Terukur
18 October 2020

Play Audio Version

Bagi kita yang sudah menjadi orang Kristen sejak kecil, memanggil Allah sebagai Bapa sudah merupakan kebiasaan yang secara otomatis meluncur dari bibir kita. Biasanya, kita memanggil Allah sebagai Bapa tanpa memiliki pengertian bahwa dengan memanggil Allah sebagai Bapa, kita memikul tanggung jawab yang sangat berat, sebab memanggil Allah sebagai Bapa berarti harus memiliki karakter Bapa di dalam diri kita. Sejujurnya, kita sudah dengan mudah mengucapkan kata “Bapa” bagi Allah, dan mengobralnya begitu rupa tanpa sikap hormat yang patut kepada-Nya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan banyak orang Kristen yang memang sudah menjadi Kristen sejak kecil. Dengan demikian, tanpa kita sadari, kita telah mendegradasi atau membuat merosot nilai sebutan atau panggilan Bapa kepada Allah. Inilah yang membuat orang-orang non-Kristen memandang orang Kristen sembarangan terhadap Allah. Seharusnya, panggilan Bapa bagi Allah disertai dengan perilaku yang benar-benar mulia dan agung, yang melebihi tokoh-tokoh agama mana pun, seperti yang dikatakan oleh Yesus, yaitu memiliki kebenaran atau kelakuan yang baik yang melebihi ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20).

Sekarang, setelah kita mengerti kebenaran ini dan menyadari bahwa kita belum memperlakukan Allah secara patut, kita harus bertobat dan mengubah diri oleh pertolongan Roh Kudus. Selalu ada kesempatan selama kita masih memiliki kesediaan untuk berubah. Firman Tuhan mengatakan bahwa walaupun kita tidak setia, tetapi Allah tetap setia (2Tim. 2:13). Dengan ayat itu, kita tidak bermaksud hendak mempermainkan Tuhan, tetapi kita mau menemukan kesempatan yang Allah berikan kepada kita yang sudah tidak setia, agar kita dapat memulai kehidupan yang baru dalam kesetiaan. Selama Allah masih membuka tangan-Nya untuk menerima kita, selama itu pula kita masih diterima dan Allah mau mengubah kita. Hal ini kita mulai dengan memahami kebenaran yang termuat di dalam Doa Bapa Kami dan menerapkannya di dalam hidup kita secara konsekuen dan konsisten. Dengan hal ini, kita akan terus-menerus mengalami proses pembaharuan yang akan membawa kita kepada kesempurnaan, artinya sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Doa Bapa Kami yang selama ini hanya kita ucapkan, sekarang harus sungguh-sungguh kita pahami isinya, dan kita implementasikan dalam hidup secara konkret dan benar-benar bisa terukur.

Masalahnya adalah bagaimana kita dapat mengukur bahwa kita benar-benar telah mengimplementasikan isi Doa Bapa Kami dengan benar? Ukurannya adalah kejujuran dan kemurnian hati nurani kita. Sebagai anak bagi Allah Bapa kita, kita harus hidup selalu menyukakan hati-Nya, artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Harus ingat istilah “like father like son.” Anak-anak Allah pasti berperilaku seperti Bapanya. Kalau seseorang yang menjadi anak Allah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, pasti jiwanya terganggu dalam bentuk tidak merasa damai sejahtera. Jika dalam hal bertindak selalu sesuai dengan kehendak Allah sebagai Bapa, Allah pasti memberikan kepekaan kepada kita untuk dapat meraba atau merasakan perasaan-Nya. Tentu saja hal ini bisa terjadi atau berlangsung dalam kehidupan orang percaya yang sungguh-sungguh mengasihi Allah dan yang mengalami proses pendewasaan melalui segala sesuatu. Karena Allah memang bekerja melalui segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, agar orang percaya yang mengasihi Dia menjadi serupa dengan Yesus. Menjadi serupa dengan Yesus juga di dalam kepekaan mengerti kehendak Allah untuk dilakukan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, yaitu pekerjaan yang dipercayakan Allah Bapa kepada masing-masing individu.

Dengan demikian, menjadi anak Allah bukanlah sekadar sebuah wacana atau teori dalam sistematika teologi, namun suatu realita kehidupan yang dialami secara konkret. Kalau kehidupan sebagai anak Allah hanya sebuah wacana atau teori dalam sistematika teologi, itu berarti kehidupan anak Allah yang fantasi. Banyak orang Kristen yang sebenarnya belum memiliki kehidupan sebagai anak-anak Allah secara konkret. Pada umumnya masih dalam tataran wacana atau teori. Tidak heran kalau kualitas hidup mereka tidak berbeda dengan anak-anak dunia. Hal ini bukan hanya terjadi dalam kehidupan jemaat awam, melainkan juga terjadi dalam kehidupan para teolog, yaitu para mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi dan para dosennya, serta para rohaniwan pemimpin gereja.

Betapa cakapnya para mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi dan para dosennya, serta para rohaniwan pemimpin gereja berbicara mengenai kehidupan sebagai anak-anak Allah. Tetapi, mereka tidak memperagakan kehidupan Yesus yang nyata yang dapat dirasakan orang di sekitarnya. Tidak sedikit mereka yang berpikir bahwa kalau sudah bisa berbicara mengenai hal kehidupan sebagai anak Allah, berarti mereka sudah memiliki kehidupan itu. Padahal, sering kali apa yang mereka ucapkan atau mereka ajarkan sangat bertolak belakang dengan kenyataan hidup yang mereka jalani. Ironisnya, tidak banyak mereka yang menyadari keadaan tersebut, sehingga berlarut-larut gereja dalam kemerosotan seperti gereja-gereja di Eropa dan beberapa tempat yang lain, seperti di wilayah bagian Turki yang dahulunya adalah pusat kekristenan, sekarang terkikis habis atau nyaris punah.