Tidak Menyentuh Yang Najis
24 September 2020

Play Audio Version

Keberkenanan di hadapan Allah adalah sesuatu yang bersifat progresif. Seiring dengan bertambahnya usia biologis atau perjalanan hidup kekristenan, seseorang harus semakin berkenan kepada Allah atau yang sama dengan semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Oleh karena merasa sudah diperdamaikan dengan Allah berdasarkan pengertian mengenai doktrin keselamatan, banyak orang Kristen tidak berusaha untuk mengalami perubahan hidup yang semakin berkenan kepada Allah. Mereka tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13). Sementara itu, pengaruh dunia yang fasik membelenggu hidup mereka, sehingga mereka semakin berkeadaan tidak pernah berkenan kepada Allah. Sejujurnya, banyak rohaniwan Kristen atau teolog Kristen dan jemaat berkeadaan seperti ini. Kalau tidak diingatkan, mereka tidak pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan, tidak menjadi anggota masyarakat Kerajaan Surga, bahkan bukan tidak mungkin meluncur menuju api kekal.

Dari pihak Allah, perdamaian itu harus dibayar, yaitu Allah memberikan Putra Tunggal-Nya sebagai sarana pendamaian dengan memikul dosa manusia di kayu salib (2Kor. 5:18). Dan Allah telah melakukannya. Yesus mengatakan sudah selesai (Yun. tetelestai; τετέλεσται; it’s finished). Adapun dari pihak manusia, harus mau memberi diri diperdamaikan dengan berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10). Orang percaya harus mau didewasakan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah (huios), yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Proses pendidikan ini tidak bisa tidak harus dialami oleh setiap orang percaya demi terwujudnya perdamaian dengan Allah.

Dulu, sebelum menerima pendamaian dengan Allah oleh kurban Kristus, kita bukan saja berstatus bermusuhan dengan Allah, melainkan juga berkeadaan bermusuhan dengan Allah karena karakter atau keadaan kita yang jahat. Pendamaian dengan darah Yesus oleh pihak Allah mengubah status kita, dimana kita dibenarkan di hadapan Allah. Dibenarkan artinya dianggap benar, walau keadaan kita belum benar. Dengan keadaan yang belum berubah menjadi benar atau belum berkenan kepada Allah, berarti perdamaian dengan Allah belum lengkap atau utuh. Sekarang, setelah status kita diubah, kita bertanggung jawab untuk mengubah keadaan kita dengan belajar hidup sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:5-9).

Status dibenarkan di hadapan Allah walaupun keadaan kita belum benar karena Allah memandang Putra Tunggal-Nya yang menggantikan tempat kita di kayu salib. Perubahan status ini sudah membuat kita diperdamaikan dengan Allah, tetapi belumlah perdamaian yang lengkap atau utuh. Ini barulah perdamaian dimensi pertama. Keadaan ini tidak boleh berlangsung terus-menerus sampai orang Kristen meninggal dunia. Oleh karenanya, orang percaya harus berusaha untuk mengalami perubahan guna memiliki perdamaian yang lengkap dan utuh. Ini perdamaian dimensi kedua. Itulah sebabnya, Paulus mengatakan: “berilah dirimu diperdamaikan.” “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami.” Mengapa harus menasihati? Nasihat tersebut adalah nasihat Firman Tuhan yang mengubah keadaan perilaku mereka (2Kor. 5:19-20). Selanjutnya, dalam 2 Korintus 6:1-18 Paulus memberi nasihat, di antaranya adalah agar orang percaya memisahkan diri dari dosa dan tidak menyentuh apa yang najis.

Kekristenan hari ini, bagi banyak orang Kristen, hanyalah sekadar keberagamaan, bukan jalan hidup-Nya Yesus yang harus dikenakan. Mereka kehilangan esensi kekristenan yang sejati. Esensi kekristenan yang sejati adalah perubahan perilaku agar menjadi semakin sesuai dengan rancangan Allah semula, dimana Yesus menjadi role model. Rancangan Allah semula adalah manusia yang berkenan kepada Allah, yang dalam segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keadaan manusia seperti ini barulah dapat mengimbangi Allah, sehingga dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah secara ideal. Kalau seseorang belum menjadi seperti Yesus, berarti tidak memiliki perdamaian yang ideal dengan Allah.

Kebenaran ini tidak bisa dikenakan untuk semua orang beragama, tetapi untuk umat pilihan yang diproyeksikan berkarakter Kristus, yang dimungkinkan untuk mengerti kehendak Bapa, apa yang baik yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Kebenaran ini hanya untuk mereka yang rohnya dihidupkan untuk bisa menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Mereka yang mampu mengerti apa yang dikehendaki oleh Bapa dan melakukannya dengan tepat (Mat 5:48). Bapa memberi hujan kepada orang yang baik dan jahat, juga matahari-Nya. Kalau Tuhan Yesus menghendaki kita sempurna seperti Bapa, maksudnya adalah agar kita bisa diajak sepikiran dan seperasaan dengan Bapa. Oleh karena Tuhan Yesus telah menang—yaitu melakukan kehendak Bapa (taat sampai di kayu salib)—maka Dia yang menjadi pokok keselamatan, menjadi teladan dan contoh bagi kita, sekaligus yang menolong kita mampu hidup seperti Dia hidup (Ibr. 5:9).