Tetap Dalam Kemurahan-Nya
31 July 2018

Paulus menunjukkan, bahwa walaunpun bangsa Israel bersungguh-sungguh mencari Tuhan, tetapi karena mereka mau membangun kebenaran sendiri, maka mereka ditolak oleh Allah. Paulus memberi peringatan yang sangat tegas: Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu, Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga (Rm. 11:21-22). Tulisan Paulus ini sangat penting, sebab menunjukkan dan meletakkan dasar teologi mengenai keselamatan, bahwa selalu ada kemungkinan Tuhan menolak orang yang sudah diberi kesempatanuntuk menjadi umat pilihan. Paulus mengancam, jika mereka tidak tetap dalam kemurahan-Nya, maka mereka akan dipotong juga.

Umat pilihan dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Baru, yang mendengar Injil dan memiliki segala kemungkinan untuk bertumbuh mewujudkan keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Tetapi rancangan Allah semula tidak akan terwujud, kalau orang percaya tidak berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Dalam tulisannya Paulus mengatakan: yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga. Kalimat “tetap dalam kemurahan-Nya” harus dipahami dengan benar. Bukan hanya sekadar setia sebagai orang Kristen, tetapi juga tetap terus bertumbuh dalam kebenaran, sebagai murid yang belajar tiada henti. Hal ini sama dengan “tetap menjadi mahasiswa”; bukan berarti hanya berstatus sebagai mahasiswa, tetapi tetap belajar untuk meningkatkan pengetahuan.

Lebih jelas lagi Paulus menulis: Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri (Rm. 11:23-24). Dalam tulisannya ini, Paulus menunjukkan bahwa Tuhan masih memberi kesempatan kepada orang-orang Yahudi untuk dicangkokkan kembali, jika mereka meninggalkan ketidakpercayaan mereka. Seperti Paulus dan orang-orang Yahudi lainnya, juga masih diberi kesempatan untuk menjadi orang percaya. Tetapi sebaliknya, jika orang Kristen yang tadinya berkeadaan tidak sesuai dengan kehidupan umat pilihan, diperkenan menjadi umat pilihan, maka mereka harus hidup dalam kepercayaan yang benar, sehingga bisa berkeadaan berbeda dari keadaan semula sebelum menjadi cabang yang dicangkokkan.

Dalam hal tersebut, orang percaya harus hidup dengan keadaan sebagai orang percaya yang dikehendaki oleh Allah. Kehidupan orang yang diperkenan Allah adalah kehidupan dalam “kepercayaan yang benar”. Hidup dalam kepercayaan yang benar, artinya bukan hanya secara nalar percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias, tetapi juga memiliki pola dan gaya hidup sesuai dengan kehendak Allah, sebagai orang yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yesus. Di sini dibutuhkan usaha yang giat untuk mencapai standar kehidupan sebagai orang yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yesus. Usaha yang giat tersebut, bukanlah perbuatan baik sebagai usaha untuk mencapai dan memiliki keselamatan, tetapi respon terhadap anugerah dalam Yesus Kristus yang disediakan oleh Allah bagi manusia.

Perbuatan baik -bahkan kesempurnaan yang diusahakan untuk dicapai- bukanlah usaha untuk mencapai keselamatan, sebab keselamatan hanya oleh karena korban Yesus di kayu salib. Kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib, maka tidak ada manusia yang bisa masuk surga, sebaik apa pun manusia itu. Tetapi dengan kematian Tuhan Yesus di kayu salib, maka orang yang mengakui dan menerima pengorbanan-Nya dibawa kepada proses dikembalikan ke rancangan semula. Ini adalah perjuangan yang sangat berat. Oleh sebab itu hendaknya orang percaya tidak berpikir, bahwa mencari uang lebih sulit dan berat dibanding dengan usaha untuk menjadi anak-anak Bapa yang melakukan kehendak Bapa.Kalau Firman Tuhan menganjurkan agar orang percaya mendahulukan Kerajaan Bapa di surga, maka itu berarti hal mencari Kerajaan-Nya bukan sesuatu yang mudah.