Tergantung Respon Individu
28 July 2018

Pola berpikir keberagamaan Yahudi tersebut, sebenarnya tidak salah, jika seandainya Yesus belum datang ke dunia. Mereka memang memiliki standar hidup yang hanya seperti itu, dan Tuhan mengizinkan atau memperkenankan demikian. Tetapi setelah ada Injil, maka pola keberagamaan seperti itu harus ditinggalkan. Mereka harus mengenakan Kekristenan yang diteladankan oleh Yesus. Melakukan hukum Taurat diganti dengan melakukan hukum kasih. Hukum kasih adalah pikiran, dan perasaan Tuhan sendiri, sebab Allah kasih adanya. Percaya kepada Yahwe diganti dengan percaya kepada Pribadi Yesus yang memang adalah Yahwe sendiri, dengan mengikuti gaya hidup-Nya. Percaya kepada Yesus berarti hidup seperti Dia hidup. Jika tidak, berarti belum atau tidak percaya.

Kenyataannya dewasa ini, ada pengajaran yang memudahkan keselamatan terjadi atau berlangsung dalam hidup orang Kristen. Hal ini adalah sebuah penyesatan yang sangat membahayakan bagi orang Kristen, mereka mengajarkan bahwa iman sejajar dengan pengaminan akali, dan menurut mereka yang sudah memiliki pengaminan akali tersebut, pasti sudah memiliki keselamatan atau masuk surga. Mereka juga mengajarkan bahwa selama hidup di bumi ini, orang-orang tersebut pasti diberkati dengan pemenuhan kebutuhan jasmani -dari kesembuhan, berkat materi dan lain sebagainya- dan nanti setelah mati, mereka berhak masuk ke dalam surga. Ini adalah jalan keselamatan yang mudah. Jalan keselamatan yang mudah bukanlah ajaran Injil yang benar dan murni.

Pada dasarnya penolakan bangsa Israel atau sikap membantah -yang sama dengan memberontak- karena mereka mau membangun kebenarannya sendiri, yaitu kebenaran berdasarkan perbuatan (sesuai dengan hukum Taurat). Paralel dengan hal ini, banyak orang Kristen mau membangun kebenarannya sendiri. Mereka mau menjadi orang Kristen tanpa melepaskan percintaannya dengan dunia ini. Mereka berpikir, bahwa Tuhan tidak terganggu dengan gaya hidup yang menjadi standar mereka tersebut. Kekristenan yang mereka kenakan seperti itu adalah Kekristenan yang palsu. Itulah Kekristenan yang telah dimodifikasi dan dikawinkan dengan semangat dan gairah zaman ini. Jika hal tersebut berlangsung terus menerus, maka pada akhirnya mereka tidak akan dapat terlepas dari belenggu percintaan dunia, sehingga mereka tertawan oleh kuasa kegelapan sampai selamanya. Walaupun mereka Kristen, mereka bisa termasuk orang yang terbuang ke dalam api kekal.

Meneguhkan penjelasan di atas, Paulus mengatakan: Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, seperti ada tertulis: “Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.” Dan Daud berkata: “Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perangkap, penyesatan dan pembalasan bagi mereka. Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk.” (Rm. 11:7-10). Satu hal yang dikemukakan Paulus dalam teks ini adalah bahwa menolak Yesus adalah sebuah pemberontakan atau yang sama dengan kejahatan. Dan orang yang dengan sengaja menolak Yesus, menjadi buta terhadap kebenaran.

Bagi orang-orang Kristen sekarang, harus diketahui bahwa belum tentu dengan menganut agama Kristen dan pergi ke gereja, berarti seseorang sudah menerima Yesus dengan benar. Kalau orang-orang Kristen seperti ini tidak mengikuti jalan Tuhan, yaitu hidup seperti yang ditunjukkan Tuhan atau hidup seperti Diri-Nya, maka berarti orang-orang Kristen tersebut sama dengan menolak Yesus. Inilah orang-orang yang menerima agama Kristen, tetapi menolak Yesus. Bisa dimengerti, kalau di akhir zaman nanti Tuhan menolak orang-orang yang mengaku sudah memercayai Dia. Orang-orang yang ditolak oleh Yesus adalah orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa.

Lebih tegas lagi Paulus mengemukakan bahwa pemberontakan dan penolakan seseorang kepada Yesus, bukan karena Allah yang mengatur dan membuatnya demikian, tetapi karena kehendak bebas setiap individu. Dalam suratnya Paulus mengatakan: Maka aku bertanya:Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu (Rm. 11:11). Paulus menyatakan dalam tulisannya ini, bahwa mereka tidak harus jatuh, artinya mestinya mereka membangun integritas yang tinggi, sehingga tidak mudah digoyahkan oleh apa pun juga.

Allah tidak dengan sengaja menentukan dan membuat mereka jatuh atau binasa. Tetapi karena mereka sendiri memilih untuk melanggar kehendak Allah. Dengan demikian, sangatlah keliru kalau orang berpandangan bahwa Tuhan yang menentukan sekelompok orang untuk selamat, dan yang lain tidak selamat. Keselamatan seseorang sangat tergantung dari respon masing-masing individu, bukan karena penentuan atau penetapan dari Allah.

Selanjutnya Paulus mengatakan: Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka. Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? (Rm. 11:12-15). Kalau bangsa-bangsa di luar Yahudi, juga menerima keselamatan, hal itu karena memang keselamatan disediakan bagi semua orang percaya, baik orang Yahudi maupun non Yahudi. Paulus sengaja mengangkat hal ini ke permukaan, supaya membangkitkan kecemburuan orang-orang Yahudi, kecemburuan tersebut diharapkan dapat membangkitkan keinginan menerima Yesus.