Tergantung Respon Individu
27 May 2019

Satu hal yang pasti bahwa Yudas berkhianat bukan atas rekayasa siapa pun, apalagi oleh Allah, hanya demi proses keselamatan agar dapat berlangsung. Yudas berkhianat kepada Yesus atas keinginannya sendiri dari kehendak bebasnya. Kejahatan Yudas sebenarnya dimulai dari kebiasaannya suka mencuri uang. Alkitab menulis bahwa ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh. 12:6). Dalam hal ini kita harus mengerti bahwa seseorang tidak mungkin menjadi orang jujur mendadak atau menjadi pencuri mendadak. Kebiasaan Yudas mencuri dan mengingini uang untuk kepentingannya sendiri inilah yang membuka peluang Iblis masuk dalam kehidupannya. Iblis tidak akan masuk dalam kehidupan seseorang kalau seseorang tidak memberikan peluang atau pangkalan di dalam dirinya (Ef. 4:27). Hal ini meneguhkan bahwa Yudas memilih nasibnya sebagai pengkhianat. Walau hal ini tidak direncanakan oleh Yudas sendiri sebelumnya, tetapi kebiasaan jahatnya menggiringnya kepada keputusan itu. Jadi, Yudas yang menentukan nasibnya sendiri, bukan orang lain, apalagi Tuhan.

Di dalam Alkitab, terdapat beberapa teks yang menunjukkan bahwa Yudas dimasuki oleh Iblis (Luk. 22:3; Yoh. 13:27). Tidak mungkin Iblis diizinkan oleh Tuhan masuk dalam diri Yudas tanpa alasan atau dasar yang sudah ada sebelumnya. Harus diketahui, bahwa memang Yudas sudah terbiasa “bermain-main” dengan Iblis melalui ketidakjujurannya (Yoh. 12:6; 13:2). Langkah-langkah panjang Yudas inilah yang membawa Yudas kepada keputusan tragisnya, yaitu menjual Tuhan Yesus kepada imam-imam kepala (Mat. 26:14; Mrk. 14:10; Luk. 22:4). Kebiasaan ini memantapkan keadaan Yudas sebagai salah satu orang di sekitar Tuhan Yesus yang memang sudah dinubuatkan berkhianat kepada Gurunya. Ini adalah pilihan Yudas sendiri.

Yudas juga seperti murid-murid yang lain, yang selalu mendengar pengajaran Tuhan. Yang di dalamnya termasuk nasihat, peringatan, larangan, dan lain sebagainya. Tentu saja semua itu berlangsung atau diberikan kepada Yudas bukan sebagai sandiwara. Tidak mungkin sementara itu berlangsung, hati Yudas dikeraskan oleh Allah agar dia berkhianat kepada Yesus, karena memang dia telah ditetapkan sebagai anak kebinasaan. Yudas memang selalu mendengar pengajaran Tuhan Yesus, tetapi hatinya sudah tertambat kepada uang. Mata hatinya telah dibutakan oleh hasratnya terhadap keinginan materi. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan Tuhan Yesus di dalam Lukas 16:11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Kalimat “harta yang sesungguhnya” dalam bahasa aslinya adalah alithinon yang artinya kebenaran (Ing. Truth).

Jadi, kalau seseorang sudah tidak benar soal harta -artinya hati melekat kepada kekayaan- maka ia tidak akan dapat mengerti Firman Tuhan walaupun diajar tiap hari. Hal ini terjadi atas Yudas, sehingga kebutaan mata rohani Yudas bukan karena hatinya dikeraskan oleh Tuhan, tetapi karena ia memilih mencintai harta. Inilah yang dimaksud Paulus yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Pikirannya tidak dibutakan oleh Tuhan, tetapi oleh ilah zaman ini.

Roma 1:16-17 mengatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, tetapi kenyataannya tidak sedikit yang mendengar Injil tetapi tidak selamat, termasuk Yudas. Tentu hal ini terjadi bukan karena Injil kurang berkuasa, sehingga Yudas akhirnya berkhianat kepada Yesus. Tetapi karena Yudas lebih memilih untuk mencintai uang dari pada menjunjung tinggi kebenaran Firman Tuhan. Manusia yang mendengar Injil berperan dalam menerima dan mengalami keselamatan yang Tuhan sediakan atau sebaliknya. Kekuatan Injil dalam implikasi konkret kehidupan ditentukan oleh respon individu yang mendengar Injil.

Dalam Yesaya 55:11, dinyatakan: “…demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Dari pernyataan teks ini dinyatakan dengan jelas bahwa Firman Tuhan yang disampaikan Tuhan tidak akan sia-sia, artinya tidak pernah gagal. Tetapi pada kenyataannya banyak orang yang mendengar Firman Tuhan, baik umat Perjanjian Lama maupun umat di zaman anugerah, ada yang menolak sehingga keselamatan tidak mereka alami. Kuasa Firman tidak diragukan lagi, sangat luar biasa. Tetapi kembali kepada manusianya, apakah mereka menerima bersedia merespon Firman tersebut dengan baik atau tidak. Sebab kalau dengan kehendaknya sendiri menolak, maka kuasa Firman yang berkuasa tersebut tidak akan dapat dialami.