Tergantung Individu
05 August 2019

Dalam tatanan yang Allah ciptakan atau tentukan, pilihan dan keputusan yang dapat dilakukan manusia tidak ditentukan oleh penyebab di luar dirinya, namun ditentukan oleh motif dari diri sendiri, yaitu hasil dari pertimbangan nalar atau rasio yang dimilikinya. Adapun kemampuan manusia mempertimbangkan sesuatu yang menghasilkan sebuah keputusan dan pilihan tergantung dari kemampuannya berpikir. Adapun kemampuan berpikir atau berlogika yang dimiliki seseorang sangat ditentukan oleh apa yang masuk ke dalam pikirannya melalui jendela mata dan telinganya atau panca inderanya, serta segala sesuatu yang dialaminya.

Itulah sebabnya setiap individu diberi kebebasan dalam memilih apa yang masuk ke dalam pikirannya. Dalam hal ini kehendak bebas masing-masing individu memainkan perannya setiap hari, sebab ada banyak pilihan yang diperhadapkan kepada masing-masing individu. Pilihan tersebut adalah “menu” apakah yang dikonsumsi untuk jiwanya. “Menu” yang dikonsumsi menentukan kualitas pikirannya. Kualitas pikiran menentukan kualitas seluruh hidupnya. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa masing-masing individu menentukan kualitas hidupnya.

Dengan demikian, kita harus menerima fakta adanya kehendak bebas yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang menentukan kualitas hidupnya sendiri. Kalau seseorang tidak mengakui fakta ini, berarti ia menjadi mistis atau berpikir secara supranatural, seakan-akan tindakan manusia ditentukan oleh faktor yang bersifat adikodrati. Faktanya memang ada kecenderungan orang beragama yang berpikir mistis seperti ini. Itulah sebabnya mereka tidak memahami kebenaran yang murni berdasarkan Alkitab mengenai kehendak bebas tersebut. Mereka mengajarkan bahwa di balik kehendak manusia terdapat campur tangan Allah (secara mistis) dalam memengaruhi dan mengendalikan tindakan manusia. Oleh karena kehendak manusia dihubungkan dengan intervensi Allah di balik keputusan manusia, maka doktrin ini menjadi absurd (tidak masuk akal dan kacau).

Tidak dapat disangkal, bahwa kitab Kejadian telah meletakkan landasan pengertian kebebasan kehendak yang benar. Kitab Kejadian mengungkapkan hal ini dengan sederhana, jujur, jelas, dan cerdas. Allah menaruh dua pohon di tengah Taman Eden, menunjukkan dengan sangat jelas bahwa manusia diberi kehendak bebas. Dalam kehendak bebasnya, manusia harus memilih antara kehidupan atau kematian dari kerelaan kehendaknya, apakah manusia mau taat atau tidak taat. Allah tidak mengendalikan nasib manusia; manusia mengendalikan nasibnya sendiri.

Dalam pengertian bebas yang proporsional atau natural, Allah harus membiarkan manusia menentukan sendiri pilihannya, tanpa intervensi dari pihak mana pun, juga dari pihak Allah. Dalam pengertian bebas yang benar, Allah juga membiarkan ular yang adalah personifikasi Iblis masuk ke dalam taman dan mencobai serta membujuk manusia untuk berbuat sesuatu, yaitu melanggar apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh Adam (Kej. 2:16-17; 3:1-14). Allah tidak berusaha menghindarkan manusia dari pencobaan tersebut, karena Allah memberi kehendak bebas kepada manusia. Allah memberi nasihat, peringatan, dan ancaman kalau manusia berani melanggar Firman-Nya, tetapi pada akhirnya manusia sendiri yang harus mengambil keputusan. Bahkan Allah juga tidak akan mencegah manusia berbuat salah kalau memang itu yang menjadi keputusannya. Inilah konsekuensi menjadi makhluk yang diciptakan dengan kehendak bebas. Tidak ada seorang pun manusia yang bebas dari tatanan ini.

Dalam pengertian kebebasan yang proporsional, termuat makna dimana manusia harus mempertimbangkan sendiri segala sesuatu yang hendak dilakukan dan dirinyalah yang menjadi pengambil keputusan akhir (Kej. 3:6). Sebelum makan buah yang dilarang tersebut, mereka sudah mempertimbangkannya. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan makan buah tersebut adalah keputusan yang lahir dari pertimbangkan mereka sendiri. Allah memberi nasihat, peringatan, dan bila perlu teguran, tetapi keputusan akhir tetap pada manusia. Keputusan tersebut menentukan keadaan manusia di kemudian hari, tanpa bisa dibatalkan.

Allah tidak pernah menjadi kausalitas atau penyebab kejahatan atau dosa. Allah tidak pernah menetapkan manusia untuk jatuh dalam dosa dan melakukan kejahatan. Dalam hal ini, sangat jelas tak terbantahkan bahwa Allah tidak mengendalikan manusia. Manusia mengendalikan dirinya sendiri. Jadi, kalau manusia melakukan sebuah tindakan, itu bukan karena rekayasa Allah atau skenario Allah. Memang Allah yang menciptakan kemungkinan ciptaan-Nya bisa melakukan kesalahan, tetapi bukan dirancang untuk (harus) melakukan kesalahan. Kesalahan sangat bisa terjadi karena peluang untuk itu selalu ada. Tetapi hendaknya manusia memilih untuk tidak berbuat salah.