Tidak Mengganti Doa Bapa Kami
15 October 2020

Play Audio Version

Inti dari Injil adalah keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Tidak mungkin Doa Bapa Kami tidak memiliki hubungan dengan proses keselamatan. Doa Bapa Kami yang merupakan formula kehidupan, dalamnya termuat pola hidup, format hidup, atau gaya hidup untuk menyelenggarakan keselamatan yang Allah berikan. Dalam hal ini, Doa Bapa Kami seperti sarana untuk memformat ulang kehidupan seseorang agar sesuai dengan maksud manusia diciptakan oleh Allah. Oleh sebab itu, kita tidak boleh melupakan Doa Bapa Kami. Kita harus selalu mengingatnya dengan mengucapkan Doa Bapa Kami dalam pengertian yang benar. Tentu saja kita bukan hanya mampu menghafal kalimat Doa Bapa Kami, melainkan benar-benar mengerti isinya dan menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang termuat di dalamnya.

Seandainya Adam dan Hawa tidak jatuh dalam dosa, bagian dari Doa Bapa Kami merupakan gaya hidupnya, yang juga akan dikenakan semua manusia keturunan Adam dan Hawa. Tentu kalimat mengenai pengampunan dan dijauhkan dari pencobaan tidak perlu ada, tetapi kalimat yang lain pasti menjadi format kehidupan yang dikenakan oleh manusia yang tidak kehilangan kemuliaan Allah. Semua manusia memanggil Allah sebagai Bapa, mempermuliakan Allah, menghadirkan pemerintahan Allah dengan sempurna, serta melakukan kehendak Allah dengan tepat. Itulah sebabnya, Doa Bapa Kami yang kita ucapkan menjadi sarana latihan untuk hidup di dalam Kerajaan Surga nanti. Orang yang tidak hidup sesuai dengan format Doa Bapa Kami adalah orang-orang yang tidak layak masuk Kerajaan Surga. Jadi, sangatlah tepat kalau dikatakan bahwa Doa Bapa Kami merupakan cara memformat ulang kehidupan manusia yang tidak sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia.

Doa Bapa Kami adalah satu-satunya doa yang diajarkan oleh Yesus untuk kita yang mengikut jejak-Nya. Oleh sebab itu, Doa Bapa Kami tidak boleh digantikan oleh yang lain. Dewasa ini, banyak gereja mempopulerkan Doa Yabes sebagai doa yang terus-menerus disosialisasikan kepada jemaat, bahkan ada gereja yang menyanyikannya setiap Minggu. Memang hal ini bukan sesuatu yang dianggap sebagai suatu penyesatan atau kesalahan fatal, tetapi bisa menjadi fatal ketika jemaat diarahkan kepada kehidupan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata. Apalagi dalam Doa Yabes, termuat kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak sesuai dengan jiwa atau nafas Doa Bapa Kami. Seperti misalnya: kata “berlimpah-limpah,” sementara dalam Doa Bapa Kami, orang percaya diajar untuk meminta “secukupnya” kepada Allah. Tanpa disadari, Doa Yabes yang tidak dimaknai dengan benar akan membuat kehidupan orang percaya mengalami kemerosotan iman atau degradasi standar hidup sebagai anak-anak Allah.

Kalau Tuhan Yesus memandang bahwa ada doa—seperti Doa Yabes— yang penting untuk diajarkan, pasti Yesus mengajarkannya kepada murid-murid-Nya. Tetapi kenyataannya, Yesus tidak mengajarkan Doa Yabes kepada orang percaya, sebab orang percaya memiliki doa sendiri, yaitu Doa Bapa Kami. Barangkali ada orang yang mencoba mengemukakan argumentasinya untuk membela Doa Yabes dengan mengatakan bahwa Doa Yabes ada di dalam Alkitab. Tentu saja Doa Yabes ada dalam Alkitab, tetapi kita harus melihat makna orisinal dari ayat-ayat dalam Alkitab, serta latar belakangnya. Doa Yabes bukanlah doa untuk orang percaya, sebab orang percaya sendiri telah memiliki Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus. Standar hidup orang percaya yang adalah umat Perjanjian Baru, yang tidak sama dengan standar hidup umat Perjanjian Lama. Banyak ayat Alkitab dalam Perjanjian Lama yang mestinya tidak bisa dikenakan dalam kehidupan umat Perjanjian Baru. Memang banyak pelajaran rohani yang dapat diperoleh dari ayat-ayat Perjanjian Lama, tetapi bagi umat Perjanjian Baru, episentrum atau pusat kebenarannya adalah ajaran dan kehidupan Yesus.

Usaha untuk mengganti Doa Bapa Kami dengan doa yang lain, bisa dikategorikan sebagai penyimpangan atau bahkan bisa menjadi suatu penyesatan. Ini bisa dikatakan sebagai kudeta. Oleh sebab itu, kita harus memiliki kesetiaan kepada Tuhan Yesus, yaitu dengan mempertahankan kebenaran Doa Bapa Kami yang diajarkan, dan mengenakannya secara konsekuen dan konsisten di dalam kehidupan. Kebenaran harus utuh, bulat, atau penuh, sebab kebenaran adalah mutlak dan absolut. Sebagian kebenaran, berarti bukan kebenaran. Bukan kebenaran, berarti dusta. Segala sesuatu yang diajarkan oleh Yesus, harus kita terima secara penuh dan tidak boleh diubah. Memang yang diajarkan oleh Yesus sangat sulit dikenakan untuk manusia yang masih mau hidup wajar seperti manusia lain, tetapi kita harus berjuang untuk dapat melakukannya. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa untuk diselamatkan, seseorang harus berjuang masuk jalan yang sempit atau sesak (Luk. 13:23-24). Yesus juga berkata bahwa banyak orang berusaha, tetapi tidak dapat masuk. Hal ini menunjukkan tidak mudahnya mengikut Yesus atau tidak mudahnya seseorang mengenakan kebenaran yang diajarkan oleh Yesus.