Tatanan Bekerja
09 September 2019

Salah satu hakikat yang dimiliki Allah adalah Allah yang bekerja. Allah bukanlah Allah yang tidak berkehendak, bukan Allah yang diam tanpa karya. Ia adalah Allah yang aktif berkarya dan bekerja. Dari apa yang dikemukakan dalam Alkitab yang tertulis dalam kitab Kejadian 1-2, didapati kebenaran bahwa ternyata Tuhan adalah Seniman dan Arsitek Agung. Tuhan adalah pribadi yang memiliki kehendak dan gagasan-gagasan. Sebagaimana Allah adalah Allah yang bekerja, maka manusia juga memiliki hakikat sebagai pekerja. Manusia adalah makhluk yang bisa aktif berkarya sebagaimana Allah adalah Allah yang aktif berkarya. Karena manusia memiliki hakikat ini dengan segala potensi yang Allah berikan, maka Allah mempunyai rencana kekal atas manusia (Kej. 2:15).

Pola rencana kekal itu sudah ditunjukkan di kitab Kejadian, yaitu manusia diciptakan untuk bersekutu, melayani, dan mengabdi kepada Tuhan. Manusia dijadikan kawan sekerja Allah. Inilah tatanan yang ada pada Allah. Allah menempatkan ciptaan-Nya sebagai kawan sekerja. Hal ini menjadi tujuan hidup satu-satunya yang manusia harus miliki. Fakta ini yang membedakan manusia dari hewan atau makhluk lain. Hewan atau makhluk lain bergerak hidup hanya sekadar memenuhi siklus kehidupan sesuai dengan habitatnya. Tetapi manusia bekerja dengan kerelaan, kesadaran, dan kesengajaan sebagai pengabdian kepada Tuhan, sebagai kawan sekerja Allah yang sehakikat dengan-Nya dalam kerja.

Oleh karena dosa, manusia tidak lagi hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan secara benar. Pada umumnya manusia hidup dalam persekutuan dengan dunia dan Iblis. Manusia hidup dalam pemberontakan terhadap Allah. Selanjutnya, manusia melayani diri sendiri. Ini berarti manusia telah kehilangan maksud dan tujuan dirinya diciptakan. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, agar manusia hidup hanya untuk mengabdi atau melayani Tuhan. Bila seseorang memiliki keselamatan dalam dirinya, maka ia akan menunjukkan buah pertobatan dan kelahiran barunya dengan pelayanan yang benar kepada Tuhan. Pelayanan berarti segala sesuatu yang dikerjakan semua untuk kepentingan Tuhan. Manusia bekerja dalam berbagai profesi dan bidang ditujukan bagi kepentingan Tuhan.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki keberadaan seperti Allah sendiri, yaitu segambar dengan Allah (Imago Dei). Salah satu hakikat yang dimiliki Allah adalah bahwa Allah adalah Allah yang bekerja. Allah bukanlah Allah yang tidak berkehendak, bukan Allah yang diam tanpa karya. Ia adalah Allah yang aktif berkarya, penuh inisiatif, dan bekerja. Demikianlah, sebagaimana Allah adalah Allah yang bekerja, maka manusia juga adalah manusia yang bekerja. Kerja merupakan unsur hakikat manusia yang dijadikan menurut gambar Allah (the nature of man is a worker).

Oleh karena kerja adalah suatu unsur hakikat manusia, maka kerja itu juga merupakan perintah Allah. Allah dapat memerintahkan manusia untuk bekerja sebab manusia memiliki potensi dan natur atau kodrat demikian. Oleh karena manusia adalah seorang pekerja, maka bumi ini diciptakan Tuhan dalam keadaan yang “harus dan masih diteruskan”. Manusia menerima mandat dari Tuhan untuk mengelola bumi ini (Kej. 2:15). Ini bukan berarti Allah tidak mampu menyelesaikan atau meneruskan pekerjaan-Nya. Di sini Allah melibatkan manusia sebagai pekerja untuk bekerja mengelola hasil karya-Nya. Bila manusia tidak dilibatkan untuk bekerja, berarti Allah membunuh hakikat manusia itu sendiri. Perintah kerja dari Tuhan untuk manusia merupakan petunjuk bahwa Tuhan konsekuen dengan maksud-Nya menjadikan manusia sebagai kawan sekerja-Nya dalam mengelola alam semesta ini.

Manusia bekerja mengembangkan diri bertalian dengan fasilitas alam semesta yang Tuhan telah ciptakan. Inilah yang disebut sebagai mandat untuk berbudaya. Oleh karena manusia yang diciptakan Allah adalah seorang pekerja, maka kerja mempunyai tempat di dalam rencana Allah yang agung. Dunia ini diciptakan dalam keadaan yang belum dikerjakan, maka dari itu diperlukan tangan manusia yang harus mengelolanya (Kej. 1:27-28; 2:5). Oleh sebab itu sebaiknya tidak berpikir bahwa ketika Adam dan Hawa di Eden mereka hanya makan minum tanpa kerja. Ketika manusia memberi nama binatang, yaitu tatkala Allah membawa semua binatang untuk dinamai oleh manusia, Alkitab membuktikan bahwa di Eden pun manusia sudah mulai bekerja (Kej. 2:19-20). Selanjutnya, kerja dan seluruh hidup manusia bukan hanya dikaitkan dengan karya penciptaan, tetapi juga karya keselamatan dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini manusia bukan hanya menjadi kawan sekerja Allah dalam meneruskan karya penciptaan tetapi juga meneruskan karya keselamatan dalam Yesus Kristus sampai ke ujung bumi.