Tidak Memiliki Apa pun dan Siapa pun
17 January 2021

Play Audio

Orang-orang beriman adalah orang-orang yang dikondisikan untuk tidak memiliki apa-apa, kecuali Tuhan. Bagi Abraham, mungkin milik yang dipandang paling berharga dan satu-satunya di hari tuanya adalah Ishak. Tapi, Tuhan mau Ishak dipersembahkan untuk Allah. Abraham melakukan tanpa ragu. Mengapa? Sebab ia merasa tidak memiliki apa-apa dan siapa pun kecuali Tuhan, Majikan, Allah Yahweh yang ia cintai. Cinta dan hormatnya kepada Elohim Yahweh lebih besar dan dalam dari sayangnya kepada Ishak. Ini merupakan pelajaran yang berharga untuk kita. Jika kita mau menjadi orang yang beriman dengan benar, maka sikap hidup kita harus seperti Abraham yang merasa tidak memiliki apa pun dan siapa pun. Atau pun kalau kita memiliki keluarga, pasangan hidup, orangtua, anak dan lainnya, maka cinta kasih kita terhadap Tuhan harus melebihi cinta kasih kita kepada mereka. Kalau kita harus kehilangan keluarga demi iman kita kepada Yesus Kristus, jangan anggap hal itu merupakan suatu hal yang luar biasa. Itu adalah hal standar.

Jadi, kalau ada anak muda yang berpacaran dengan seseorang yang beragama lain dan kamu tidak memutuskan hubungan itu, maka kamu akan kehilangan Tuhan selamanya. Kamu akan binasa, dan penyesalanmu tidak dapat kamu bayangkan hari ini. Alkitab menyebutnya dengan “ratap tangis dan kertak gigi.” Dan itu sungguh mengerikan. Kalaupun kamu menikah dan bahagia, itu pun tidak lebih dari 50 tahun. Namun, penderitaanmu kekal di api neraka dan terpisah dari Allah. Maka kamu harus tegas mengatakan: “tidak!” Terhadap pacarmu atau calon pasangan hidupmu. Namun kalau kamu merasa keberatan, silahkan. Tuhan saja tidak memaksa. Di sini saya mengingatkan bahwa kamu akan sangat celaka.

Itulah sebabnya Yesus berkata, kalau orang mau ikut Dia, maka kamu harus melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sampah. Sebab orang beriman itu adalah orang yang kepentingannya hanya Tuhan saja. Itulah sebabnya, pada gereja mula-mula, bagaimana Tuhan memurnikan kekristenan dengan membuat orang Kristen tidak memiliki apa-apa, teraniaya, harta dirampas, keluarga ditawan, harga diri diinjak-injak, diikat di tiang dan dibakar hidup-hidup, dilepas di Colloseum bersama binatang buas dan ditonton ribuan orang sambil menyorakinya. Bayangkan! Tetapi dengan cara inilah orang-orang memiliki iman yang benar.

Banyak orang mengaktualisasi diri dengan mencari kedudukan, pangkat, gelar, harta, penampilan. Bahkan orang-orang yang di lingkungan pelayanan pun mengaktualisasi diri dengan menjadi pendeta yang besar, terhormat, menjadi pimpinan di sebuah lembaga Kristen atau gereja atau sinode; cari panggung. Orang seperti ini adalah orang yang belum meninggalkan dirinya dan belum selesai dengan dirinya sendiri. Dia belum bisa dikatakan sebagai orang merdeka. Sebab, orang merdeka adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Tentu dalam konteks ini, orang merdeka adalah orang yang telah menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan.

