusuk pujian dan penyembahan yang dilantunkan, jemaat merasa Tuhan akan semakin mendengar doa dan permohonan mereka. Sebenarnya ini adalah pola transaksional yang menjadi ciri khas orang beragama. Bagi orang Kristen yang belum dewasa hal ini bisa ditolerir, sebab mereka masih dalam pola berpikir “duniawinya.” Tetapi hal ini tidak bisa ditolerir kalau terjadi atas orang Kristen yang mestinya sudah dewasa, ditinjau dari waktu menjadi orang Kristen.

Dalam kisah Ayub, kita menemukan ia masih mempertahankan keluarganya di hadapan Allah. Ia mempersembahkan korban bagi kesalahan anaknya agar tidak mendapat hukuman dari Allah (Ay. 1:5). Harus diakui, bahwa hal ini menunjukkan bagaimana Ayub bertransaksi dengan Allah agar melindungi keluarganya. Jika diamati pula, Allah memang melindungi Ayub dan keluarganya. Hal ini terlihat dalam dialog Iblis ketika mendakwa Ayub dengan berkata di hadapan Allah, "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu” (Ay. 1:9-10). Tentu pola transaksional yang tercermin dalam kehidupan Ayub tidak perlu dipermasalahkan, sebab ia adalah umat Perjanjian Lama dengan standar hidup yang berbeda dengan umat Perjanjian Baru. Allah memaklumi adanya unsur transaksional saat berurusan dengan-Nya.

Namun tentunya, Allah tidak tinggal diam dan membiarkan Ayub hidup dalam pola demikian. Allah hendak meningkatkan kualitas Ayub. Dalam Ayub 23:10 dikatakan, “karena Ia tahu jalan hidupku. Seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Kita dapat menangkap kesan bahwa memang Ayub sudah memiliki kualitas yang baik saat berhubungan dengan Allah, namun belum dalam kualitas yang tinggi. Ayub mengatakan, “Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?” (Ay. 31:1). Ini menunjukkan bagaimana Ayub menjaga kesucian moralnya. Bahkan, ia mengatakan di dalam pernyataannya, “apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tapi tidak mau menerima yang buruk?” Alkitab sendiri menyaksikan bahwa Ayub tidak berdosa dalam segala tanggapannya terhadap kesulitan yang Allah datangkan (Ay. 1:22). Ayub sudah memiliki kualitas yang cukup baik untuk orang sezamannya, namun masih ada pola transaksional yang ingin dimurnikan oleh Tuhan. Pola transaksional pada masa itu semakin terlihat ketika sahabat-sahabat Ayub mempersalahkan dia terkait dengan peristiwa yang menimpanya. Mereka berkata bahwa Allah tidak mungkin berhenti memberkatinya kalau memang dia tidak bersalah. Perhatikan di sini, ada cara berpikir transaksional dimana jika Allah mengizinkan seseorang mengalami peristiwa buruk, itu berarti ada kesalahan. Salah berarti laknat; taat berarti berkat. Ini pemikiran orang pada masa Ayub. Ayub sendiri dalam keputusasaannya menunjukkan pola transaksional ini dengan mengutuki hari kelahirannya (Ay. 3:3-26).

Tuhan mau membawa Ayub kepada satu tingkatan hidup, yaitu bukan transaksional dengan Allah, melainkan hidup di dalam kedaulatan Allah. Tuhan mau mengajarkan Ayub untuk tidak lagi hidup dalam sistem keberagamaan, tetapi masuk di dalam kedaulatan Allah. Beruntung bahwa Ayub bisa berkata dalam Ayub 42:6, “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dengan menyesal, aku duduk dalam debu dan abu.” Dari sini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa orang yang berhenti dalam konsep transaksional dengan Allah pasti hanya memiliki satu keinginan, yaitu Tuhan. Sebab mereka yang hidup di dalam kedaulatan Allah, tidak akan transaksional. Mereka setia bukan karena upah atau berkat yang Tuhan berikan. Ia tidak akan mempermasalahkan apakah kita diberkati atau tidak diberkati secara jasmani. Tuhan dan Kerajaan-Nya menjadi satu-satunya tujuan dalam hidup ini. Kesetiaannya berpijak pada penurutannya akan kehendak Allah, dan penyerahan diri yang total untuk mengikuti jejak Tuhan.