Tindakan Allah Selaras Hakikat-Nya
15 April 2019

Kita harus memahami dengan tepat latar belakang pernyataan Tuhan di dalam Roma 9:13,“Aku mengasihi Yakub dan membenci Esau.” Ternyata ayat ini diambil dari Kitab Maleakhi 1. Kita harus mengamati dengan teliti Maleakhi 1 tersebut, yaitu dialog antara Bangsa Israel dengan Allah. Bangsa Israel seakan-akan mau memperkarakan mengapa Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau. “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau…” “…Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!” “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? …” Dan seterusnya.

Dari pembacaan ini dapat diambil kesimpulan bahwa bukan tanpa alasan kalau Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau. Kalau mereka bersikap tidak hormat kepada Allah, seperti Esau tidak menghormati orang tuanya, maka mereka juga tidak layak dikasihi. Ini bukan berarti Firman Allah gagal. Tetapi masing-masing individu memang diberi kehendak bebas untuk mengambil keputusan dan memilih dalam menentukan nasib atau keadaannya. Berbicara mengenai Esau dan Yakub, sebenarnya konteksnya bukan masalah individu, tetapi pemilihan suatu bangsa. Buktinya Esau tidak pernah menjadi hamba bagi Yakub, tetapi secara komunitas, keturunan Esau -yaitu bangsa Edom- tidak menjadi bangsa yang diberkati oleh Tuhan. Dengan demikian sangatlah keliru kalau pemilihan Yakub sebagai ahli waris dan penolakan Allah atas Esau disejajarkan atau menjadi tipologi dari pemilihan keselamatan atas individu.

Implikasinya bagi orang percaya masa kini adalah hendaknya kita tidak merasa sebagai umat pilihan secara rohani (orang Kristen) maka pasti masuk surga. Banyak orang Kristen berpikir bahwa menjadi umat pilihan berarti pasti masuk surga. Harus dipahami bahwa menjadi umat pilihan adalah menjadi orang yang berpotensi menjadi umat Allah yang kekal, abadi atau permanen. Tetapi, menjadi umat Allah yang kekal atau abadi tergantung respon kita terhadap kasih karunia yang diberikan oleh Allah melalui karya salib Tuhan Yesus. Jika respon seseorang terhadap karya salib salah, maka seperti Bangsa Israel yang tewas di padang gurun, banyak orang Kristen yang juga akan tewas dalam perjalanan hidupnya sehingga tidak akan sampai di Rumah Bapa. Itulah sebabnya harus dipahami bahwa untuk diselamatkan harus ada perjuangan untuk masuk jalan sempit (Luk. 13:23-24).

Jadi bukan tanpa alasan kalau suatu hari Allah menolak orang-orang tertentu. Ada dasar dari tindakan Allah tersebut yang tidak merusak prinsip dan hakikat keadilan Allah dalam menetapkan seseorang selamat atau binasa. Hal ini terjadi bukan karena Tuhan menghendaki atau bermaksud “membinasakan” seseorang sehingga membencinya, sementara Tuhan mengasihi yang lain dan membawanya ke surga. Tetapi Tuhan memberi kehendak bebas kepada masing-masing individu. Kehendak bebas masing-masing individu inilah yang melahirkan respon terhadap karya keselamatan dari Tuhan. Respon inilah yang membangun atau menentukan sikap Tuhan kepada masing-masing individu. Kebenaran ini membangun logika yang sehat, waras, adil, jujur, cerdas, dan memiliki implikasi yang jelas bagi umat pilihan, bagaimana harus mengisi hari hidupnya.

Jika Allah digambarkan sebagai Pribadi yang secara sepihak menentukan orang untuk dibenci dan dikasihi-Nya, yang sama dengan menentukan masuk surga atau masuk neraka, betapa mengerikan sosok Pribadi Allah yang seperti ini. Tidak bisa tidak Allah tergambar sebagai Pribadi yang “sakit.” Manusia pun tidak akan memiliki implikasi yang jelas bagaimana mengisi hari hidup ini. Hidup di semesta dengan “Penguasa” berkarakter demikian, serba tidak tentu, tidak ada kepastian dan sungguh sangat mengerikan. Ilah atau dewa seperti ini banyak dikenal dalam berbagai kepercayaan dan agama primitif. Tidak heran kalau mereka memiliki berbagai ritual atau upacara agama dengan segala korbannya sebagai usaha untuk memadamkan kemarahan dewa-dewa atau ilah-ilah terhadap umat.