Harus dipahami dengan benar bahwa “tidak punya apa-apa” bukan berarti kita sengaja menjadi orang miskin. Tidak memiliki apa-apa berarti orang yang mau memberikan segalanya untuk kepentingan Tuhan, dan ini pun tidak berarti semuanya diberikan ke gereja. Seseorang harus memiliki kepekaan bagaimana mengelola uang yang Tuhan percayakan ini. Bagaimana menyelenggarakan atau mengolah harta kita yang sejatinya adalah harta Tuhan. Kalau orang beriman yang benar, ia akan berhitung ketika ia mau membelanjakan uangnya. Bukan soal berapa jumlah uang yang dimiliki, apakah seimbang dengan barang yang akan dibeli. Tetapi yang harus dipertimbangkan adalah apakah yang kita beli menyenangkan hati Allah atau tidak. Atau sebaliknya, kita membeli sesautu yang karenanya kita menjadi lebih terpandang, terhormat atau merasa diri puas, seperti pakaian, arloji, mobil, rumah, dan lain sebagainya. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap Tuhan.

Kalimat ini tidak bermaksud untuk melukai orang kaya, namun orang kaya memang sukar masuk surga karena terkondisi demikian. Maka hal ini disuarakan agar orang kaya sadar dan bertobat, sebab kalau tidak, mereka akan menghadapi api kekal. Ini bukanlah ancaman atau intimidasi agar mereka memberikan uang untuk gereja. Tetapi agar mereka memperhadapkan diri dengan benar di hadapan Allah. Jangan sampai mereka tertolak oleh Allah karena tidak menghormati Dia. Ironis, mereka merasa telah menghormati Tuhan. Namun dengan sikap hidup yang merasa berhak atas dirinya sendiri, berhak atas kekayaannya, sebenarnya mereka sedang meninggikan diri.

Kesulitan yang kita hadapi hari ini adalah pengajaran yang rusak—termasuk kita sebelum mengenal kebenaran yang murni—sejak dahulu. Pengajaran tersebut mengarahkan seakan-akan ikut Yesus itu memperoleh pintu atau pertolongan untuk meraih dunia. Ini sesat! Ikut Yesus berarti kehilangan segala sesuatu dan kita menukarnya dengan hanya memiliki Yesus. Seperti yang dikatakan dalam perumpamaan yang Yesus sampaikan, dimana ada seorang pedagang yang menjual seluruh miliknya demi memperoleh sebuah mutiara yang sangat berharga. Ini adalah tindakan barter. Dalam perumpamaan lain, Tuhan Yesus juga menggambarkan ada seorang yang menjual seluruh miliknya demi sebuah ladang. Bukan karena ladang itu memiliki kesuburan, melainkan karena di ladang itu ada harta terpendam yang tidak ternilai.

Demikian juga kita orang percaya. Ketika kita pergi ke gereja, kita pergi karena di sana ada harta yang terpendam, bukan karena gereja itu sendiri. Dan di gereja, kita dididik dengan kebenaran Firman Tuhan supaya kita melucuti diri, melepaskan diri dari semua ikatan belenggu dunia, percintaan dunia, dan dosa yang mengikat daging dan jiwa kita. Melepaskan semuanya, barulah kita merdeka. Ada orang merasa belum merdeka karena tidak kaya, ia merasa kemiskinan membelenggu dirinya. Kalaupun orang seperti ini lepas dari kemiskinan dan menjadi kaya secara materi, sejatinya kekayaan tidak membuat ia lepas dari kemiskinan. Sebab kemiskinan yang sesungguhnya adalah kemiskinan batin. Kita bisa kaya, tapi pelit, maka kita menjadi miskin karenanya.

Seseorang yang kaya secara materi, namun jika ia tidak memiliki moral seperti yang Allah kehendaki dan ia terancam hukuman kekal, sejatinya ia lebih miskin dari orang miskin. Ada orang yang merasa bernilai karena memakai pakaian bagus atau jam tangan mahal, padahal nilai yang sesungguhnya bukan pada benda materi tapi manusia batiniah yang berharga di mata Allah. Kebenaran murni seperti ini yang sejatinya harus diberikan kepada jemaat agar mata mereka tidak hanya tertuju kepada perkara dunia, tetapi tertuju kepada perkara-perkara rohani yang bernilai kekal.