Tempurung Doktrin
17 May 2020

Play Audio Version

Banyak orang Kristen yang meyakini bahwa mereka telah memiliki kepastian masuk surga hanya karena merasa sudah percaya kepada Yesus. Inilah yang mereka pahami sebagai kepastian keselamatan. Mereka memiliki keyakinan kepastian masuk surga hanya dibangun dari nalar teologi, atau pemahaman mengenai suatu pengajaran. Sebenarnya, keyakinan tersebut hanya sebuah fantasi. Secara tidak langsung, menggiring kehidupan pada fantasi dalam relasinya dengan Allah. Dalam hal ini, seakan-akan persoalan kehidupan cukup diselesaikan dengan moral yang baik dan pengertian-pengertian terhadap doktrin atau pengajaran Alkitab. Kelompok ini biasanya berasumsi kuat bahwa pengajaran yang dipandang benar oleh mereka merupakan ciri dari kekristenan yang benar.

Orang-orang demikian akan mudah menghakimi dan memandang orang yang tidak sealiran dengan mereka sebagai sesat dan bidat. Biasanya, mereka juga memandang bahwa mereka adalah pewaris kebenaran yang sah dari gereja masa lalu, dan sekarang mereka merasa sebagai “penjaga kebenaran.” Tidak heran kalau mereka begitu percaya diri, bahwa mereka di pihak Tuhan dan merasa sedang membela Tuhan dengan melawan “musuh Tuhan,” yaitu orang Kristen yang tidak sepaham dengan mereka. Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi arogan, padahal mereka hanya mensakralkan pandangan para teolog masa lalu dan berbagai keputusan konsili yang seharusnya tidak boleh disejajarkan dengan otoritas Alkitab. Mereka telah terpenjara dalam ruang tempurung doktrin yang mestinya pengajaran-pengajaran atau doktrin-doktrin tersebut harus terus direvisi dan dibaharui, seiring dengan perjalanan sejarah kehidupan manusia dan sejarah gereja Tuhan di dunia yang selalu berubah dan belum selesai.

Biasanya, mereka juga dengan ganas dan bengis menyerang orang-orang Kristen lain. Mereka menganggap orang yang tidak memiliki pemahaman yang sama dengan mereka adalah orang sesat yang membahayakan keselamatan orang lain, padahal mereka sendiri belum tentu juga selamat. Mereka hanya merasa sudah selamat berdasarkan keyakinan dalam nalar yang dibangun dari sistematika doktrin yang mereka miliki. Tidak sedikit dari antara mereka yang setelah menyerang ajaran orang lain kemudian menyerang pribadi orang yang mereka pandang sebagai sesat atau bidat, yang mereka samakan sebagai “anak-anak setan.” Itulah sebabnya, mereka merasa sedang membela Tuhan. Secara tidak langsung atau secara langsung, terjadi praktik ad hominem; sesuatu yang benar-benar melanggar ajaran Yesus. Tetapi, mereka merasa bahwa hal itu bukan suatu dosa.

Dengan gaya hidup seperti itu, mereka mengarahkan jemaat kepada kekristenan yang didominasi atau bernuansa “olah nalar” mengurai teologi. Tentu ini bukan salah sama sekali, melainkan menjadi tidak lengkap kalau mereka hanya terfokus pada teologi secara eksplisit, yaitu apa yang diperoleh dan diperkarakan secara akademis atau olah nalar. Seharusnya, orang percaya juga memiliki pengalaman dengan Allah secara riil, sebab Allah adalah realitas. Sehingga orang percaya dapat memiliki pemahaman mengenai Allah dari pengalaman dalam perjalanan hidup secara konkret. Maka, setiap orang percaya dapat mengenal Allah juga secara implisit, dan membangun kehidupan moralnya dalam standar anak-anak Allah seperti Yesus.

Orang-orang yang merasa diri sudah benar tersebut di atas, memandang bahwa teologi yang mereka pahami adalah paling objektif Alkitabiah. Padahal, mereka hanya meneruskan apa yang diajarkan oleh para teolog dan pengajar sekolah tinggi teologi atau seminari, yang adalah warisan dari pengajaran masa lalu. Kadang-kadang, pandangan teologi para teolog mereka dibuat terus menjadi up to date, tetapi Allah secara riil tidak dialami. Ironisnya, Allah tidak “di-update.” Ini berarti Allah diperlakukan seperti barang di dalam museum. Allah yang mereka sebut-sebut dan menjadi objek pujian, penyembahan, serta doa adalah Allah di dalam fantasi dan di dalam doktrin; bukan Allah yang riil yang dialami secara konkret. Biasanya, mereka miskin dalam kesaksian hidup setiap harinya berjalan dengan Allah. Bagi mereka, kesaksian pengalaman riil dengan Allah selalu dipandang sebagai subjektivitas yang membahayakan iman Kristen, padahal justru itu jantung implementasinya.

Mereka tidak mau mengerti dan tidak mau menerima bahwa Allah yang hidup, Mahaagung dan Mahabesar, di zaman ini juga memberi Diri bergaul dengan orang percaya yang mengasihi Dia dari berbagai denominasi lain. Allah juga memberi kecerdasan rohani (spiritual quotient) kepada orang-orang yang belajar dan terus-menerus menumbuhkan pengalaman rohaninya dengan Allah, untuk memiliki pengertian yang benar mengenai Allah guna memahami kehidupan secara komprehensif. Sesungguhnya, banyak orang percaya di luar denominasi mereka—bukan saja juga mampu berteologi dari perspektifnya yang benar—melainkan juga hidup tidak bercacat dan tidak bercela dan selalu belajar untuk sungguh-sungguh dapat sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Hidup mereka juga berdampak nyata bagi banyak orang, serta terus-menerus memikirkan bukan saja masa depan gereja Tuhan, melainkan juga bangsa dan negaranya, serta masyarakat.