Tidak Memandang Muka
17 October 2020

Play Audio Version

Seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa—dalam hal ini Adam—apakah Adam juga memanggill Allah sebagai Bapa? Tentu saja, ya. Benar. Sebab, Kitab Suci jelas mengatakan bahwa Adam adalah anak Allah (Luk. 3:38). Jelas Adam juga memiliki format hidup seperti sebagian kalimat dalam Doa Bapa kami, seperti kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu,” dan seterusnya. Tetapi kalimat “ampunilah kesalahan kami” tentu tidak ada, karena manusia tidak hidup di dalam dosa, yaitu seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa. Dari hal ini, kita dapat memahami bahwa kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami memang merupakan format kehidupan yang telah dirancang Allah sejak semula. Dengan Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus, Ia mengarahkan orang percaya pada format kehidupan yang memang sudah dirancang Allah sejak semula.

Itulah sebabnya dengan sangat jelas setiap orang percaya harus mengalami proses pemulihan seperti yang telah dimandatkan oleh Tuhan Yesus kepada orang percaya dalam Injil Matius 28:18-20. Proses itulah yang akan mengubah orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, menjadi manusia yang sesuai dengan format awal manusia diciptakan. Kalimat “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku” juga berarti agar semua orang yang percaya kepada Yesus menjadi manusia seperti diri-Nya. Dengan demikian, setiap orang Kristen harus sungguh-sungguh bisa berkeadaan seperti Yesus; jika tidak demikian, berarti Kristen palsu. Ironisnya, banyak orang Kristen bisa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami tetapi tidak berkeberadaan seperti Yesus. Sementara itu, gereja tidak berbicara tegas bahwa sesungguhnya orang Kristen yang hanya mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami—tetapi tidak berkeberadaan seperti Yesus—adalah orang Kristen yang palsu. Tentu saja orang-orang Kristen palsu seperti ini tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Di dalam Kitab Ibrani, Firman Tuhan menunjukkan bahwa Allah sebagai Bapa mendidik orang percaya agar menjadi anak-anak Allah yang sah, yang dalam bahasa Yunaninya: huois. Kalau orang Kristen tidak mengalami proses penggarapan dari Allah atau tidak bersedia diproses oleh Allah, walaupun ia beragama Kristen, sebenarnya mereka adalah anak-anak Allah yang tidak sah. Dalam bahasa Yunaninya, kata “anak-anak Allah yang tidak sah” adalah nothos; tetapi di dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia, diterjemahkan sebagai “anak gampang.” Anak-anak Allah yang sah ditandai dengan kehidupannya yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah, artinya bisa memiliki kekudusan seperti Bapa (Ibr. 12:9-10). Sejatinya, inilah inti dari kekristenan yang sejati yang tidak bisa digantikan oleh yang lain.

Fakta yang tidak bisa dibantah, yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen pada umumnya, jika mereka memanggil Allah sebagai Bapa, tekanannya hanya pada jaminan sebagai anak-anak Allah yang boleh menerima berkat, pemeliharaan, dan perlindungan Allah. Hal ini tampak dari lagu-lagu yang dinyanyikan dan kalimat-kalimat doa yang diucapkan. Mereka tidak memerhatikan konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dipikul orang percaya ketika memanggil Allah sebagai Bapa. Suasana kekristenan semacam ini sudah melekat dalam kehidupan hampir semua orang Kristen yang sejak dilahirkan sudah beragama Kristen. Suasana jiwanya telah terbentuk sedemikian rupa, sehingga jika memanggil Allah sebagai Bapa, asumsinya hanya pada tanggung jawab Allah terhadap dirinya atau hak-hak yang dimilikinya sebagai anak-anak Allah, bukan pada tanggung jawab yang harus dipenuhi sebagai anak-anak Allah, yang harus hidup dalam kekudusan seperti Allah, Bapanya.

Harus diperhatikan kalimat di dalam 1 Petrus 1:17 yang mengatakan bahwa Allah menghakimi semua orang menurut perbuatannya. Jadi, walaupun seseorang adalah seorang Kristen, tetapi kalau perbuatannya tidak sesuai dengan standar kekudusan Allah, maka Allah akan menolak orang itu dan membuangnya dari hadapan-Nya. Tegas sekali di dalam Matius 7:21-23 Yesus berkata: “Enyahlah daripada-Ku, Hai kamu yang yang berbuat jahat atau tidak melakukan kehendak Bapa.” Seharusnya, kita memiliki kegentaran terhadap realitas karakter Bapa yang menghakimi semua orang tanpa memandang muka. Oleh sebab itu, mestinya kita tidak cukup merasa puas hanya dengan menjadi orang Kristen atau merasa memiliki status sebagai anak Allah. Tetapi kita juga harus memeriksa diri kita, apakah kita benar-benar sudah berkeberadaan sebagai anak Allah dengan perilaku mulia dan agung, sesuai dengan yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Yesus atau belum.

Kalimat “tanpa memandang muka” dalam teks aslinya adalah aprosopolemptos yang artinya impartially, without respect of persons (tanpa memihak, tidak menghormati orang-orang). Lebih tepatnya adalah without taking into account a person’s prestige or status (tanpa memperhitungkan prestise atau status seseorang). Hal ini menunjukkan bahwa dalam menghakimi seseorang, Allah tidak menghakimi berdasarkan status yang diakui orang itu, bukan hanya pada pengakuannya, melainkan perbuatan orang itu menunjukkan siapa diri orang tersebut. Kenyataan ini seharusnya membuat kita memiliki kegentaran yang hebat kepada Allah. Kegentaran yang akan memicu kita untuk berjuang memiliki kehidupan yang tidak bercacat cela, yaitu memiliki kekudusan sesuai dengan standar kesucian Allah Bapa.